"Jangan dekati anak saya lagi! Kalau kamu masih nekat buat dekatin anak saya lagi, maka saya akan lakukan hal yang lebih dari ini!"
***
"SEKARANG gue udah tau di mana tempat tinggal Vana."
"Ya udah, sekarang rencana kita apa?" tanya Zio.
Atharka tersenyum kecil. "Ikut gue sekarang."
"Atharka! Bang Zio! Kalian mau ke mana?" Binara keluar dari dalam kamarnya dengan baju tidur bermotif bulan.
"Kita ada urusan penting. Lo di rumah aja, cuma bentar kok nggak lama," ujar Atharka.
"Tapi ... aku takut sendirian di rumah, ini juga udah malem ...."
Tidak mungkin juga 'kan mereka harus mengajak Binara. Vana itu licik, dia bisa melakukan apa saja yang ia ingin lakukan. Atharka hanya takut nantinya Binara yang akan menjadi sasaran empuk bagi cewek itu.
"Lo suruh temen-temen lo aja ke sini." Zio menyarankan.
"Ih, ini 'kan udah malem! Mana mau mereka ke sini malem-malem kayak gini!"
"Mau kok. Pasti mau. Udah ya, kita nggak punya banyak waktu, lo jaga diri baik-baik di rumah! Kunci semua pintu sama jendelanya."
Waktu mereka tidak banyak lagi, mau tidak mau mereka harus segera pergi ke rumah cewek itu, dengan meninggalkan Binara sendiri di rumah. Kali ini Atharka yang menyetir, ia membawa mobil sendiri. Setelah seatbelt sudah terpasang, Atharka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang membuat Zio sedikit takut. Waspada jika terjadi sesuatu karena, Zio masih ingin menikah dulu sebelum mati. Terlebih mati konyol. Tidak Zio tidak ingin mati konyol.
"Buset! Pelan-pelan aja kenapa, sih!"
"Yang lo bawa ini orang bukan setan!" protes Zio.
Atharka tidak menanggapi perkataan calon kakak iparnya itu, yang ada di pikirannya saat ini hanya menyeret gadis itu ke hadapan orang tuanya untuk mengakui semuanya. Atharka tidak mau menunda-nunda lagi tentang masalah ini, karena semakin hari Maminya itu semakin benci pada Binara yang jelas-jelas tidak tau apa-apa.
"Tapi gue masih penasaran, kenapa cewek itu bisa mirip banget sama Binara?"
Atharka menoleh sebentar. "Gue dapet informasi sedikit dari orang suruhan gue. Gue juga nggak tau itu benar apa enggak tapi, kata mereka Vana punya saudara kembar."
"Kembar?" Zio masih tidak percaya.
Atharka mengangguk. "Iya, tapi setelah itu mereka kepisah. Mereka pisah dari masih bayi tapi, sayangnya gue nggak tau penyebab mereka pisah apa."
Zio bingung, bahkan ia sama sekali tidak tau tentang masa kecil Binara yang sebenarnya mempunyai kembaran. Sebelumnya Dinda juga tidak pernah bercerita tentang masalah ini. Karena seingatnya ia memang hanya memiliki satu adik perempuan yaitu, Binara.
***
Pyar!
Suara pecahan kaca itu mengagetkan Binara. Cewek itu langsung mendatangi asal suara itu. Ia sedikit merasa ketakutan, ia membuka tirai jendelanya untuk melihat adakah orang di luar. Tetapi setelah ia melihat ternyata tidak ada satu pun orang di luar.
Rasanya Binara ingin menangis, ia gugup, takut, netranya tertuju pada sebuah bulatan kertas yang membungkus batu berwarna hitam itu. Benda yang digunakan seseorang tadi untuk melempar kaca rumahnya. Binara mengambilnya, lalu membukanya, dan membaca isi dari kertas itu. Ia tertegun setelah membaca isinya, surat itu berisi ancaman.
"Jangan dekati anak saya lagi! Kalau kamu masih nekat buat dekatin anak saya lagi, maka saya akan lakukan hal yang lebih dari ini!"
Napasnya memburu. Binara tau siapa yang melakukan ini, sudah pasti jika itu Oliv—Mami Atharka. Cewek itu masih dalam keadaan takut, ia berlari ke sofa untuk mengambil ponselnya, ia menghubungi nomor Zio. Tapi sayang sekali, nomor cowok itu tidak aktif, langkah terakhir ia menghubungi Atharka, hasilnya sama, dari mereka berdua tidak ada yang menjawab panggilannya.
Pyar!
Binara terlonjak kaget, suara itu muncul lagi dari arah yang berbeda. Ia takut berada dalam situasi seperti ini, mencekam. Detak jantungnya berdegup begitu cepat, Binara mencoba mengendalikan perasaan takutnya, ia tidak mau penyakitnya kambuh lagi.
