9. Earphone

360 62 6
                                        

Baru saja Steven mendudukkan pantatnya pada kasur yang empuk, bunyi swush tiba-tiba merongrong telinganya, menariknya ke sebuah ruangan petak dengan jendela raksasa terpacang dihadapannya. Tak lama kemudian, ia mendengar suara derap kaki yang pelan dari balik punggungnya, tapi Steven memilih untuk tidak menoleh.

"Hari yang berat, Steven?" Suara Marc menyapu lehernya, kemudian berlari-larian di telinganya. Steven membalikkan badan. Dilihatnya Marc sedang berkacak pinggang sambil menatapnya dengan senyuman.

"Apa yang..."

"Jake punya janji dengan Khonsu malam ini," Marc segera menjawab kebingungan Steven. "Maaf aku lupa memberitahu...." Marc menghentikan ucapannya karena Steven tahu-tahu sudah berjalan melewatinya. Selama beberapa detik, ia melongo seperti orang tolol sebelum akhirnya berbalik. "Are you okay, buddy?" tanyanya kebingungan sambil mengikuti Steven menuju lorong.

"Ya, I'm ok," jawab Steven. Marc mengira kalimat itu akan memiliki sambungan, tapi Steven sepertinya tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Langkahnya juga semakin cepat.

"Kau tak nampak baik-baik saja, Steven. Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa, Marc. Kenapa kau tiba-tiba bertanya?" ujar Steven acuh tak acuh.

"Tentu saja aku bertanya," Marc menjawab dengan cepat. "Aku sudah berusaha menyapamu sejak kau bersiap-siap pulang dari museum. Aku memanggil-manggilmu dari pantulan keramik, dari dalam genangan air di trotoar, bahkan dari kaca toko yang memajang bikini itu, Steven. Kau tahu? Toko itu panjangnya hampir 10 meter dan aku terus memanggilmu sepanjang kaca itu, tapi kau sama sekali tidak menyahut."

"Maaf, aku memakai earphone sepanjang perjalanan pulang...."

"Steven, kau tak punya earphone. Kita tak punya earphone."

"Oh, really?"

"Dengar Steven...," Marc sudah mencapai batas. "Kau tak pandai berbohong. Kau pembual yang buruk. Ayolah... beritahu aku, ada apa? Apa ada orang yang mengganggumu di luar? Seperti... pengunjung museum yang tidak ramah, misalkan? Atau—"

"Aku tak apa Marc. Cuma kecapekan, okay? Aku butuh tidur. Tidur yang panjang," kata Steven seraya memutar kenop pintu kamarnya. Sesaat setelahnya, ia segera masuk ke dalam dan membuat gerakan untuk menutup pintu, namun Marc menahannya.

"Steven, aku—"

"Marc, bukankah seharusnya kau mengawasi Jake, sesuai kesepakatan?" Steven memotong dengan cepat.

Marc diam.

"Dia di kursi kemudi sekarang. Aku rasa kau harus menghampirinya sebelum dia berbuat yang tidak-tidak," sambung Steven.

Marc tetap diam, menatap Steven dengan teliti, masih berharap dia akan memberi tahu apa yang terjadi. Tapi Steven hanya diam.

"Ya, aku tahu. Tapi...," Marc membersihkan kerongkongannya. "Aku pikir... aku pikir kita akan mengawasinya bersama malam ini."

Mendengar kata-kata itu, lantas saja Steven merasa bersalah. Sayangnya, rasa bersalahnya itu tak lebih besar daripada rasa cemburu yang menghinggapi jiwa dan raganya seharian ini. "I'm sorry, mate, tidak malam ini."

Marc mengangguk, berusaha mengerti. Mungkin Steven memang sedang kelelahan. "Kau yakin kau tidak apa-apa?" Ia memastikan sekali lagi.

"Ya. I'm fine," kali ini Steven memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Marc mengangkat bahunya. "Baiklah. Kalau kau butuh aku, kau tahu aku ada di mana," katanya seraya berbalik, kemudian berlalu menuju ruang pandang.

Steven terpana. Ia tak menyangka adegannya hanya akan seperti ini. Sudah jelas-jelas ia menunjukkan bahwa dirinya sedang kesal. Menggunakan earphone sebagai alasan kenapa ia tidak menyahut adalah ide paling sederhana yang dipilih Steven agar Marc langsung peka kalau Steven sedang kesal padanya. Tapi, kenapa malah begini? Bagaimana bisa dia langsung percaya saat Steven berkata kalau dirinya kecapekan? Mengantuk? Ingin tidur? Oh, bolock!!!

Dilihatnya terus Marc yang perlahan-lahan meninggalkannya, melenggang dengan santai menuju ruang pandang. Punggungnya menjauh, langkahnya begitu ringan, seolah-olah tak punya dosa. Steven merasa makin kesal. Ingin sekali ia melempari Marc dengan batu bata.

"Well, have fun!" Serunya seraya membanting pintu dengan keras.

Beberapa meter di depan sana, Marc mematung karena kaget. Ia membalikkan badannya, menatap pintu kamar Steven yang masih terlihat bergetar karena dibanting terlalu keras.

HeadmatesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang