26 - RUMAH ATHARKA

534 36 4
                                        

"Kalau makhluk satu itu udah bisa jalan, itu artinya gue nggak bisa anter jemput lo lagi. Mana mungkin tuh orang ngijinin gue."

***

SUDAH tiga tahun lamanya Arka hilang dan belum bisa ditemukan sampai sekarang. Tidak ada yang tau di mana keberadaan cowok itu sekarang, tetapi Mami Oliv, Sesil, dan Atharka selalu yakin bahwa Arka itu masih hidup.

Mungkin keberadaan Arka jauh dari mereka, dan Mami Oliv yakin ada sesuatu yang terjadi pada Arka yang mengakibatkan Arka tidak pulang-pulang sampai sekarang, atau Arka amnesia? Hingga lupa jalan pulang.

"Mami mau ke makam Papi, kamu jaga rumah, ya. Paling bentar lagi Atharka pulang," ujar Oliv.

Sesil mengangguk. "Mi."

"Kenapa, sayang?"

Sesil memainkan gelasnya yang beradu dengan kuku-kuku lentiknya. "Kita mau sampai kapan sembunyiin kematian Papi dari Atharka?"

"Mami nggak tau mau sampai kapan, Mami cuma nggak mau kesehatan Atharka nantinya terganggu."

"Tapi, Mi, cepat atau lambat Atharka bakal tau semuanya ...," tutur Sesil.

"Mami pergi dulu," pamit Oliv seraya mengambil kunci mobilnya.

Menghela napas. Sesil melanjutkan tegukkan susu di gelas itu. Beberapa lama kemudian Atharka datang dengan menggandeng Binara di sampingnya. Jujur Binara sangat gugup sekarang, untuk pertama kalinya ia berani masuk ke rumah Atharka setelah sekian lamanya.

Sesil menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa cewek yang berada di belakang Atharka itu. Binara bersembunyi di belakang tubuh tegap pacarnya. Ia tidak berani untuk menampakkan dirinya. Ia malu sekaligus takut, bahkan tangannya sudah dingin sekarang.

"Atharka ... ayo pulang, ih. Aku takut ...."

"Lo ngapain sih, ah? Pake sembunyi di belakang gue segala! Udah nggak apa-apa, Bi."

Sesil tersenyum. "Pacar lo?"

Binara tersenyum kikuk. Ia ketakutan, tetapi hal itu malah membuat Sesil merasa gemas dengan makhluk lucu itu. Pipinya yang memerah serta sedikit gembul membuat Sesil ingin mencubitnya. Ia menarik tangan Binara yang sedari tadi bersembunyi di belakang Atharka.

"Duduk sini," ajak Sesil.

"Ka ...," lirih Binara memohon bantuan.

"Ck, udah lo di sini dulu aja sama Kakak gue, gue mau mandi dulu."

Binara menarik ujung baju Atharka seolah tidak ingin ditinggal sendirian dengan Sesil. Binara takut gadis itu memarahinya setelah Atharka pergi, seperti di sinetron yang ia lihat kemarin. Atau mungkin menjadikannya pembantu.

Sesil tertawa kecil saat melihat tingkah kekanakan gadis itu. Ia tau betul bahwa Binara takut dengannya. Padahal dirinya itu baik. Bak bidadari yang turun dari sungai. Cantik pula. Mana mungkin ia berbuat jahat seperti setan.

"Nurut atau gue potong tangan lo!?"

Perlahan Binara melepaskan ujung baju Atharka yang ia tarik. Setelah itu Atharka naik menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri, dan Binara ia biarkan mengobrol dengan Sesil---Kakaknya. Rasanya sekarang sangat gugup untuk Binara.

"Lo mau minum apa?" tanya Sesil.

"Eng–enggak usah, Kak, aku udah minum kok ...."

Tanpa mendengarkan Binara, Sesil tetap mengambil minuman dingin yang ada di dapur.

"Lo takut sama gue?" tanya Sesil yang langsung dibalas gelengan cepat oleh Binara.

"Lo adeknya Zio, 'kan?" tanya Sesil seraya menuangkan jus mangga itu ke gelas.

ATHARKA [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang