45. Sharing is Killing

77 7 6
                                        

Jake masih merasa bahwa semua itu adalah mimpi. Petualangan di Duat. Tangan-tangan buntung itu. Portal lintas alam persimpangan itu. Mayat-mayat pasir. Kapal Taweret. Taweret. Harrow. Wow.... Namun, meskipun semuanya terasa seperti mimpi, satu hal yang begitu segar diingatan Jake adalah kecupan hangat Steven di pipinya. Begitu pula dengan janjinya untuk belajar mencintai Jake.

Jake tak berani menanyakan soal janji itu setelah mereka pulang dari rumah sakit. Steven dan Marc juga tak mengungkitnya. Mereka pulang dan semuanya kembali normal. Namun semuanya berubah saat Marc menyeret Steven ke dalam Headspace, membuat Jake terperangkap dalam tubuh yang kekurangan darah dan nutrisi itu.

Tak butuh waktu lama sampai Jake mendengar desahan dan erangan Steven yang bergema bagaikan nyanyian. Jelas terdengar bahwa pria pujaannya itu tenggelam dalam kenikmatan birahi. Ia terus merintih, memohon lagi dan lagi, membuat ranjang peot itu berderit tanpa henti. Dari mulutnya, hanya keluar nama Marc. Ia menyebutkannya seperti melodi, membuat Marc kehilangan kendali.

Jake menyumpal mulutnya dengan semua makanan yang mereka bawa dari rumah sakit, mencoba untuk mengalihkan perhatian. Mencoba fokus pada rasa lapar yang menggerogoti tubuhnya setengah mati. Tapi sayang, melodi yang keluar dari mulut Steven mendominasi pendengarannya. Hati Jake hancur. Segera ia sadar, bahwa janji itu hanyalah omong kosong. Ia pun menangis semalaman, dan Jake bukanlah tipe pria yang suka menangis. Pikiran negatif menguasainya. Ia merasa begitu bodoh karena percaya kalau orang sepertinya layak mendapatkan kesempatan.

Namun besoknya, Steven membangunkannya, memintanya untuk co-fronting dengannya. Mereka mau menemui Layla di pameran. Hanya mereka berdua yang pergi, tanpa Marc.

Jake tahu alasan Steven mengajaknya adalah karena ia ingin memperkenalkan Jake dengan Layla, bukan karena ingin menghabiskan waktu bersamanya. Jake menjadi cukup kesal setelah tahu akan alasan itu. Namun semuanya berubah saat Steven membawanya berpetualang mencari sarapan.

"Kita harus makan dulu, hmm? Aku masih merasa lemas. Makanan dari rumah sakit sepertinya masih belum cukup untuk membuat energi kita pulih. Akan sangat tidak lucu kalau kita tiba-tiba pingsan saat di pameran, 'kan Jake? Kasihan Layla," ujarnya.

Awalnya Jake tidak merespon, karena ia ingin Steven tahu bahwa ia kecewa. Namun mendengar Steven begitu semangat berceloteh sambil terus-terusan tersenyum manis padanya melalui kaca-kaca toko, Jake lemah. Ia tak bisa menolak senyuman itu. Apalagi saat Steven seolah-olah membuat senyuman itu khusus untuk Jake.

"Maaf, Jake. Aku... aku tak bisa melakukan semua ini dengan cepat," kata Steven tiba-tiba. Saat itu mereka sudah di restoran vegan, sarapan salad mentimun. Jake sangat senang mendengar Steven bercerita tentang mimpi-mimpinya yang aneh. Ia nampak begitu semangat, dengan kabel earphone menggelantung di telinganya, jadi seolah-olah ia bicara dengan seseorang di telepon, sehingga orang-orang di sekitar tak menganggapnya gila. Jake sangat jatuh cinta, tenggelam dalam pesona Steven melalui jendela restoran. Bahkan sampai saat Steven tiba-tiba mengatakan itu, ia masih belum fokus sepenuhnya. "Kau tak keberatan 'kan kalau kita pelan-pelan? Maksudku...."

Jake paham betul apa maksudnya. Ia sama sekali tidak keberatan. Asal itu Steven, ia tak peduli meskipun harus menunggu seumur hidup.

"Of course, Steven. I'll wait you, and I'll be so patient. Because you're everything I ever wanted, cariño."

Telinga Steven menyala merah. Sipu malunya membuat Jake menahan diri agar tidak mengeluarkan hatinya dan menyerahkannya mentah-mentah pada Steven.

Perkenalan Layla berjalan dengan baik. Saking baiknya, tidak ada yang terasa menarik bagi Jake. Ia yakin, jika Layla membuat peringkat tentang siapa yang paling disukainya dari mereka bertiga, Jake pasti berada di urutan paling bawah.

HeadmatesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang