23. I'm Not Going Anywhere 'till I Know that You're Okay

324 62 13
                                        

Marc terbangun dalam keadaan sakit kepala, seperti ada palu yang memukul-mukul batok tengkoraknya tanpa ampun. Matanya berdenyut-denyut dan berputar hebat. Mulutnya mengerang perlahan, disusul oleh pengelihatannya yang berangsur-angsur membaik. Cermin di samping ranjang, tumpukan-tumpukan buku, tangki Gus & Dus, serta rubik yang ada di meja mulai dapat terbaca oleh retina matanya. Marc pun segera sadar, ia ada di kursi kemudi.

"Steven?" ia memanggil dengan susah payah. Suaranya serak, bibirnya terasa sangat tandus seperti gurun pasir.

Steven baru menjawab setelah Marc turun ke lantai dan berusaha keras menggunakan kakinya untuk berdiri. "Ya... aku di sini," katanya, lemas. Keadaannya terdengar tak lebih baik dari Marc.

Marc kembali duduk di sisi ranjang setelah merasa bahwa kakinya belum siap untuk berjalan. "Apa yang terjadi?"

Di dalam sana, Steven bangkit dari lantai keramik yang berwarna putih, kemudian terhuyung-huyung sambil memutar badannya untuk melihat sekitar. Ia masih ada di ruang pandang. Tak ada yang nampak rusak atau berantakan, kecuali kepalanya yang terasa retak karena habis terjun bebas ke keramik yang teksturnya keras itu. Steven ingat kejadian sebelum ia kehilangan kesadaran, tapi ia masih mencoba untuk memproses semua itu.

"Entahlah, Marc. Terakhir yang kuingat, Headspace dilanda semacam gempa. Aku pingsan."

"Jake...," suara Marc tiba-tiba terdengar panik. "Di mana Jake? Di mana Jake, Steven?!" tanyanya dengan napas yang mulai memburu. Dilihatnya jam yang ada di meja samping tempat tidurnya. Sekarang sudah pagi, jam tujuh lewat. "Shit! Where is he?!"

"Jake? Umm... entahlah. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, Marc."

"Semua ini pasti ulahnya!" Marc tiba-tiba mendapatkan seluruh tenaganya kembali. Ia nampak sangat murka. "Ke sini sebentar, Steven. Aku akan memberinya pelajaran."

Hanya dalam sepersekian detik, Steven sudah mendapati dirinya menjadi pilot. Ia langsung mendengar kelepak sepatu Marc dari ruang pandang menuju lorong.

"Marc, tenangkan dirimu dulu," bujuk Steven, tapi Marc tidak menghiraukannya. Ia menggedor-gedor pintu kamar Jake tanpa ampun. Galak sekali, tak ubahnya preman sewaan rentenir yang datang untuk menagih utang.

"Jake! Keluar sekarang!"

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di balik pintu itu.

"Buka pintunya, bangsat! Apa yang telah kaulakukan?!"

Nihil.

"Fuck!" Kali ini Marc menendang pintu itu dengan keras, meskipun tetap saja tak cukup kuat untuk bisa mendobraknya. "Jake, kalau kau tak keluar sekarang juga, maka aku akan—"

"Marc! Tenanglah!" Steven menyerempetnya dari luar. "Kalau kau kasar begitu—"

"Jangan ikut campur dulu, Steven. Ini urusanku dengannya. Dia mempermainkan perjanjian yang telah kita sepakati. Ini tak bisa ditoleransi dengan bersikap tenang."

Entah sekeras apapun Steven mencoba, kali ini ia tidak bisa menahan amarah Marc yang sedang meletup-letup. Kekasihnya itu benar-benar tak mau mendengar apa-apa darinya. Amarah telah menguasainya. Steven akhirnya cuma bisa diam dan mendengarkan semua umpatan Marc yang kasar dan mendidih minta ampun, menunggu momen yang tepat untuk menyelip masuk dan menenangkannya.

Ponsel yang tergeletak di samping jam tiba-tiba berdering setelah beberapa saat. Steven terpaksa mengalihkan perhatiannya dari Marc dan mengangkat benda itu. Panggilan dari J.B, ternyata. Steven mengerutkan kening, karena tumben sekali mantan rekan kerjanya itu menelponnya. Apalagi, sekarang masih pagi dan ada tiga panggilan tak terjawab darinya, yang artinya ini mungkin keadaan darurat.

HeadmatesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang