Steven tak tahu tindakan macam apa yang harus diambilnya setelah kejadian tadi malam. Entah itu cara yang terbaik atau tidak, namun menghindari dan mendiamkan Marc adalah satu-satunya keahlian yang bisa ia lakukan.
Pagi-pagi Steven sudah mendapati dirinya menjadi pilot. Ia segera bangun, bersiap-siap berangkat kerja, dan berusaha menghindari setiap cermin dan segala macam benda yang berpotensi bisa memantulkan bayangan. Dalam perjalanan ke Museum, ia melangkah dengan tergesa-gesa, berusaha menyibukkan pikirannya dengan bersiul dan mendendangkan lagu-lagu milik Engelbert Humperdinck. Seolah-olah, kalau pikirannya kosong sedetik saja, ia akan kerasukan dan perlu diruqyah.
Namun usaha itu tentu tidak akan berjalan mulus jika yang satunya tidak mengambil jalan yang sama seperti yang Steven lakukan. Marc rupanya tidak berniat sedikitpun untuk menghindari Steven. Usaha yang ia lakukan malah berbanding terbalik. Meskipun ia jadi segan dan merasa malu karena apa yang telah diperbuatnya tadi malam, tapi ia tetap ingin berusaha meluruskan keadaan. Ia ingin menjelaskan kejadian tadi malam pada Steven, namun Steven benar-benar berusaha menghindarinya.
Marc tak bisa lagi mengharapkan pantulan bayangan maupun percakapan pikiran, karena selain Steven mati-matian menghindari kaca dan cermin, ia juga tiba-tiba menjadi tuli. Satu-satunya cara agar Steven mau bicara dengannya adalah dengan ia mengambil alih kemudi, memaksa Steven duduk di ruang pandang, lalu mendengarkan semua apa yang ingin disampaikannya. Tapi entah kenapa, hari ini Steven sangat kuat. Beberapa kali Marc mencoba masuk ke depan, tapi Steven me-reject-nya tanpa ampun. Alhasil, Marc terhempas dan terguling-guling di ruang pandang. Hampir tiga belas kali. Jake sampai tak bisa tidur nyenyak karena terus-terusan mendengar Marc terjatuh ke lantai.
Marc menyerah sepanjang siang itu. Sorenya, ia kembali mencoba bicara dengan Steven, namun tetap tak ada hasil. Steven sepertinya memiliki rencana lain sore ini sehingga caranya mengabaikan Marc sedikit lebih manusiawi. Ia betul-betul bekerja keras untuk menyelesaikan inventarisnya sebelum jam 6. Kemudian setelah itu, ia berkemas dan izin pamit pada Dane dan manejer kantornya. Dane mengangguk dan bersikap seolah-olah tahu Steven akan melakukan apa. Hal itu membuat Marc kebingungan.
"Steven, kau mau ke mana?" Marc bertanya setelah Steven menaiki bus yang rutenya berlawan dengan arah menuju flat. Namun Steven tidak menjawab. "Steven, aku mohon, jawab aku. Apa kau mau merahasiakan segalanya dariku sekarang?"
Tak disangka-sangka Steven tiba-tiba menghela napas, kemudian menatap Marc yang tengah duduk di kaca bus. "Aku mau ke bandara, menemui Layla," katanya setengah tak acuh, lalu mengalihkan pandangannya lagi.
Marc seketika melongo seperti orang yang ditinggal lari oleh otaknya. "Excuse me... what?!"
"Aku tak akan mengulanginya dua kali. Akulah yang seharusnya tuli hari ini, bukan kau," kata Steven dengan ketus.
"Okay, tapi bisakah kau jelaskan lebih detail lagi? Kau memberiku headline news tanpa menyertakan isinya dan berharap aku tidak kebingungan?"
"Kalau begitu tanyalah, aku akan menjawabnya."
Yang terjadi berikutnya tidak sesuai harapan Steven. Pertanyaan Marc terlalu banyak dan berkembang biak dengan cepat. Otaknya tak mampu menjawab semua itu sekaligus.
"Dia menelponku kemarin siang, dan berkata kalau dirinya akan pulang dari Amerika ke Mesir, namun harus transit dulu ke London. Kami punya waktu sekitar satu jam untuk bertemu sebelum penerbangan berikutnya."
"Kami? Maksudmu kita, bukan?" koreksi Marc.
"Tidak. Cuma aku dan Layla."
Marc melongo tak percaya. "Serius Steven? Apa sebenarnya masalahmu?"
"Kau sendiri yang tidak mau menemuinya."
