chapter 20

2.9K 200 14
                                        

Happy reading 🥀🎶
[][][][][]

"Apa kamu udah mencintai aku mas? Apa kamu sudah bisa menerima aku seutuhnya? Apakah kamu mau hidup bersamaku sampai akhir sampai maut memisahkan?"

Aldebaran terdiam. Ucapan Andin tadi seakan akan membiusnya untuk tidak sadar, ia juga belum tahu pasti dengan perasaannya ini.

"Mas, jujur aja aku gabakal marah selagi kamu jujur. Aku tanya sekali lagi-" Andin menjeda ucapannya, menarik napasnya panjang.

"Apa mas sudah mencintai aku?"

"Sa...saya-"

Andin terus menatap Aldebaran serius, ia menunggu jawaban Aldebaran. Dalam hatinya berharap Aldebaran sudah dapat menerima dan mencintai nya.

"Sa-saya belum tau"

Pupus sudah senyum yang Andin tahan sejak tadi. Mendengar jawaban Aldebaran yang membuatnya kembali menatap kecewa pada Aldebaran.

"Sa-saya belum ta-tau pasti dengan perasaan saya terhadap ka-kamu" Aldebaran mengucapkan itu dengan nada gugup. Jujur ia belum tahu pasti dengan perasaannya ini.

Andin tersenyum lalu mengangguk" gapapa mas, aku juga memaklumi hubungan kita hanya sebatas perjodohan dan paksaan. Tapi aku akan selalu menunggu cinta itu datang-"

"Tapi, jangan lama lama mas takutnya aku gak tahan dan pergi meninggalkan cinta itu"

Aldebaran terdiam, hatinya terasa berdenyut nyeri mendengar perkataan Andin. Ia memang belum mencintai Andin sepenuhnya namun bila nanti Andin pergi darinya sungguh ia tidak rela.

Terdengar egois emang, namun Aldebaran akan berusaha untuk menerima Andin dan mencintai Andin sepenuhnya.

"Yaudah kamu tidur ya mas, dari tadi siang kamu belum sempat istirahat karena jagain aku" Andin mengucapkan itu dengan nada lembut walaupun dalam hatinya sedang menahan untuk tidak menangis.

Tahan ndin, kamu gaboleh nangis. Batin Andin.

Andin lalu menidurkan dirinya dengan posisi membelakangi Aldebaran. Tubuhnya bergetar hebat, sakit memang.

Maaf ndin, maaf karena belum bisa membalas cinta kamu. Tapi saya mohon, jika cinta ini telah datang tolong tetap bertahan dengan saya. Jangan pernah pergi ndin jangan pernah. Batin Aldebaran.

*****
Pagi ini, Andin dan kiana sedang bermain-main di halaman belakang rumah Aldebaran. Ia asik melihat kiana yang asik berlari kesana kesini.

"Kiana awas jatuh" kata Andin sedikit berteriak.

"Iya kak"

"Andin"

Andin menoleh, ia menatap mamah Rosa yang juga sedang menatap dirinya. " Kenapa mah?"

"Ada yang mau mamah bicarakan dengan kamu" mamah Rosa lalu mendudukkan dirinya di samping Andin.

Andin menautkan kedua alisnya" kenapa mah? Ada apa?"

"Mama mau tanya, apakah sebelum mama pindah ke sini hubungan kalian kurang baik?"

Andin menggeleng" gak kok mah, aku sama mas Al baik baik aja" bohong nya. Kalau ia jujur pasti masalah akan melebar kemana mana.

"You do not lie? Jangan bohong ndin. Mata kamu selalu menampakkan kesedihan setiap mama tanya tentang hubungan kalian"

Andin terdiam. Apakah ia harus jujur? Tidak tidak, ia tidak boleh mengumbar aib suaminya walaupun kepada ibunya.

"Enggak kok mah, aku sama mas Al selalu baik baik aja"

Mama Rosa terdiam, ia merasa ada yang janggal dengan pernyataan Andin tadi. Namun ia mencoba untuk percaya walaupun hatinya masih kurang percaya.

MY HUSBAND IS MY DREAM (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang