45

135 2 0
                                        

"Jadi gimana, Ar, lo udah siap kan?"
Aryan sedikit mengembangkan senyum. Ya, hanya sedikit.

Pandangannya menatap lurus ke depan entah apa yang laki-laki itu pikirkan.

"Gue harus gimana, ya, Al?"

Alya mengernyit. "Udahlah, Ar, lo jangan mikir yang macem-macem dulu, kalo emang posisi ini udah jalan lo, pasti semua bakal dipermudah kok, percaya deh sama gue."

"Lanjut makan aja, keburu bel," ujar Alya dan keduanya melanjutkan menghabiskan makanannya.

Saat ini mereka tengah makan siang di kantin sekolah, waktu pelajaran sudah selesai sejak dua puluh menit yang lalu. Namun masih ada beberapa siswa yang terlihat di sekolah.

"Hai, gue boleh gabung, nggak?" celetuk seseorang menghampiri mereka.

Dia adalah Karin, siswa baru yang sudah lumayan dekat dengan Alya.

"Oh, boleh kok, sini gabung aja,"

Setelahnya Karin mendudukkan dirinya di samping Alya. "Lo udah makan, ikut makan bareng, yuk." tawar Alya.

"Gue udah makan kok, iya lanjut aja gapapa. Gue kesini mau ngembaliin duit cowok lo,"

Aryan dan Alya bersitatap sebentar sebelum mengalihkan pandang pada Karin yang sibuk dengan tasnya. "Lima puluh ribu, kan," ucapnya sembari menyodorkan selembar uang pada Aryan.

"Nggak usah diganti juga nggak apa-apa kali,"

"Nggak apa-apa, gue nggak enak punya hutang sama orang,"

"Yaudah, gue terima, ya, makasih," ucap Aryan pada akhirnya, ia tidak mau memperpanjang masalah.

Alya yang tidak tahu apa-apa hanya diam menyaksikan keduanya. Setelah itu Karin berpamitan untuk segera pulang karena ada urusan. Seperginya gadis itu, Alya masih diam ia belum ingin mengutarakan isi hatinya. Sebenarnya ia juga penasaran dengan hubungan Karin dan Aryan.

"Kenapa muka lo?"

"Nggak apa-apa, emang kenapa?"

"Masalah Karin tadi, sebelumnya kita nggak kenal tapi waktu gue di rumah sakit gue nggak sengaja ketemu dia, terus dia lagi butuh uang dan minjem ke gue, yaudah gue kasih aja," jelas Aryan.

"Gue cuma ngerasa kasihan aja sih sama dia,"

Alya mengangguk mengerti, setidaknya hatinya sudah sedikit tenang atas penjelasan Aryan itu.

"Alya, jangan makan sambal banyak-banyak, lo tuh nggak bisa makan pedes," ucap Aryan sambil menukar mangkok baksonya. Ia tahu gadis di depannya itu lemah dalam hal makanan pedas.

Alya mengerucutkan bibirnya, padahal ia hanya ingin mencoba makan pedas tapi selalu saja teman yang satunya ini melarangnya.

"Apaan sih, Ar, gue cuma pengen aja dikit masa nggak boleh,"

"Nggak ada dikit-dikit, kesehatan lo lebih penting,"

Dengan berat hati akhirnya Alya memakan bakso tanpa sambal itu. Ia tahu jika tubuhnya tidak bisa berdamai dengan rasa pedas dan hanya Aryan lah yang selalu mengingatkan akan hal itu.

"Eh gue ke toilet bentar, ya," ucap Aryan dan mendapat anggukan dari Alya.

Suasana sekolah sudah semakin sepi, hanya ada beberapa siswa yang masi berkeliaran entah apa yang mereka kerjakan. Hujan juga mulai turun, sepertinya sore ini akan lebih dingin dari biasanya.

Alya membayangkan tentang pemilihan ketua OSIS besok lusa. Ia berharap Aryan bisa terpilih dan mengemban amanah sebagai ketua OSIS itu, namun di satu sisi ia juga belum siap untuk berjauhan dengan laki-laki itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 28, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ARYAN [ Revisi ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang