45 - Maafkan Ibu

112 13 2
                                        

Samar-samar ku dengar ada orang yang berbicara, perlahan ku buka mataku, hal yang pertama ku lihat adalah kesilauan lampu yang menyinari mataku. Mataku beralih melihat ke samping terlihat ada beberapa obat-obattan dan juga buah-buahhan yang ada di atas meja. Terdapat juga selang infus yang menancap pada tangan kiriku. Rasanya seperti aku sedang berada dirumah sakit. Tapi tunggu dulu, sepertinya aku memang berada dirumah sakit. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku sebelum aku berada dirumah sakit ini. Oh benar! Terakhir kali perutku tertusuk oleh orang yang tak dikenal. Setelah dia menusukku dia langsung melarikan diri begitu saja.

Aku berharap semoga penjahat itu bisa segera tertangkap. Takutnya bukan aku saja yang menjadi korban tapi warga lainnya juga bisa menjadi korban dari penjahat itu.

"Teteh udah bangun?"

Aku menoleh ke kanan, ternyata ada Ibu dan Oma. Tepat di samping kananku, Ibu duduk di kursi menghadap kearahku. Tanganku di pegang oleh Ibu, dan rasanya hangat.

"Ibu..." lirihku.

"Iya, Teteh mau apa? Bilang sama Ibu"

"Ibu gapapa?" Tanyaku.

"Dasar anak ini. Kamu..... yang sakit, kenapa harus khawatir ke Ibu? Liat kondisi kamu sekarang" ucap Ibu yang menangis dihadapanku.

"Ibu, jangan nangis. Nasya minta maaf... gak bisa tangkap orang jahat itu"

Tangan kananku mengusap air mata Ibu. Ibu terlihat sangat sedih sekarang, baru pertama kali aku melihat Ibu se khawatir ini padaku.

Ibu menggelengkan kepalanya, "Engga. Ibu yang minta maaf gak bisa jaga kamu"

Aku berusaha bangun dari tempat tidurku untuk bisa memeluk Ibu. Tapi baru sedikit saja aku mengangkat tubuhku, perutku rasanya sangat sakit sekali.

"Nasya gak usah bangun, kamu baru selesai di operasi"

Oma mendekatiku menyuruhku agar tetap berbaring tidur di kasur rumah sakit ini.

"Teteh mau kan maafin Ibu?"

Sorot mata Ibu memperlihatkan bahwa ibu sedang menunggu jawaban dariku.

"Iya bu, Ibu kan Ibunya Nasya"

Ibuku malah tambah menangis hingga tersedu-sedu. Ada apa ini? Apa ada yang salah dari perkataanku?

"Semuanya gara-gara Ibu. Kamu jadi seperti ini karna Ibu"

"Maksud Ibu?"

Ibu tidak menjawab pertanyaanku dan tetap menangis dihadapanku.

"Ibu... tolong jelasin ada apa"

Aku memegang tangan ibu dengan kedua tanganku, memohon agar Ibu bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Yang menusuk kamu adalah orang suruhannya Tante kamu, Tante Von. Von sengaja menyuruh orang suruhannya agar bisa membunuh kamu"

"Terus Ibu diam aja?"

"..."

"Bu.. kenapa Ibu diam aja. Harusnya Ibu laporin Tante Von ke kantor polisi. Nasya ngerti, Tante Von itu kakaknya Ibu. Tapi dia berani ngelakuin tindak kriminal ke anak saudaranya sendiri bu"

"Ibu gak bisa apa-apa"

"Kenapa? Kenapa gak bisa bu?" Tuntutku.

"Ibu punya hutang ke dia"

"Apa? Kenapa Ibu ngutang ke Tante Von? Ibu kan bisa minta ke Ayah"

"Sudah waktunya Nasya tau, kasih tau saja" ucap Oma.

Apa sih? Apa yang harus aku tahu? Apa Ibu menyembunyikan sesuatu dariku? Rasanya jiwa ke kepoanku meronta-ronta untuk diberi tahu.

"Engga, dia baru selesai operasi. Kata dokter jangan sampai Nasya banyak pikiran karna bisa berpengaruh ke lukanya yang habis di operasi"

"Engga bu, bilang aja. Nasya gapapa"

"Sudah, kasih tau saja" Ucap Oma.

Aku penasaran sekali, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi? Apa yang ditutup-tutupi? Aku melihat Ibu menarik nafas lalu menghembuskannya.

"Ayah kamu dan Ibu sudah gak ada hubungan lagi"

Aku shock ditempat.

"A-apa? Nasya gak ngerti"

"Ayah kamu bermain dibelakang Ibu..."

"Bermain?"

