Happy reading ✨🥀
[][][][][]
Pagi pagi sekali Aldebaran sudah di buat pusing karena mendadak kerabat mama Rosa meninggal yang membuat mama Rosa harus pergi untuk melayat.
Sedangkan Kiki, ia sedang berbelanja bahan makanan yang membuat Aldebaran pusing harus menyiapkan makanan.
Bukan, bukan karena pusing tidak ada makanan. Namun pusing karena ia tidak bisa memasak, untuk membedakan antara garam dan gula pun sangat menyusahkan.
Aldebaran menatap ponselnya yang kini sedang menampilkan video memasak nasi goreng. Di mulai dari menyalakan kompor hingga memasak, ia lebih baik lembur di kantor dari pada harus bergelut di dapur seperti ini.
Alhasil masakan yang di buat aldebaran tak sia sia, walaupun hasilnya sedikit gosong namun cukup lah untuk sarapan kiana dan juga dirinya.
Kiana menatap nasi goreng tersebut aneh, karena nasi ini lebih hitam dari biasanya. "Nasinya gosong ya kak?"
Aldebaran menyengir lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung harus menjawab apa.
"Ee itu tad-"
Ting tong...
Bel rumah berbunyi, Aldebaran menoleh lalu bergegas membukakan pintu. Matanya membulat saat melihat Andin berdiri di hadapannya.
Andin menatap Aldebaran datar, "saya kesini cuma mau nganterin sarapan aja. Tadi saya dapet telepon dari mama Rosa kalau di rumah gaada yang bikin sarapan" katanya. Andin lalu melenggang masuk ke dalam. Tanpa menoleh melihat Aldebaran.
Andin berjalan menuju ruang makan, ia melihat kiana yang kini tengah memainkan sendok di atas meja.
"Kiana" sapa Andin. Kiana menoleh lalu tersenyum lebar. "Kak Andin!"
Andin mengecup kening kiana lembut, ia lalu menggendong kiana pelan. "Kamu belum sarapan kan? Kakak tadi bikin sarapan buat kiana"
Mata kiana membinar, "wahh aku kangen makanan kak Andin. Makasih ya kak"
Andin mengangguk lalu menurunkan kiana, membuka rantang makanan tersebut. Tersaji lah beberapa makanan yang sangat menggugah selera.
Aldebaran yang menyusul dari belakang langsung duduk di kursinya. Menatap Andin yang kini tengah sibuk menuangkan nasi ke dalam piring kiana.
"Loh, ini nasi goreng siapa? Kok item" Aldebaran terdiam, berusaha tetap stay cool walaupun kini mukanya sudah memerah.
Andin yang paham pun langsung mengambil piring berisi nasi goreng itu lalu membawanya ke dapur.
"Kalau gak bisa masak mending gausah, dari pada kebakaran ni rumah" sindir Andin. Aldebaran yang merasa tersindir langsung menatap Andin lekat.
"Ada pepatah, usaha tidak akan mengkhianati hasil, setidaknya saya udah usaha" sewotnya. Andin tidak membalas.
Aldebaran lalu mengambil centong nasi yang tepat di samping Andin. Ia lalu sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mengambil centong nasi tersebut.
Andin yang merasa Aldebaran mendekati nya pun langsung waspada, ia menatap tajam Aldebaran. "Mau ngapain kamu!" Ucap Andin marah.
Aldebaran bingung sendiri, ia menatap Andin heran. Ia semakin mendekat kan tubuhnya pada andin.
"JANGAN MACEM MACEM!!" Spontan Aldebaran terkejut, ia memegang dadanya. Hampir saja jantung nya copot.
"Astaghfirullah ndin, kamu kenapa?"
"KAMU YANG MAU NGAPAIN"
"Saya cuma mau ngambil centong di pinggir kamu" Andin terdiam. Ia lalu menatap pinggiran nya, benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND IS MY DREAM (END)
Romance⚠️ PLAGIAT MENJAUH⚠️ ❗Karya sendiri ❗ ⚠️No copas⚠️ ⚠️ Hargai penulis ⚠️ Sebelumnya perkenalkan saya Keisha Nurul azni biasa di panggil Caca atau Keisha. Ini cerita haluan saya dan saya buat ini dengan hasil pemikiran sendiri. Cerita ini juga pernah...