"Abang ... Binara takut ...."
Suara ketokan pintu terdengar, ada seseorang yang mengetuk pintunya dengan keras. Perasaannya menjadi campur aduk, ia gugup serta ketakutannya bertambah berkali lipat. Orang itu terus mengetuk pintu itu dengan keras, Binara tidak berani untuk membukanya, ia khawatir jika nanti orang itu berbuat macam-macam padanya.
"BUKA PINTUNYA!" teriak orang itu dengan keras.
"BUKA PINTUNYA! KALAU KAMU TIDAK MAU MEMBUKA PINTU INI, MAKA SAYA AKAN MELAKUKAN HAL YANG LEBIH GILA DARI INI! BUKA PINTUNYA!"
Binara mengenal suara itu. Itu suara Oliv. Wanita itu tidak ada henti-hentinya menuduh Binara sebagai pelaku hilangnya Arka. Dengan rasa hati-hati Binara membuka pintunya. Yang ia dapati pertama kali adalah ekspresi Oliv yang terlihat sangat marah. Cewek mungil itu takut. Ia melangkahkan kakinya mundur.
Wanita itu tersenyum miring. "Kamu tidak perlu takut. Kedatangan saya ke sini hanya untuk balas dendam untuk anak saya, Arka, anak saya yang hilang. Ini sudah saatnya kamu bertanggung jawab atas kecelakaan dan hilangnya anak saya!"
Binara menelan salivanys susah payah. "Tante, Binara mohon ... Tante percaya sama Binara, bukan Binara yang lakuin itu ...."
"Masih bisa kamu ngelak dari kenyataan?! Jelas-jelas kamu pelakunya! Kamu itu anak pembawa sial! Kamu nggak pantes buat hidup! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!"
Binara takut, ia menangis, dalam posisi seperti ini tidak ada orang yang bisa menolongnya, ia terancam, di matanya saat ini wanita itu terlihat sangat menakutkan.
Oliv mengeluarkan sebilah pisau tajam dari dalam tasnya. Binara tidak mampu lagi menahan rasa takutnya. Keringat dingin bercucuran begitu deras dari dahinya. "Tante Binara mohon ... Tante jangan nekat ...."
***
"DARI MANA SAJA KAMU, HAH?!" Robert menangkup pipi Dinda kasar.
"JAWAB SAYA! DARI MANA SAJA KAMU?!" Pria itu geram.
Dinda tidak berani menatap mata pria itu. Ia tau yang ia lakukan ini salah, Robert sudah menyuruhnya untuk tetap di dalam unit saja hari ini. Karena, hari ini adalah acara pernikahan Nevasha di dekat Apartment mereka.
Robert hanya tidak mau sampai Farah atau siapapun itu bertemu dengan Dinda, terutama Binara. Jadi wajar saja jika Robert marah padanya. "KAMU TULI?! KAMU BISU?!"
"Mm ... mas ... aku minta maaf ... aku cuma nyari udara segar tadi pagi ... a–aku nggak ada maksud lain ...."
"Apa AC di ruangan ini kurang untuk kamu?! Saya sudah katakan kepada kamu! Jangan keluar hari ini! KAMU TIDAK PUNYA TELINGA?!
"Mas ... a–aku minta m–maaf ...."
Robert melepaskan tangkupan di pipi wanita itu, ia memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pening. Ia tidak tau tadi pagi ada yang melihat Dinda atau tidak. Karena jika sampai hal itu terjadi, hal tersebut akan menimbulkan masalah untuknya. Ia tidak mau Farah mengetahui ini semua. Ia masih membutuhkan wanita itu, untuk sumber kehidupannya.
"Saya peringatkan kamu sekali lagi, kalau sampai kamu berani melanggar segala peraturan yang telah saya buat, maka kamu akan tau akibatnya! Ngerti kamu?!" bentak Robert memperingatkan sekali lagi.
Dinda masih tetap menunduk. Ia sangat takut pada Robert. Menurutnya pria itu orang yang sangat keras, dan juga egois. Namun ia juga tidak bisa meninggalkan Robert karena saat ini ia tengah hamil. Bagaimanapun anak yang ada di dalam perutnya itu adalah darah daging pria itu.
***
finished typing: 8.14 pm.
typed with 1087 words.
kindly vote, comments, and share ‼️
follow instagram @chaindaputri
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHARKA [SELESAI]
Ficção Adolescente[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini tentang, Atharka Putra Malendric yang temperamental dan Binara Helvana yang penurut, sabar, dan selalu mengalah kepadanya. Selama menjalin hubungan sikap Atharka selalu berubah-ubah. Yang selalu memarahinya walau hanya kare...
![ATHARKA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/241632267-64-k755108.jpg)