35. Field of the Reeds

213 25 9
                                        

"Panggil ambulans!!!" teriak Layla kepada semua kerumunan yang mengelilingi tubuh mantan suaminya. Ia tak sadar mengatakan itu sambil bergetar hebat. Air matanya berderai-derai. Ia benar-benar ketakutan.

Layla baru turun dari taksi setidaknya sekitar setengah menit sebelum orang-orang di sekitarnya tiba-tiba menjerit histeris sambil bergerombol pada satu titik. Tak ada prasangka apa-apa di benaknya kecuali rasa penasaran dengan hal macam apa yang membuat keributan sampai sebegitu hebohnya.

Namun ketika mengetahui bahwa sesuatu yang digeromboli oleh orang-orang itu ternyata adalah Marc, jantungnya seketika lepas dari tangkainya. Jatuh ke dasar perutnya. Ia melihat Marc tergeletak lemas di trotoar, dengan darah merembet ganas dari perutnya, berlomba-lomba mencari jalan untuk membasahi aspal.

Layla segera bersimpuh di sampingnya, menggoyang-goyangkan tubuhnya seraya berteriak memanggil namanya, namun Marc tak menyahut. Matanya sudah tertutup. 

Layla kemudian menggunakan syal merah yang dirajutkan oleh ayahnya untuk menambal sumber luka Marc. Ia menekan kain itu sekuat mungkin, tapi itu sepertinya tak membuahkan banyak hasil. Perut pria itu bolong dan Layla langsung tahu bahwa itu adalah bekas tembakan, tapi ia tak punya waktu untuk mencari tahu siapa yang berani melakukan hal itu pada mantan suaminya. Bukankah seharusnya Marc dan Steven sudah bersih dari semua hal-hal yang berbau kriminal? Apa ini karena masa lalunya yang kelam? Sehingga ada yang ingin membalas dendam? Atau... atau....

"Mereka datang!" kata seorang warga sipil yang sepertinya sudah di sana sejak tadi. Ia juga sepertinya sudah menelpon ambulans setelah peristiwa itu terjadi.

Tak lama kemudian, beberapa petugas kesehatan datang sambil menenteng tandu. Penonton yang bergerumul di sisi jalan seketika terbelah, memberi ruang bagi mereka untuk mengangkat Marc menuju ambulans. Layla ikut masuk. Para tenaga medis itu segera melakukan tugasnya dengan cekatan. Mereka mengambil selang infus, kantong darah, dan obat-obatan serta perban untuk memberikan penanganan pertama pada Marc sebelum dilarikan ke rumah sakit. Semuanya dilakukan dengan terburu-buru namun sesuai prosedur.

Layla tak mau melepaskan syal itu dari perut mantan suaminya. Ia takut darah itu akan menyembur ganas jika ia sampai mengangkatnya. Meskipun sebenarnya, darah Marc sepertinya sudah habis keluar. Ia nampak begitu pucat. Kulitnya terasa dingin seperti mayat. Tapi nadinya masih ada. Tersisa beberapa detak.

"Ayolah Marc... Steven... bertahanlah...!"

Sampai sirine ambulans itu bergema memenuhi jalanan, para petugas medis itu masih tetap sibuk mempereteli alat-alat untuk menyelamatkan nyawa Marc dan Steven. Seorang tenaga medis wanita membantu Layla untuk menutup luka tembak itu dengan layak.

"Dia kehilangan banyak darah! Cepatlah!" kata petugas medis wanita itu kepada si supir.

Mobil itu berlari dengan sangat laju, membelah jalanan tanpa sopan santun. Untuk beberapa saat, setelah melihat reaksi para petugas medis yang pasrah, Layla berpikir bahwa Marc maupun Steven mungkin tak akan selamat. Mereka seperti sudah ada di ujung kematian, dan ia tak bisa apa-apa soal itu. Ia hanya bisa ikut pasrah.

Namun di tengah-tengah keputusasaannya, ia teringat akan Taweret. Dewi pemandu roh yang pernah menjadi teman baiknya. Jika pun benar mereka tak bisa bertahan kali ini, Layla ingin tahu. Ia berharap ia diberitahu sebelum kematian itu benar-benar terjadi. Ia berharap Taweret mengabarinya jika Marc dan Steven ada bersamanya. Tapi ia sadar bahwa hubungannya dengan Taweret sudah berakhir, sehingga mustahil baginya untuk bisa berkomunikasi dan bertanya pada Dewi Mesir itu.

Maka dari itu, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa. Semoga jalan keduanya dimudahkan di alam sana. Semoga mereka bisa dipandu menuju keabadian dengan aman.

HeadmatesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang