Panggil saja author 'Bae' atau 'Beb'
.
.
.
.
Jangan lupa follow akun bae, vote dan komentarnya, terimakasih <333
.
.
.
.
***
Setelah kejadian dimana Armor memperkosa adik sepupu dari kekasihnya itu, keesokan paginya, Armor terbangun dengan kondisi sakit kepala yang luar biasa, Armor juga menemukan dirinya tengah memeluk seorang perempuan yang ternyata bukanlah Feranda. Setelah menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal, di sinilah Armor sekarang, dimana Feranda dan keluarganya berkumpul.
Feranda menangis dipelukan Silva yang merupakan ibunda dari Armor, kekasihnya. "Bagaimana ini, Mama? apa yang harus Nda katakan pada Kakek dan Nenek di sana? Nda sudah gagal menjaga adik Nda sendiri."
Silva mengusap punggung Feranda, "Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama..."
"Baguslah jika adikmu itu hamil anak Armor, dengan begitu aku akan segera mempunyai cicit."
Seorang wanita paruh baya menatap tajam ke arah Feranda seraya mengangkat jari telunjuknya, "Tidakkah kamu sadar, Feranda?! Kamu terlalu egois! Armor sudah banyak berkorban untuk kamu! bahkan dia selalu mengalah terhadap sikapmu yang keras kepala itu! Lihatlah sekarang? Jika bukan karena kamu yang berulang kali menolak Armor, mungkin adikmu tidak akan memiliki nasib seperti ini! Jadi pihak yang harus disalahkan itu kamu!"
"Cukup, Oma!" ujar Armor meninggikan nada suaranya.
"Armor! Sekali lagi kamu berkata dengan nada tinggi seperti itu, Papa tidak segan-segan untuk menghajarmu!" bentak Javier seraya menatap tajam putranya.
Armor menjambak rambutnya, "Maaf. Armor yang salah, jadi berhenti menyalahkan Feranda."
"ARMOR!" bentak Kate. "Kenapa kamu membela perempuan itu?!"
"Cukup, Oma." Armor berujar dengan nada dinginnya.
"Armor," panggil Javier menatap tajam ke arah Armor. "Ikut Papa, ada yang harus Papa bicarakan padamu."
Javier langsung melenggang pergi diikuti Armor di belakangnya, sedangkan yang lain tengah sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Silva yang merasa keadaan mulai tenang pun kembali bertanya kepada Feranda, "Lalu bagaimana keadaan adikmu sekarang?"
Feranda masih saja menangis, namun perempuan itu tetap berusaha untuk menjawab.
"Selama tiga minggu ini... Kay lebih suka mengurung diri. Nda kira Kay marah karena Nda tidak pulang dan meninggalkan Kay sendiri di apartemen selama lima hari, nyatanya bukan karena itu, saat Kay ditanya kenapa, Kay tidak ingin menjawab dan memilih menangis." Feranda menjeda ceritanya, "Nda mulai berpikir jika Kay mengalami stres akibat masa pembelajaran online, tapi saat Nda melihat keadaan Kay kemarin..."
Feranda mulai menangis kencang, "Kay tergeletak tak sadarkan diri di kamar mandi dengan alat test pack di genggamannya. Kay... Kay hamil dan saat Kay sadar, Kay mulai menceritakan semuanya. Ayah dari bayi itu adalah Armor, Nda... Nda harus bagaimana Ma? Nda sangat menyayangi Kay, tapi Nda juga mencintai Armor."
"Pembohong! Jika benar kamu mencintai Armor, tidak mungkin kamu berulang kali menolak ajakan Armor yang ingin menikah denganmu, Feranda! Dasar perempuan egois!" ujar Kate yang menatap Feranda dengan sorot penuh kebencian.
"Sudah, Oma," ujar Silva menengahi.
Tiga puluh menit telah berlalu. Terlihat Javier dan Armor menghampiri ketiga perempuan yang masih berada di ruang tengah, tempat tadi mereka berkumpul. Javier menghela nafas berat, lalu menatap Feranda dengan lembut.
"Nda..." panggil Javier.
Feranda menoleh dan melepaskan dirinya dari pelukan Silva. "Iya, Pa?"
"Papa tahu jika kamu mencintai Armor, begitu pun sebaliknya. Tapi menurut Papa, ini sudah menjadi keputusan terbaik untuk kalian." Javier menjeda ucapannya, "Kamu bisa fokus pada karirmu sebagai model tanpa harus terbebani dengan tanggung jawabmu sebagai ibu rumah tangga. Sementara itu, Armor juga telah menyanggupi untuk bertanggung jawab agar kami bisa segera memiliki cucu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chayyara
RomanceChayyara, gadis itu harus kehilangan masa remajanya ketika takdir menggariskan Chayyara yang harus menikah dengan pria dingin, kekasih dari kakaknya itu yang sudah menghamilinya. Penasaran dengan kisah selanjutnya? BISA BELI EBOOKNYA LANGSUNG YA, TE...
