39

129 48 100
                                        

Disinilah mereka berada, di sebuah warung mie ayam yang terlihat ramai pembeli.

"Pak, mie ayamnya dua sama teh hangat dua," ucap Aryan dan mendapat acungan jempol dari si penjual.

Sejak mendudukan pantatnya pada kursi plastik itu pandangan Alya tidak lepas dari seorang anak dan ibu yang terduduk di pinggiran toko. Letaknya tidak terlalu jauh hingga Alya mampu melihatnya.

Aryan yang menyadari fokus Alya pada sesuatu, mengikuti arah pandang gadis itu. "Lo kenapa?"

"Gua jadi sedih lihat mereka, Ar," ungkapnya. Mata gadis itu sangat menunjukkan rasa kasihannya. Aryan yang mengetahui itu hanya menganggukkan kepala seakan mengerti dengan suasana hati Alya.

"Eh, lo mau kemana?"

Tiba-tiba saja Alya bangkit dan menghampiri ibu serta anak tersebut. Aryan yang bingung lantas memilih mengikuti Alya.

Alya berjongkok di hadapan ibu itu. "Ibu sudah makan?" tanyanya dengan lembut.

"Belum, Dek. Ibu belum ada uang?" Suaranya rendah dengan segala kepiluan.

Ekor mata Alya menatap seorang anak kecil yang sepertinya masih duduk di sekolah dasar. Masih kecil tapi sudah merasakan sulitnya hidup seperti itu.

"Ibu sama adek makan dulu ya, kita makan sama-sama di sana," ucap Alya sambil menunjuk kedai mie ayam.

Wajah sumringah itu terlihat jelas sesaat setelah Alya mengakhiri kalimatnya.

"Ayo, Bu, aku udah lapar," rengek sang anak menarik tangan ibunya.

Ibu itu menurut dan mereka menuju tenda kedai tersebut dengan wajah cerah. Lain dengan Aryan yang sedari tadi sudah merasa bangga pada Alya. Gadis itu sudah berhasil membuatnya terpana dengan segala perbuatan sederhananya.

Aryan mengembangkan senyum sembari menatap Alya lekat, Alya yang sadar diperhatikan balik menatap Aryan penuh tanya.

Kedua pasang mata mereka bertemu, detik berikutnya Aryan mengangguk sekilas entah apa yang ia pikirkan. Alya merasa canggung jika sudah melihat tatapan Aryan yang sulit diartikan seperti itu.

Sembari menunggu pesanan datang mereka berbincang hangat dan lebih membahas masalah yang memiliki konteks ringan. Mereka berdua tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti mendewasakan disini.

Hingga perbincangan itu sedikit berubah ketika anak kecil yang telah diketahui bernama Deni itu mengeluarkan suara.

"Kakak-kakak ini pacaran ya?" tanyanya kelewat polos.

Keduanya sama-sama diam, hanya lirikan mata yang mereka lakukan. Seolah mencari cara untuk mengakhiri pembicaraan yang sebenarnya masih akan dimulai.

"Hustt, nggak boleh nanya kayak gitu?" ucap ibunya menginterupsi. Sang anak masih menatap Aryan dan Alya secara bergantian.

Ibu itu berdeham karena merasa keadaan yang semakin canggung. "Maafin Deni, ya?" ujarnya.

Aryan tersenyum, "nggak papa kok, Bu. Namanya juga anak kecil," ucapnya memaklumi.

Setelahnya makanan datang dan seketika fokus mereka berhasil teralihkan. Begitu juga dengan Deni yang sekarang sudah sibuk dengan makanannya.

Suasana kembali mencair karena obrolan yang sengaja Aryan bahas. Hal itu membuat Alya kembali merasakan kenyamanan. Sebuah senyum mengembang sempurna di bibirnya. Tidak dapat dipungkiri setelah pertanyaan yang dilontarkan Deni membuatnya merasa canggung. Tiba-tiba saja ia dipaksa berpikir dengan pertanyaan itu.

"Kenapa Deni nggak melanjutkan sekolah, Bu?" Pertanyaan itu berhasil membuat Alya tersadar dari pikirannya.

Ia mendongak mengikuti Aryan yang menatap ibu itu seakan menunggu jawaban.

ARYAN [ Revisi ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang