"Putusin Binara, lo bisa balik sama gue, bahkan kita bisa langsung nikah!"
***
MENYEMBUHKAN luka baru itu tidak mudah, apalagi darah dari luka itu masih mengalir deras. Pastinya luka itu nanti juga akan membekas. Sama halnya dengan hati seorang Binara. Ia masih terus menangis dari pulang sekolah sampai malam ini.
Tangisannya tak berhenti meskipun Zio juga sudah berusaha menenangkannya. Kadang hanya diberi cokelat saja sudah bisa membuat tangisan Binara berhenti, tetapi untuk kali ini tidak. Rasa manis pada cokelat itu masih kalah dengan rasa perih di dalam hatinya.
Zio tidak tega melihat Binara yang masih terus menangis dari tadi. Andai kakinya sudah sembuh pasti ia akan menghabisi cowok tidak tau diri itu. Ia adalah kepala keluarga di rumah ini, dan tanggung jawabnya juga besar di keluarga ini. Apalagi mereka hanya tinggal berdua, tanpa orang tua.
"Lo mau sampe kapan nangis terus kayak gini?"
Binara menoleh. "Abang nggak tau perasaan Binara kayak gimana sekarang!"
Menghela napas. Zio meletakkan nampan yang berisi makan malam Binara dan juga susu untuk cewek itu di atas meja. Ia kembali keluar dari kamar Binara, lalu mengunci pintunya lagi. Kali ini ia ingin memberi ruang terlebih dahulu untuk adiknya itu supaya bisa menenangkan diri.
"Lo boleh nangis sepuas lo sekarang tapi, besok lo harus sembuh," akhir Zio.
Setelah beberapa menit Zio pergi dari kamar Binara, yang gadis itu lakukan adalah berdiam, menangis, kadang ia juga tertawa tanpa sebab. Ditambah juga sekarang dadanya tiba-tiba terasa sakit. Ia berusaha menahan rasa sakitnya.
Ia mendongakkan kepalanya saat ia menyadari ada darah yang mengalir dari hidungnya. Dengan cepat Binara mengambil tissue yang ada di dalam laci samping tempat tidurnya. Ia berusaha membersihkan darah itu agar tidak mengenai pakaiannya.
Setelah beberapa menit kemudian darah itu berhenti mengalir. Ia tidak sanggup lagi jika harus terus menangis. Ia ingin tidur, untuk mengistirahatkan pikirannya, tetapi rasa kantuknya tak kunjung datang. Akhirnya Binara memutuskan untuk mengonsumsi obat tidurnya, yang baru ia beli tadi. Dengan itu ia bisa tertidur.
***
"Papi kok nggak pulang-pulang sih, Mi?" tanya Atharka sembari memakan camilannya.
"Mungkin tahun depan Papi pulang," alibi Oliv.
Oliv terpaksa berbohong dulu dengan Atharka perihal kematian suaminya. Ia akan memberitahu cowok itu di waktu yang tepat nanti. Ia tidak bisa memberitahu Atharka sekarang karena ia tidak mau sekolah Atharka terganggu.
Entah Atharka akan marah atau tidak nantinya itu akan menjadi urusan belakang. Yang terpenting, tujuannya sekarang adalah menjaga mental Atharka. Jika mental Atharka terganggu maka sekolahnya juga akan ikut terganggu. Atharka adalah orang yang sangat pemarah jika ada suatu hal yang mengusik pikirannya maupun kehidupannya.
"Kangen ya sama Papi?"
"Iya, kangen tawuran sama Papi."
Sesil datang dengan membawa seorang tamu. Itu Nevasha. Sesul sudah bilang berkali-kali pada gadis itu jika Atharka tidak ingin diganggu olehnya, tetapi tetap saja cewek itu nekat untuk bertemu Atharka. Nevasha masih berdiri di tempat.
"Ka, bisa ngobrol sebentar?"
Atharka membalikkan badannya menatap Sesil dan Nevasha bergantian.
"Kak! Atharka udah bilang 'kan jangan bolehin cewek ini masuk rumah kita!" protes Atharka.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHARKA [SELESAI]
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini tentang, Atharka Putra Malendric yang temperamental dan Binara Helvana yang penurut, sabar, dan selalu mengalah kepadanya. Selama menjalin hubungan sikap Atharka selalu berubah-ubah. Yang selalu memarahinya walau hanya kare...
![ATHARKA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/241632267-64-k755108.jpg)