"Ma, Neva sayang sama Atharka!"
***
ATHARKA meletakkan tasnya di atas sofa abu yang ada di kamarnya. Ia lelah dengan hari ini, biasanya saat ia pulang suasana rumah tidak sesepi ini, dan ia juga tidak tau Kakak serta Maminya pergi ke mana sore-sore begini. Ia merasa ada yang aneh, tetapi karena rasa lelahnya lebih berat jadi ia memutuskan untuk tidur saja sambil menunggu yang ditunggu pulang.
"Atharka, bangun, Nak! Ini Papi."
Atharka membuka matanya, ia terkejut dengan sosok pria paruh baya yang berdiri di depannya dengan membawa sebuah kotak berwarna coklat. Atharka bangun dari posisi tidurannya dan duduk, pria itu juga ikut duduk di sampingnya.
"Papi udah pulang? Kapan?"
"Barusan. Papi ke sini mau ngasih ini buat kamu." Pria itu mengulurkan kotak itu ke arah Atharka. Atharka membuka kotak itu dan mendapati sebuah kue yang di atasnya terdapat lilin angka satu dan tujuh.
"Buat Atharka, Pi?"
Pria itu mengangguk lalu tersenyum kecil disertai warna pucat di bibirnya. "Kamu besok ulang tahun, 'kan? Jadi Papi kasih kue spesial buat kamu, suka?"
Atharka agak terkejut, padahal ulang tahunnya masih besok. Tetapi kenapa Papinya ini memberikan hadiahnya sekarang? Bukan apa, hanya saja terasa aneh.
"Ulang tahun Atharka 'kan masih besok. Kok Papi ngasihnya sekarang?"
"Papi pengen jadi orang pertama yang ngasih kamu kejutan di tanggal dewasa kamu!" jawab Reno masih dengan senyumnya.
"Oh... gitu. Yaudah, lilinnya Papi nyalain ntar Atharka tiup, tapi bareng ya sama Papi?"
"Iya," jawab Atharka semangat tanpa memikirkan yang aneh-aneh.
Lilin itu sekarang sudah menyala, apinya sangat tenang seolah mendukung apa yang sedang terjadi dan akan terjadi. Atharka mendekatkan jarak kue itu dengan dirinya dan juga Papinya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sudah! Lilinnya sudah mati karena ditiup oleh Ayah dan anak itu.
Sekarang Atharka sedang memotong potongan kue pertama khusus untuk Papinya. Atharka menyuapkan potongan kecil kue itu dengan rasa bahagia. Sangat bahagia. Namun beberapa detik kemudian Atharka menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Papinya.
"Bibir Papi kok pucet banget? Papi sakit?" Atharka memicingkan matanya.
Hanya gelengan.
"Tangan Papi juga dingin, Papi sakit ya? Papi demam? Biar aku panggilin Mami bentar ya?" Atharka begitu panik dengan kondisi Papinya. Atharka mencoba beranjak dari duduknya.
Reno mencekal lengan Atharka. "Enggak usah, Papi cuma kecapean aja. Yaudah Papi pergi dulu ya, kamu baik-baik di sini, jagain Mami sama Kakak kamu." Reno tersenyum. Setelah mengatakan kalimat terakhir itu Atharka tidak melihat Papinya lagi. Papinya pergi.
"PAPIII!"
Napasnya memburu begitu cepat, jantungnya terasa berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Mimpi. Ternyata itu hanya mimpi. Atharka bingung kenapa ia bisa mimpi seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi. Ia bingung dengan mimpi itu.
***
Pintu kamar bernuansa pastel itu terbuka. Nevasha yang sedang duduk di atas kasurnya seraya memeluk boneka kesayangannya menoleh ke arah pintu dan mendapati Mamanya yang sedang berdiri di ambang pintu. Farah tersenyum menatap putrinya lalu melangkah mendekati gadis cantik itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHARKA [SELESAI]
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini tentang, Atharka Putra Malendric yang temperamental dan Binara Helvana yang penurut, sabar, dan selalu mengalah kepadanya. Selama menjalin hubungan sikap Atharka selalu berubah-ubah. Yang selalu memarahinya walau hanya kare...
![ATHARKA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/241632267-64-k755108.jpg)