Eps 17: Akhirnya

774 32 0
                                        

Selamat membaca~

"Seseorang yang akan menjadi
pemeran utama dalam permainan ini, bukan dia"
AD

Calansha kini masih berada di sekolah, setelah meminta bantuan kepada Danesh tentang Stasya, ia mencari Aarav untuk memperbaiki semuanya.

"AARAV!!" Calansha melihat Aarav sedang berjalan menuju belakang sekolah tempat biasanya ia nongkrong dengan teman-temannya.

Aarav yang mengenal suara itu pun berhenti tetapi ia tidak berbalik untuk menatap Calansha. Calansha tersenyum, akhirnya ia berlari menuju tempat Aarav berdiri.

Calansha memegang tangan Aarav dan menggenggamnya. "Aar....maafin aku ya."

Lagi-lagi Aarav hanya diam menatap depan, ia tidak mau menatap wajah Calansha yang bisa saja membuatnya luluh dan memaafkan gadis itu dengan mudah.

"Aku nggak akan dekat-dekat sama Danesh lagi. Aku khawatir banget sama kamu, kamu kemarin kemana aja? Aku telfonin kamu berkali-kali tapi nggak ada jawaban sekali."

"Kamu tau? Aku sayang banget sama kamu, aku udah nunggu kamu lama banget. Aku bahkan dulu mau sekolah di luar negeri karena kematian se-" seakan tersadar dengan ucapannya, Calansha berhenti dan menunduk. Ia meneteskan air matanya, mengingat seseorang yang sudah sangat jauh darinya.

Aarav langsung menoleh saat mendengar kematian. Yang dimaksud kematian siapa?
"Siapa?" Calansha hanya menangis, ia tidak sanggup memberi tau siapa orang itu.

"A-aku belum bisa kasih tau." Aarav yang tidak tega melihat Calansha ia pun memeluk gadis itu. Tangisan Calansha pun langsung pecah. Aarav mengelus kepala gadis itu.

"Sstt...udah, kalau belum siap kasih tau gapapa. It's okay." Usapan lembut uang diberikan Aarav dan kata-kata yang dilontarkan Aarav membuat Calansha sedikit lebih tenang.

Aarav membaca gadisnya untuk duduk, di dekat tempat mereka berada ada kursi yang menganggur.

"Maafin aku. Aku nggak bermaksud bohongin kamu. Danesh kemarin minta tolong, a-aku nggak enak kalau tolak. Jadi, aku terima aja," Aarav menghembuskan napasnya dengan kasar. Bagaimana ini?

"

Kenapa harus bohong? Kamu bisa bilang sama aku."

"Aku takut kamu marah..." Lagi-lagi Aarav hanya menghembuskan napas.

"Lain kali jangan bohong lagi ya." Aarav menangkup kedua pipi Calansha dan menghapus sisa-sisa air matanya.

Calansha mengangguk lucu membuat Aarav tersenyum. "Sekarang, kamu punya aku." Jantung Calansha berdetak sangat kencang. Apakah barusan Aarav menembaknya? Ah bukan, melainkan meng-klaimnya. Bukankah dari dulu Aarav sudah meng-klaimnya menjadi gadisnya? Tapi, sepertinya hari ini lebih dari gadisnya. Pacar? Mungkin..

Calansha tersenyum manis sambil menatap mata Aarav. Mata tajam itu sangat indah bagi Calansha.

Calansha kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang Aarav sambil tersenyum.

Akhirnya...mereka berdua official juga😁

🌻🌻

Calansha kembali ke kelasnya dengan senyum di wajahnya. Calansha bolos pelajaran selama beberapa menit tapi tidak apa-apa, sekarang ia sangat senang.

"Calansha, kamu dari mana saja?" Tanya guru yang sedang mengajar di kelasnya.

"Dari toilet." Guru itu melihat jam tangannya...

"Selama itu?" Namanya jika tidak Calansha, kalau ia tidak pandai.

"Saya berak." Semua teman-teman Calansha tertawa, di mana tampang cool seorang Calansha. Bahkan, dia membuat seisi kelas tertawa mendengar jawabannya. Ini merupakan hal langka, Calansha seperti itu.

"Diam kalian semua!! Kembali ke tempatmu." Calansha kembali dengan wajah datarnya. Padahal dia baru saja ngelawak, mungkin kalau orang lain yang mengatakan itu...tidak menjadi lawakan. Mungkin....

"An, lo habis dari mana? Gue tau lo nggak habis berak." Calansha tersenyum manis kepada Becca, gadis itu bergidik ngeri mengapa Calansha berbeda? Apakah dia bukan Calansha?

"Nanti gue kasih tau." Seketika Becca merinding saat mendengar Calansha berbisik tepat di telinganya.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, semua murid  berhamburan keluar kelas untuk pulang. Terpancar kebahagiaan di wajah mereka.

"An, lo tadi dari mana?" Sepertinya Becca masih saja kepo dan dia juga sedikit curiga mengenai perubahannya.

Calansha menatap temannya satu-satu. Kemudian dia tersenyum lebar. Semua cengo menatap Calansha.

"Wahai setan, iblis ataupun jin yang berada di tubuh Calansha...keluarlah!!" Suara lantang Trita mengagetkan semuanya, ia sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Calansha.

"Ck, gue nggak kemasukan atau kesurupan." Decak Calansha sebal sambil menyingkirkan tangan Trita dari dahinya.

"Tapi beneran kan? Lo Calansha?" Calansha memutar bola matanya malas, ada apa dengan temannya?

"Bener. Gue gapapa, setidaknya kalian diem dulu. Gue jelasin apa yang terjadi," ucap Calansha membuat semuanya diam.

"Gue jadian sama Aarav."

Kalian pasti udah tau kan, siapa yang paling heboh

Brakk

"WHAT?!!" Trita berteriak sambil menggebrak meja membuat semua mengelus dadanya masing-masing.

"Trita, jangan gebrakin meja juga." Nasehat Fara dengan halus.

"Hehe...refleks, kapan? Dimana? Dan dengan siapa?"

"Goblok lo, ya sama Aarav lah masa setan." Nay menonyor kepala Trita cukup kencang membuatnya oleng sedikit.

"Kok bisa sih?" Becca yang masih penasaran pun tanya kepada Calansha dan dengan senang hati Calansha menjelaskan.

_
_
_
_
_
_

Jangan lupa komen sama vote ya, biar author tambah semangat buat update-nya

Instagram: naaksara19

Who Is She? [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang