"Aku mau nanya dong, boleh?"
"Boleh, sayang,"
***
HARI ini Binara ada janji dengan Atharka, kemarin Atharka sudah berjanji untuk mengantarnya bertemu dengan Mamanya, Dinda. Rasa rindu sangat amat menyelimuti hati Binara. Rasa rindu yang belum terobati dari beberapa hari ini, hingga akhirnya mungkin akan terobati.
Binara pergi tanpa sepengetahuan Zio. Jika cowok itu tau Binara akan pergi untuk mencari Mamanya pasti Zio tidak akan menginjinkannya. Entah apa yang membuat Zio sangat amat membenci Mamanya sendiri untuk sekarang.
Luka di hatinya masih belum sembuh, mulai dari awal Dinda membuatnya kecelakaan hingga meninggalkannya saat dirinya tengah terbaring lemah di brankar Rumah Sakit. Mungkin membutuhkan banyak waktu untuk menyembuhkan luka di hati Zio akibat ulah Mamanya sendiri.
Bukan tanpa alasan Zio tidak memperbolehkan Binara untuk mencari Mamanya. Tapi, karena dirinya tak mau sampai nanti saat di sana Binara hanya mendapatkan sakit hati. Ia tau betul, pasti Mamanya lebih memilih pria itu dibanding kembali bersama dirinya dan juga Binara.
Bahkan semenjak kejadian itu Zio menutup dirinya dari khalayak ramai. Juga mulai saat itu Zio bisa mengenal Sesil yang merupakan Kakak perempuan Atharka. Pertemuan mereka tanpa disengaja. Terkadang Sesil juga masih suka mengunjungi rumahnya, tak jarang perempuan itu membawa buah tangan untuk Zio dan juga Binara.
***
"Mau sampai kapan nilai Biologi kamu tetap di bawah tujuh lima?"
Alice berdiri. "Ma, Alice udah berusaha keras buat kerjain tugas-tugas apapun, terutama Biologi!"
Anita, wanita paruh baya itu dari dulu sampai sekarang tak ada hentinya untuk terus memaksa anaknya---Alice agar mendapat nilai sempurna. Bahkan lebih tepatnya mencapai angka 100. Ia ingin anaknya itu bisa menjadi seorang Dokter, sesuai dengan keinginannya.
"BERUSAHA KERAS KAMU BILANG?! NILAI RENDAH KAYAK GINI KAMU BILANG BERUSAHA KERAS?! MAMA UDAH BILANG DARI DULU, ALICE! CAPAI NILAI SERATUS KAMU BUAT BANGGAIN KELUARGA INI!" Suara Anita menggema memenuhi ruangan itu hingga membuat Alice kembali ketakutan.
"Apa kamu lupa? Keluarga Papa kamu selalu rendahin Mama karena anak mereka semua sukses! Bahkan ada yang jadi Pilot! Sedangkan kamu?! Lihat ini Alice! Lihat baik-baik!" tambahnya.
Gadis itu mengambil tasnya, ia merebut paksa kertas ulangan yang berada di tangan Mamanya. Mengusap kasar air matanya, lalu tanpa berkata apapun lagi ia bergegas pergi dari tempat memuakkan itu. Sudah cukup untuk hari ini.
Alice menaiki tangga dengan langkah tergesa-gesa diiringi air matanya yang masih juga mengalir. Langkahnya terhenti sebentar. Ia kembali menoleh ke bawah di mana terdapat Mamanya yang masih berdiri memandangnya di sana. Perih. Itu yang ia rasakan.
"MAMA NGGAK PERNAH HARGAIN SEMUA USAHA ALICE SELAMA INI BUAT DAPAT NILAI YANG BAGUS! TAPI MAMA SELAMA INI CUMA GEDEIN GENGSI MAMA! MAMA NGGAK PERNAH TAU USAHA APA YANG UDAH ALICE LAKUIN BUAT BANGGAIN MAMA!"
"MAMA JUGA CUMA BISA BANDINGIN ALICE SAMA ORANG LAIN!"
Ia mengepalkan tangannya seolah ingin menonjok tembok kokoh yang ada di sampingnya itu. Hatinya terlalu sakit hari ini. Ia merobek kertas hasil ulangannya itu tepat di depan mata Anita. Wanita itu memelototkan matanya tajam seakan ingin menghunuskan sesuatu pada Alice.
"ALICE!" teriaknya emosi.
"Apa Alice harus mati dulu biar Mama nggak terus-terusan ngerasa kalo Alice cuma bisa maluin Mama di depan keluarga Papa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHARKA [SELESAI]
Novela Juvenil[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini tentang, Atharka Putra Malendric yang temperamental dan Binara Helvana yang penurut, sabar, dan selalu mengalah kepadanya. Selama menjalin hubungan sikap Atharka selalu berubah-ubah. Yang selalu memarahinya walau hanya kare...
![ATHARKA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/241632267-64-k755108.jpg)