"What??!" Marc berseru kesal. "Kau saja tak memberitahuku kalau dia menelpon!"
Steven terkekeh jengkel. "Tentu kau tak tahu karena kau menghabiskan semua waktumu dengan Jake!" katanya, hampir lepas kendali. Sesaat kemudian ia sadar bahwa itu adalah respon yang bodoh. Itu terlalu eksplisit, terlalu jelas. Kenapa perasaan cemburu itu masih saja mengganggunya?
"Oh, jadi kau masih kesal dengan Jake, ya?" kali ini Marc menurunkan nada bicaranya. "Aku kira itu sudah tidak jadi masalah lagi setelah aku berkata bahwa tak akan ada yang bisa menggantikanmu, Steven."
Steven diam.
"Aku serius soal itu."
Steven melipat tangannya di dada, kemudian memiringkan tubuhnya menjauhi kaca.
Marc mencoba memulai lagi. "Justru yang kukira jadi masalah adalah ketika aku—"
"Marc, aku mohon, hentikanlah! Jangan berkata apa-apa lagi," Steven segera menyergah. Kejadian tadi malam samar-samar mulai berkelebat lagi di otaknya. Ia benar-benar tak ingin itu terjadi sekarang, apalagi di dalam transportasi umum.
"Tapi, Steven...."
"I said shut up!" Suara Steven agak keras dan penuh amarah, membuat penumpang bus yang lain menoleh padanya. Tapi Steven tidak peduli. "Dengar Marc, aku akan mengatakannya sekali lagi. Kau tak perlu muncul di hadapan Layla."
Marc jadi jengkel. "Oh, begitu? Bagaimana kalau dia menanyakan aku? Apa kaupikir dia tidak akan menanyakanku? Apa kaupikir dia telah melupakan mantan suaminya begitu saja? Ayolah Steven, yang benar saja! Bagaimana kau akan menjawabnya? Kau akan bilang kalau aku sudah mati? Dan kau menjadi pemilik tubuh itu sepenuhnya?"
"Tidak. Aku hanya tinggal bilang kalau kita bertengkar sehingga aku tak ingin kau ada di sana."
"Wow, rencana yang bagus. Bagaimana jika dia bersikeras untuk menemuiku?"
"She won't," kata Steven percaya diri.
"Aku akan memaksa masuk Steven, aku bersumpah."
"Coba saja. Kau sudah gagal seharian ini," Steven menantang.
Amarah Marc memuncak. Ia sudah tak tahan dengan semua ini. Steven benar-benar menyebalkan, persis seperti dulu. Memang, setelah kembali dari Duat, keduanya masih sering cek-cok karena masalah sepele. Tapi yang ini.... Keadaan ini benar-benar membuat mereka seolah-olah memulai semuanya dari nol lagi.
"Apa yang akan kaukatakan kalau dia bertanya kenapa kita bertengkar?" tanya Marc.
"Karena Jake," jawab Steven dengan polosnya.
"Apa? Apa kau gila?! Astaga, please Steven, demi Tuhan beserta jajarannya, Jangan katakan apa-apa soal Jake! Dia tak perlu tahu. Karena kalau dia tahu, itu akan membuatnya mengkhawatirkan kita lagi, dan aku tidak mau itu terja—"
"Apa yang salah dengan dia mengkhawatirkan kita?" Steven memotong dengan kesal.
"I-Oh really? Kau serius Steven? Apa kau tak ingat apa yang terjadi terakhir kali waktu Layla mengkhawatirkan kita?"
Steven menatap kaca itu lagi.
"Dia berada dalam bahaya, Steven. Itu yang terjadi. Coba pikirkan, jika dia tahu kalau Jake berurusan dengan Khonsu, dia pasti akan...," Marc mengambil jeda untuk mengatur kembali napasnya. "Dengar, sudah cukup Layla menderita karena kita. Sekarang dia sudah bebas, jadi tolong... ambil lah keputusan dengan bijak!"
Steven kembali membuang muka, merenung. Yang dikatakan Marc memang benar. Wanita secantik dan sebaik Layla tak layak berada dalam bahaya. "Baiklah, aku mengerti," katanya pada akhirnya. "Tapi kita tetap pada kesepakatan awal. Jangan muncul kecuali jika aku mengizinkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Headmates
Romantik"You are the only real super power I ever had." Marc mengira Steven tidak bisa mendengarnya kala itu. Kalimat itu memang pendek, tak lebih panjang dari untaian pita yang biasanya menjadi hiasan bunga pernikahan, namun itu sudah lebih dari cukup untu...
