42. Some Problems with Sand

80 10 2
                                        

Jujur saja, Marc tak tahu harus bagaimana lagi.

Dia mencoba mendekat sebanyak tiga kali, hanya untuk dipukul oleh Steven sebanyak sembilan kali.

"Baby please... listen to me...."

Tangan Steven sangat akrobatik. Menyerang seperti sekelompok gagak yang memperebutkan bangkai. Marc blangsak. Tapi setelah beberapa lama, ia berhasil menangkap kedua tangan itu, memeganginya sekuat namun selembut mungkin, mencoba menenangkannya. Tapi sekalinya kedua tangannya berhasil dilumpuhkan, sekarang giliran tubuh Steven yang meronta-ronta kesetanan. Ia mencoba menjauh dari Marc yang berusaha memeluknya.

"Steven, tenanglah... kumohon-"

"No! Get off of me!!"

"Hei... hei... tatap aku... dengarkan dulu...," paksa Marc. Ia menangkup kedua pipi Steven dengan lembut.

Steven akhirnya menurut juga. Tapi ia tidak luluh. Wajahnya merah padam, matanya berkaca-kaca dan pipinya penuh air mata. Marc ingin menusuk dirinya sendiri mengetahui ialah yang menyebabkan itu semua.

"Kau meninggalkanku," suara Steven tak lebih dari bisikan, penuh luka. "Kau mencoba meninggalkanku!"

"Tidak! Aku berusaha menyelamatkanmu," Marc membantah. Suaranya serak, membuatnya terdengar seperti membentak. Ia tak bermaksud terdengar seperti itu.

"Oh, shut up! Kau pikir itu yang kaulakukan?! menyelamatkanku?!"

"Ya, itu yang kulakukan, Ste-"

"Aku tak ingin diselamatkan!" pungkas Steven. Suaranya melengking, membuat Marc bungkam seketika. "Aku cuma ingin bersamamu!" lanjutnya setengah berbisik. Ia menunduk. Tangisnya kembali pecah.

Dan Marc hanya memandanginya. Namun setelah beberapa saat, ia mengangkat dagu Steven, memaksanya untuk menatapnya.

"Tapi sekarang kita sudah bersama, Steven. Everything is okay."

Steven menutup matanya, kemudian menggeleng-geleng untuk menyingkirkan tangisnya. Untuk sesaat ia hanya diam, sampai akhirnya ia meraih jari-jari tangan Marc, memainkannya dengan malu-malu.

"Aku kira... aku kira aku tak akan pernah melihatmu lagi."

Marc meremas tangan Steven dengan lembut, melilitkan jari-jari mereka sehingga rasanya mustahil bisa terpisah lagi.

"Aku juga. Aku sangat ketakutan karena itu."

Steven mengangkat wajahnya, menguatkan diri untuk menatap Marc. Ketika mata mereka bertemu, sangat sulit untuk menghindari percikan itu. Tubuh mereka mulai terasa panas, dan Steven memberanikan diri untuk mencondongkan tubuhnya ke depan, mencium Marc.

Marc merasa terbakar saat bibir Steven menyentuh bibirnya. Namun, itu hanya di awal. Karena setelah beberapa saat, ludahnya yang pahit tiba-tiba terasa manis.

Marc membuka mulutnya perlahan-lahan, membiarkan Steven memperdalam ciumannya. Ketika lidah mereka bertemu, tubuhnya langsung menghangat. Sama hangatnya dengan cairan bening yang ia tidak sadari telah menetes dari tepi matanya. Semuanya terasa sangat emosional sehingga ia harus menutup matanya karena tubuhnya bergetar.

"Fuck, I miss you so much," Marc mengerang di antara ciuman mereka.

Steven mengakhiri ciuman itu untuk menstabilkan napasnya. Namun ketika bibir mereka terputus, Marc mulai bergetar dan menangis sesenggukan. Steven memeganginya agar tetap stabil, kemudian menariknya ke dalam pelukannya.

Marc menangis sejadi-jadinya di bahu Steven.

"I love you."

Sejak dulu, Steven memang mudah tersentuh. Mendengar Marc mengucapkan kalimat itu, dengan suara yang rendah dan putus asa sembari bernapas di lehernya, tubuh Steven merinding hebat.

HeadmatesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang