"Kirim alamat Rumah Sakitnya sekarang!"
***
BRUK!
Tubuh Binara terjatuh di teras rumah Atharka, Chalvin yang menyaksikan hal itu ia langsung bergegas menuju ke teras rumah Atharka. Ia mengetok pintu rumah Atharka beberapa kali, namun masih tidak ada orang yang keluar dari dalam rumah itu.
Yang membuat Chalvin agak terkejut adalah ketika ada darah segar yang keluar dari hidung Binara. Chalvin mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi nomor Atharka, tetapi hasilnya masih sama, tidak ada pilihan lain lagi sekarang, Chalvin memutuskan untuk menghubungi pihak Rumah Sakit.
Beberapa lama kemudian, ambulance datang, dan kedua orang yang tengah bertugas itu membawa Binara ke dalam mobil ambulance, juga diikuti Chalvin dari belakang, cowok itu mengendarai motornya sendiri.
"Ini aku lagi nganterin Binara ke Rumah Sakit. Kamu kasih tau temen-temen yang lain, ya?" Setelah itu Chalvin mematikan teleponnya yang tadi terhubung pada Selina.
Kini mereka sudah sampai di Rumah Sakit, Binara diturunkan dari mobil itu, lalu selanjutnya petugas membawa Binara ke ruang UGD untuk diperiksa terlebih dahulu. Chalvin tidak bisa ikut masuk ke dalam ruangan itu, jadi ia hanya bisa menunggu di luar ruangan.
Tak lama kemudian, Revan, Gavin, Selina, Cylla, dan Mikaila datang bersamaan. Wajah mereka terlihat sangat khawatir pada Binara. Selina hendak menerobos masuk ke dalam ruangan, tetapi Chalvin berhasil menahannya.
"Gue takut Binara kenapa-kenapa, hiks ...," isak Selina.
Sendu, perlahan suasana menjadi sendu. Selina adalah salah satu dari sahabat Binara yang paling dekat dengannya. Namun Selina merasa tidak dengan sekarang. Bahkan Selina tidak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi pada sahabatnya itu.
"Atharka ke mana?" tanya Revan pada Chalvin.
"Gue juga nggak tau tuh anak ke mana. Tadi gue udah coba hubungin tapi nomornya nggak aktif," ucap Chalvin agak khawatir.
"Keluarga pasien atas nama Binara?"
***
Atharka tertidur dengan lelap, sampai ia lupa jika ponselnya belum ter-charger. Kini ponselnya mati, ia menengok jam kecilnya yang berada di atas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.45. Buru-buru Atharka mencharger handphonenya, ia lupa jika tidak memberi kabar pada Binara dua hari ini.
Mungkin ia bisa tertidur seperti ini karena ia terlalu lelah dengan pikirannya sampai tak sadar ia tertidur sedari tadi. Yang ia ingat tadi ia tengah bersama Oliv. Sampai saat ini rasa sakit itu masih ada. Tentang kematian Papinya.
Selagi ponselnya masih ia charger, ia memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Rasanya semua badannya lengket oleh keringatnya. Atharka mengambil handuk, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Atharka merapikan rambutnya di depan cermin, ia mengambil bajunya yang berada di walk in closet. Selesai dengan itu ia duduk di kursinya, lalu menyalakan ponselnya. Banyak notifikasi dari Chalvin dan Selina yang muncul. Terutama banyaknya panggilan dari Chalvin, bahkan di sana tidak ada satupun notifikasi chat ataupun telepon dari Binara dari satu jam yang lalu.
Atharka membuka chatting Chalvin, saat ia membaca isi chatting paling bawah, ia terkejut dengan apa yang sahabatnya itu katakan. Tanpa menunggu lagi, Atharka cepat-cepat menghubungi nomor Chalvin, ia tidak bisa langsung pergi ke Rumah Sakit karena ia tidak tau alamat Rumah Sakitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHARKA [SELESAI]
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini tentang, Atharka Putra Malendric yang temperamental dan Binara Helvana yang penurut, sabar, dan selalu mengalah kepadanya. Selama menjalin hubungan sikap Atharka selalu berubah-ubah. Yang selalu memarahinya walau hanya kare...
![ATHARKA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/241632267-64-k755108.jpg)