"Ayah kamu selingkuh dengan wanita lain saat kamu masih kecil. Awalnya Ibu masih bisa memaafkan walau hati Ibu sakit, Ibu meminta Ayah kamu supaya gak melakukan kesalahan yang sama. Ayah kamu berjanji untuk gak mengulangi kesalahan itu lagi, tapi Ibu sudah sangat kecewa sama ayah kamu. Ibu meminta Ayah kamu untuk gak pulang ke rumah. Tapi Ayah kamu selalu saja pulang ke rumah disetiap cuti kerjanya. Ibu malas melihat wajahnya, Ibu benci Ayah kamu. Setiap Ibu melihat kamu, wajah kamu mengingatkan Ibu sama Ayah kamu. Puncaknya saat kamu SMA, Ayah kamu ketahuan berbuat hal itu lagi dengan wanita yang sama. Ibu sangat kecewa, hati Ibu sakit. Ibu meminta cerai sama Ayah kamu, tapi Ayah kamu gak mau menceraikan Ibu dengan alasan anak-anak. Ibu bilang ke Ayah kamu, kalau keinginannya tetap tidak mau berubah masih tidak mau menceraikan Ibu. Ayah kamu gak usah datang lagi ke rumah, dan gak usah menafkahi Ibu lagi cukup nafkahi kamu dan adik-adik kamu saja. Ibu gak mau bergantung lagi sama Ayah kamu. Makanya Ibu buka usaha warung, untuk mencukupi keseharian di rumah. Tapi Ayah kamu tetap saja nekat datang ke rumah dengan alasan rindu sama anak-anaknya. Ibu gak bisa berbuat apa-apa karena memang kalian masih darah dagingnya sendiri"

Hatiku sakit mendengar cerita Ibu, bisa-bisanya Ayahku tega melakukan hal itu ke Ibu? Ayah yang ku anggap Ayah yang paling baik dan menjadi panutanku. Tapi, ternyata berani melakukan hal itu.

"Ibu sangat sakit hati dan kecewa sama ayah kamu. Ibu dirumah mengurus kamu dan adik-adik kamu dengan susah payah. Ayah kamu ada di kapal berbulan-bulan yang Ibu gak tau dia disana ngapain aja dan ternyata malah berselingkuh"

Hatiku ter-iris melihat ibu yang menangis menceritakan hal itu kepadaku. Teganya Ayah melakukan hal tidak senonoh itu! Bahkan sampai diulangi lagi. Apa Ayahku tidak ingat dia mempunyai tiga anak perempuan. Bisa ditekankan lagi TIGA. TIGA ANAK PEREMPUAN.

"Kamu ingat saat Kinan ingin melanjutkan sekolah SMA nya di luar provinsi? Saat itu Ayah kamu gak bisa dihubungi. Ibu berpikir keras untuk bisa menyekolahkan Kinan di tempat sekolah yang dia mau. Sampai akhirnya, Ibu meminta tolong ke Von untuk meminjamkan uangnya ke Ibu untuk biaya transportasi dan biaya awal sekolah adik kamu disana. Seiring berjalannya waktu, setiap ada kebutuhan yang mendesak dan harus langsung dipenuhi Ibu selalu meminjam uang ke Von. Makanya Ibu gak bisa berbuat apa-apa saat Von mempermalukan kamu, suami Von yang hampir melecehkan kamu, dan sekarang Von yang hampir membunuh kamu. Maafkan Ibu nak, Ibu bukan Ibu yang baik, bukan Ibu yang berguna buat kamu. Dari kamu kecil hingga kamu dewasa, Ibu selalu membandingkan kamu dengan Kinan. Ibu lebih menyayangi Kinan daripada kamu. Ibu tau Ibu salah, jauh dari lubuk hati Ibu yang paling dalam, Ibu minta maaf nak"

Ibu menangis tersedu-sedu dihadapanku. Ternyata dibalik wajah tegas Ibu tersimpan banyak penderitaan dan sakit hati yang Ibu terima. Sekarang aku mengerti, mengapa dari aku kecil hingga besar Ibu selalu lebih menyanyangi Kinan.

"Ibu... bu gak papa. Ibu gak salah, Nasya ngerti dan maafin Ibu. Semua yang Ibu lakuin pasti ada alasannya. Makasih udah menjadi Ibu yang kuat buat Nasya, Kinan dan Dede. Nasya sayang sama Ibu"

"Ibu juga sayang sama Teteh"

Akhirnya aku mendapatkan pelukkan hangat ini. Pelukkan yang selama ini ingin aku rasakan. Pelukkan dari seorang Ibu kepada Anaknya.

.
.
.
.
.

Jangan lupa Vote & Komen✨

Nasya [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang