"Sekali gue bilang enggak, ya enggak, Kak! Gue gak akan pernah jauhin Binara."
***
BINARA pulang dengan rasa sakit hati yang masih sangat membekas. Luka hati yang diberikan oleh orang tua Atharka. Bahkan ia tidak tau apapun tentang kecelakaan Arka. Tadinya Atharka sudah memaksa Binara untuk diantar pulang supir pribadinya saja, tetapi Binara menolak keras, ia memilih naik taksi untuk pulang.
Hujan lebat yang turun dari langit menjadi saksi bisu kesakitan serta kepedihan pada hati Binara. Udara dingin dari AC memenuhi isi mobil sehingga membuat tubuh Binara sedikit kedinginan. Ia tidak tenang sedari tadi, luka itu masih menganga, luka itu sangat dalam.
"Sudah sampai, Mbak," ujar Bapak taksi yang menyadarkan Binara dari lamunannya.
Binara menyempurnakan posisinya, lalu menyodorkan selembar uang seratus ribuan ke orang itu, dan bergegas turun dari taksi. Setelahnya, ia mengetuk pintu rumahnya, dan munculah Zio dari dalam rumahnya.
Kondisi Binara yang masih basah kuyup akibat hujan, membuat Zio dengan sigap mengambil handuk untuk Binara agar segera mengeringkan pakaiannya, setelah mengajaknya masuk untuk segera mengganti pakaiannya agar tidak masuk angin. Dari Binara datang dengan kondisi mata sembab, ia bisa melihat sepertinya gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
Ia membiarkan Binara untuk berganti pakaian terlebih dahulu sebelum menginterogasinya. Selagi Binara belum keluar dari kamarnya, Zio membuatkan gadis itu coklat hangat dan juga menyiapkan makanan untuknya.
Setelah beberapa saat kemudian, Binara turun dari lantai atas. Ia sudah mengganti pakaiannya yang basah tadi, terlihat rambutnya basah dengan aroma lavender membuktikan bahwa gadis itu selesai keramas. Binara duduk di sofa empuk depan televisi. Ia menyenderkan kepalanya di sofa, lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk sedikit melegakan perasaannya.
"Nih, minum sama makan dulu! Lo pasti belum makan, 'kan?" Zio meletakkan segelas coklat hangat dan juga makanan untuk Binara di atas meja.
"Binara nggak mau makan."
"Lo harus makan!"
"Kalau lo sakit, gue yang susah."
"Iya, iya." Binara meminum coklat hangat itu untuk menghangatkan tubuhnya.
"Tadi Mama ke sini." Zio menunduk.
Binara langsung meletakkan kembali gelasnya. Ia tersenyum lebar. "Mama pulang sama kita?"
Zio menggeleng. "Mama cuma nitipin ini buat lo." Zio menyodorkan sebuah kotak yang terlihat seperti kado. Binara membukanya dengan perlahan.
Di dalam kotak itu ada sebuah beberapa buku dan juga liontin. Buku itu berhubungan dengan kedokteran. Dinda mengerti bahwa anaknya itu dari dulu ingin sekali menjadi seorang dokter. Meskipun sekarang dirinya tidak bersama Binara dan Zio, tetapi ia masih memikirkan nasib anak-anaknya itu. Terutama cita-cita Binara yang ingin menjadi dokter.
Ia menitikkan air matanya sehingga mengenai salah satu halaman buku itu. "Aku udah nggak butuh semua buku ini, aku cuma pengen Mama balik," ujar Binara kembali menangis.
Zio tidak akan lagi membiarkan adik kesayangannya itu terlalu larut dalam kesedihan, ia langsung berpindah tempat menjadi duduk di samping Binara. Ia mengulurkan tangannya untuk merangkul pundak Binara seolah menyalurkan kekuatan untuknya. "Lo jangan sedih ya. Gue nggak suka liat lo nangis."
"Mama emang nggak kembali sama kita, tapi seenggaknya Mama masih mikirin lo, Bi. Mama sayang sama kita, tapi Mama lebih butuh kebahagiaan," tutur Zio.
"Apa selama ini Mama nggak pernah bahagia sama kita?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHARKA [SELESAI]
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini tentang, Atharka Putra Malendric yang temperamental dan Binara Helvana yang penurut, sabar, dan selalu mengalah kepadanya. Selama menjalin hubungan sikap Atharka selalu berubah-ubah. Yang selalu memarahinya walau hanya kare...
![ATHARKA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/241632267-64-k755108.jpg)