Sepulangnya dari mengantar Layla ke bandara, Steven enggan untuk kembali ke flatnya. Alasannya, karena jika ia langsung pulang, maka itu berarti ia harus segera menepati janjinya pada Layla, yaitu bicara dengan Marc. Ia tak sepenuhnya siap untuk itu. Itulah sebabnya, ia memutuskan untuk berjalan-jalan dulu di tepi Sungai Thames, sembari menyiapkan mental. Tapi, semakin keras Steven memikirkan cara untuk menghadapi Marc, semakin gugup ia jadinya. Akhirnya, setelah tahu bahwa semua itu sia-sia, ia pun pulang. Pukul sembilan kurang empat belas menit, ia sudah tiba di flatnya.
Begitu membuka pintu flat, yang menyambutnya hanyalah sepi. Steven sudah tak merasakan keberadaan Marc setelah kejadian di resto tadi, dan sekarang pun masih. Sementara Jake... Steven bahkan hampir lupa kalau pria beraksen hispanik itu juga tengah berada di dalam Headspace, karena saking jarangnya ia berkomunikasi dengan alternya yang satu itu.
Teringat akan jake, perasaan cemburu itu pun otomatis datang lagi, menyihir otak Steven yang ringkih dan suka overthinking. Jangan-jangan, Jake sedang menghibur Marc di dalam sana. Jangan-jangan, ia mencoba menenangkan Marc yang tengah sedih karena Steven menyakiti perasaannya. Jangan-jangan.... Ah, pokoknya banyak sekali 'jangan-jangan' yang terbesit di dalam kepalanya. Entah kenapa Steven sangat takut kalau salah satu dari 'jangan-jangan'-nya itu sampai terjadi. Ia takut sekali jika Marc menjadi nyaman dengan Jake karena Jake selalu ada disaat Marc tengah bersedih. Dan tentu saja, kalau itu sampai terjadi, Steven tak akan bisa menyalahkan siapa-siapa, karena ia sendiri yang membiarkan itu terjadi. Malah, ia lah yang menyebabkan itu bisa terjadi.
Tapi Steven tak bisa terus-terusan membiarkan dirinya dikuasai oleh pikiran-pikiran semacam itu. Ia sudah janji pada Layla untuk segera membereskan masalah ini, jadi ia tak boleh membuang-buang waktu. Segera setelah melepas sepatu dan jaketnya, Steven langsung naik ke ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya. Ia lalu memejamkan matanya, kemudian mencoba menelusuri Headspace menggunakan pikirannya.
Sebagai informasi, sangat sulit melacak seseorang di dalam Headspace jika ia tak berada di ruang pandang. Jika mereka ada di lorong atau di kamar, akan sangat susah untuk merasakan keberadaan mereka kecuali jika mereka tertidur atau jika mereka mengaktifkan semacam sensor yang ada pada tubuh mereka. Saat mereka tertidur, sensor itu secara otomatis akan aktif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal itu jugalah yang menjadi dasar mengapa autoswitch bisa terjadi. Sulit menjelaskannya secara naratif, tapi pokoknya... begitulah. Aturan di atas tidak selalu mutlak, karena Headspace memiliki sistem pengaturan sendiri yang sangat rumit dan tidak selalu mudah untuk bisa dipahami.
Saat ini, Marc mungkin sedang terjaga dan menonaktifkan sensornya karena permintaan Layla waktu di restoran, sehingga Steven tak bisa merasakan keberadaannya di dalam sana. Namun, ia bisa dengan mudah menemukan Jake yang sedang tidur di dalam kamarnya, mendengkur keras seperti anjing laut. Hatinya terasa sedikit lega, karena dugaannya tentang Jake yang saat ini sedang bersama Marc ternyata salah.
Dengan hati-hati, Steven menarik Jake ke ruang kemudi untuk menggantikannya. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam Headspace dan segera mencari keberadaan Marc. Tentu, perhentian pertamanya adalah kamar Marc yang terletak paling dekat dengan ruang pandang. Sesampainya di depan pintu kamar Marc, ia segera mengetuknya. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Steven hampir menyerah karena tak ada jawaban, namun setelah ketukan yang keenam, ia tiba-tiba mendengar suara langkah kaki mendekati pintu itu dari dalam. Seketika tubuh Steven menjadi panas dingin.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dengan pelan. Marc pun muncul setelah itu, dengan rambut berantakan dan wajah yang lesu. Namun setelah mendapati ternyata Steven yang mengetuk pintunya, ekspresinya berubah. Steven tak bisa mengidentifikasi perasaan yang Marc tunjukkan ketika melihatnya. Ia seperti kaget, senang, sedih, kikuk, marah, malu, dan bersemangat di saat yang bersamaan. Sungguh kombinasi yang aneh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Headmates
Romance"You are the only real super power I ever had." Marc mengira Steven tidak bisa mendengarnya kala itu. Kalimat itu memang pendek, tak lebih panjang dari untaian pita yang biasanya menjadi hiasan bunga pernikahan, namun itu sudah lebih dari cukup untu...
