"Nurut aja bisa nggak, sih? Nggak usah ribet lo jadi cewek!"
***
JARAK antara rumah Vana dengan rumah Binara ternyata cukup jauh, Atharka dan Zio menempuh perjalanan selama satu jam. Namun kini mereka telah sampai pada tempat tujuannya. Saat ini mereka tengah berdiri memandang sebuah rumah mewah yang berdiri kokoh di hadapan mereka.
"Tapi tunggu bentar deh," cegah Zio.
"Ck, kenapa lagi?"
"Kita nggak bisa ngajak Vana keluar gitu aja, Ka. Lo tau 'kan Vana bisa lakuin apapun kalau dia merasa terancam."
Atharka memejamkan matanya, berpikir sebentar. "Gue tau. Sekarang lo tunggu di mobil aja dulu, biar gue yang masuk."
Zio mengernyitkan dahinya. "Maksud lo?"
"Bacot! Udah lo nurut aja sama gue!"
Tidak mau lebih banyak mengulur waktu lagi, Zio bergegas menuju mobil lagi. Sesuai arahan yang diberikan oleh Tuan Muda Atharka. Atharka yang beraksi, sedangkan Zio hanya bersantai-santai di dalam mobil dengan snack milik Atharka.
"Udah kayak raja aja gue, hahahaha."
***
"RAPHAELLL!"
Tubuh cowok itu terjatuh di lantai, darah segar keluar begitu banyak dari bagian perutnya. Binara dan juga Oliv terkejut melihat kejadian barusan yang terjadi secepat kilat itu. Binara tidak dapat mencegah hal itu untuk tidak terjadi.
Binara terduduk di lantai, tangannya perlahan meraih pisau yang masih tertancap di perut Raphael. Cewek itu tidak kuat, napasnya terasa berat. Jujur saja, Binara itu paling takut dengan darah tapi, sekarang ia harus bisa mencoba menetralkan rasa takutnya itu.
Perlahan cewek itu mencabut pisau itu dengan tangan bergetarnya, lalu membuangnya ke sembarang arah. Binara menangis sejadi-jadinya di dada bidang milik cowok itu. Tangannya sudah berlumuran darah segar milik Raphael. Ia mencoba membangunkan cowok itu tapi, hasilnya nihil. Raphael sudah kehilangan kesadarannya karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Enggak. Bukan aku yang celakain dia. Bukan aku!" Oliv merasa takut, ia tidak mau jika nanti dirinya harus dimasukkan ke dalam penjara karena kasus ini.
"Ini semua karena Tante! Tante harus tanggung jawab karena udah celakain temen Binara!" teriak Binara marah.
"ENGGAK! INI BUKAN SALAH SAYA! TEMAN KAMU SENDIRI YANG NEKAT LINDUNGIN KAMU!" teriak Oliv tidak mau kalah.
Tidak ada gunanya ia terus melawan wanita itu. Binara berlari ke arah telepon rumah guna menghubungi ambulance. Jika ia tidak segera membawa Raphael ke rumah sakit, ia takut cowok itu akan semakin banyak kehilangan darah.
Oliv terlihat sangat ketakutan, ia tidak ada pilihan lain selain kabur. Lagi pula, menurutnya ia juga tidak sepenuhnya salah, Raphael saja yang sok-sokan menjadi pahlawan.
Tak lama kemudian ambulance datang. Mereka segera menjalankan tugas mereka dengan baik, Binara pun memberikan jalan untuk mereka dengan masih terus mengeluarkan air mata. Cewek itu masih gemetar, tubuhnya terasa dingin semua. Setelah itu ia ikut masuk ke dalam ambulance untuk menemani Raphael. Bagaimanapun juga cowok itu yang telah menyelamatkan nyawanya.
Ia juga merasa bersalah, karena sudah melibatkan cowok itu ke dalam masalahnya. Hingga membuatnya celaka seperti ini. Kejadian ini terjadi terlalu cepat.
"Raphael bangun ...."
"Tangan Raphael dingin banget," gumam Binara menggenggam tangan cowok itu kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
ATHARKA [SELESAI]
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini tentang, Atharka Putra Malendric yang temperamental dan Binara Helvana yang penurut, sabar, dan selalu mengalah kepadanya. Selama menjalin hubungan sikap Atharka selalu berubah-ubah. Yang selalu memarahinya walau hanya kare...
![ATHARKA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/241632267-64-k755108.jpg)