23 - HAK ATAS ATHARKA

722 41 0
                                        

"Lo itu cuma mantannya Atharka! Lo nggak punya hak apapun buat hancurin hubungan Binara sama Atharka!"

***

"ATHARKA!" panggil Chalvin dari belakang.

"Lo kenapa? Kesambet?"

Atharka menghela napas pelan. Ia duduk di kursi kosong dengan pandangan yang sulit diartikan. Hatinya berkecamuk, hatinya berantakan. Chalvin ikut duduk di samping Atharka.

"Lo berantem-–"

"Gue putus."

"Ka! Lo serius? Bercanda 'kan lo?"

Atharka mengusap wajahnya gusar. "Gue nggak tau gimana cara jelasinnya, Binara pasti nggak akan semudah itu buat percaya sama gue."

"Ya lo tinggal jelasin aja. Udah, kelar 'kan?"

"Chal, salah gue kali ini sama Binara nggak main-main. Neva bohong sama Binara kalo gue yang hamilin dia."

Chalvin membelalakkan matanya lebar. "Kok jadi lo yang dituduh? Gimana ceritanya?"

Atharka mulai menceritakan semuanya dari awal Binara ditarik paksa oleh Nevasha, sampai Nevasha membuat pernyataan palsu mengenai orang yang sudah menghamilinya.

"Gue ngerti sekarang, gue bakal bantuin lo jelasin semuanya sama Binara."

***

"Hebat banget permainan lo buat dapetin Atharka. Tapi sayang, terkesan murahan," cela Alice.

Alice masih tidak ada henti-hentinya mengusik Nevasha. Cewek itu tidak akan membiarkan Atharka menjadi milik Nevasha lagi. Ia berjalan menuju bangku Nevasha.

"Biar lebih gampang lagi, gimana kalo gue bantuin lo buat nyebar berita kalo Atharka udah hamilin lo?" tawar Alice berbaik hati.

Nevasha berdiri dengan cepat. "Gue nggak bodoh! Lo cuma mau permaluin gue karena, lo merasa kesaing sama gue, 'kan!?"

"Cih, lo sama gue masih cantikan gue. Lo cantik sih, tapi lo murah, lo rusak!"

"Lo barang bekas! Lo nggak pantes buat hidup! Dan lo ... sampah!" hina Alice tiada henti.

PLAK!

Bagaimanapun juga Nevasha itu perempuan yang punya perasaan sensitif. Mau lawan bicaranya perempuan ataupun lelaki, jika sampai menghinanya tetap saja perasaannya akan hancur.

Ini semua bukan karena kesalahannya. Ini adalah kesalahan bayi pembawa sial di dalam rahimnya itu. Jujur saja Nevasha sudah berulang kali mencoba untuk menggugurkan janin itu. Tetapi tetap saja janin itu masih ada.

"NEVASHA!" teriak Selina di ambang pintu yang sedang menahan emosinya mati-matian.

PLAK!

Selina mendorong tubuh Nevasha hingga tersungkur ke lantai. Tak hanya itu, cewek itu juga menjambak rambut Nevasha dengan kuat. "LO APAIN TEMEN GUE, HAH!?"

Selina melepas tarikannya pada rambut Nevasha. "Lo buat hal gila apa sama Atharka, hah!?"

"Jawab sialan!"

Penampilan Nevasha sangat berantakan. Rambutnya yang tadi tertata rapi sekarang menjadi berantakan tak karuan. Kepalanya masih pusing akibat tarikan kuat yang Selina berikan.

"Gue nggak apa-apain temen lo!"

"Gue cuma ambil hak gue!"

Selina tersenyum miring. Ia melipat tangannya di depan dada. "Hak kata lo? Kuping gue nggak salah denger, 'kan?"

"Lo itu cuma mantannya Atharka! Lo nggak punya hak apapun buat hancurin hubungan Binara sama Atharka!"

Nevasha tak mau kalah. "Atharka harus tanggung jawab sama gue! Jadi gue berhak buat ambil Atharka lagi!"

"Tanggung jawab apa hah!? Tanggung jawab kalo lo hamil!?" Suara Selina terdengar jelas di telinga para siswa-siswi lain. Berita itu sekarang sudah mulai tersebar. Bahkan salah satu dari mereka ada yang mengeluarkan ponselnya untuk merekam itu lalu mengunggahnya di sosmed.

"Neva lo hamil? Main sama siapa?" tanya salah satu siswa.

Rasanya sekarang amarah Nevasha ingin meledak-meledak. Matanya memanas, ia tak sanggup mendengar banyaknya hinaan dari para penghuni yang berada di dalam kelas itu.

"Selina lo bener-bener ya! Liat aja lo!" ancam Nevasha.

"Kenapa!? Emang itu bener, 'kan? Lo minta tanggung jawab sama Atharka karena lo hamil? Padahal anak di perut lo itu nggak tau anak lo sama siapa! Dan lo seenaknya minta tanggung sama Atharka! Kurang puas lo udah hancurin hubungan Binara sama Atharka!?"

"LO ITU SAMPAH NEVA!"

"LO SAMPAH!"

Suara sorakan dari para siswa-siswi menggema di dalam kelas itu. Bahkan mereka juga melempari banyak bolaan kertas pada Nevasha.

"UDAH STOP SEMUANYA!" Suara lantang itu milik Gavin. Cowok itu berusaha melindungi Nevasha dari lemparan kertas para siswa-siswi itu.

Nevasha mendongak ke atas menatap Gavin yang baru saja tiba. "Gavin?"

***

"Ini lipstik siapa, Mas?"

Robert terlihat gugup. Ia bingung harus menjawab apa. Kenapa nasibnya harus sial seperti ini. Kenapa juga wanita itu ceroboh! Meninggalkan lipstik di dalam mobilnya.

"Khem ... itu–itu punya temen kantor aku kayaknya, soalnya tadi mobil aku dipinjam sama temen kantor buat meeting, dan mungkin lipstiknya nggak sengaja jatuh di mobil," alibinya.

Farah menyipitkan matanya. "Kamu nggak lagi bohong 'kan sama aku?"

Robert berusaha setenang mungkin. Jika ia gugup pasti Farah akan terus mencurigainya. Lebih baik ia bersikap biasa saja seolah tidak tau apa-apa tentang benda itu.

"Aku takut kalo kamu macem-macem di belakang aku ...," lirih Farah.

Robert menggenggam tangan Farah. Ia tersenyum. "Kamu tenang aja, 'kan aku cintanya sama kamu, mana mungkin aku macem-macem. Udah ya sayang, kamu tenang aja. Pokoknya, aku janji nggak akan lakuin hal kotor itu, kamu percaya 'kan sama aku?"

Farah tersenyum simpul. "Iya, aku percaya sama kamu."

***

finished; 9.58 pm.
typed with 771 words.
kindly vote, comments, and share ‼️
follow me on ig; @chaindaputri

- suppp?
tanggapan for this part?
startled? curious? emotion? atau apa? ahaha.
i hope u don't tired of waiting, ya. bcs, i'm also aware kalo belakangan ini updatenya lama. i hope u can understand too, pulang sekolah udah sore bgt n tired. so, kalo buat update itu udah males. belum lagi kalo ada tugas (homework). tapi just calm down aku janji bakal update sampe selesai hehe 😜✌🏻

so therefore, comment as much as u want ‼️💗 let's have a symbiosis mutualism 😘💞

- besok senin, mau update kapan lagi? spam komen ya 💋🥂

- adios 🐞

ATHARKA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang