Chapter 32 - Tidak Terima

66.1K 4.6K 113
                                        

Siapa yang nungguin?

Jujur tadinya aku ga bakal up loh karena otak lagi mumet banget, tapi pas baca komentar kalian yang receh bikin aku ngakak banget sama punya mood buat nulis hihi, pokoknya big luv buat kalian <333
.
.
.
.
Jangan lupa follow akun aku, vote dan komentarnya yaaa, terimakasih!!!! <333
.
.
.
.

***

Chayyara memperhatikan wajah Armor yang masih terlelap dalam tidurnya. Jari-jari lentik Chayyara menyusuri wajah tampan Armor, dari mulai alis, hidung, bibir hingga pipi suaminya itu.

Chayyara masih tidak percaya jika ia akan menikah dengan pria sempurna seperti Armor, Chayyara kira ia sedang bermimpi karena terlalu banyak membaca novel romantis dimana tokoh perempuan selalu mendapatkan pria yang sempurna.

Armor membuka matanya, merasa terganggu karena ada sentuhan di wajahnya. Armor disuguhkan pemandangan istri kecilnya itu yang tengah tersenyum. Hal itu membuat Armor ikut tersenyum, ia kembali memejamkan matanya, menikmati sentuhan Chayyara yang lembut.

"Kay suka warna mata Kak Armor," ujar Chayyara pelan.

"Semoga...baby-baby Kay warna matanya sama seperti Kak Armor," ujar Chayyara lagi dengan penuh harap. Chayyara mengusap pelan di bagian alis suaminya itu, "Tapi Kay juga tidak suka mata Kak Armor..."

Armor membuka matanya, menatap Chayyara dengan sebelah alis terangkat. Bingung dengan ucapan Chayyara yang mengatakan suka dan tidak suka secara bersamaan tentang matanya.

"Seram..." ujar Chayyara terus terang. "Seperti ada pisau di mata Kak Armor..."

Mendengar itu Armor tersenyum miring, pria itu mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Chayyara, menggigitnya pelan saking gemasnya pada istri kecilnya itu.

"Ahh..." Chayyara membelalakan matanya ketika menyadari ia sudah mengeluarkan suara aneh. Chayyara langsung menutup mulutnya, menatap kembali suaminya yang tengah tersenyum misterius kepadanya.

"Kay capek, Kak..." ujar Chayyara dengan wajah memelas.

Armor langsung mengambil posisi di atas Chayyara, pria itu menyeringai membuat Chayyara panik.

"Saya janji ini yang terakhir..." Armor langsung mencium leher Chayyara sedangkan perempuan itu memberontak.

"Tadi malam juga Kak Armor bilangnya janji yang terakhir... janji yang terakhir tapi tetap saja keterusan... Aaaaa!"

***

Merasa diperhatikan, Armor yang tengah mengancingkan lengan kemejanya itu beralih kepada Chayyara yang masih berbaring di ranjang mereka, memperhatikan wajah istri kecilnya itu yang terlihat kesal padanya.

Armor tersenyum miring, menghampiri Chayyara, lalu mengecup puncak kepala istri kecilnya itu, "Cepat mandi, kita sudah membuat jadwal dengan Dokter Septi." Armor mengecup kening Chayyara, lalu kedua pipinya, dan terakhir bibir Chayyara.

Chayyara menggembungkan pipinya. Saat ini justru ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena mudah luluh hanya karena sikap lembut suaminya itu, seharusnya ia tetap merasa kesal pada Armor yang sudah menggempurnya semalaman.

Seperti tidak memiliki rasa lelah, bukannya kehabisan tenaga, justru Armor terlihat lebih bersemangat dan memohon untuk memintanya lagi dan lagi, membuat Chayyara kewalahan menghadapi sikap suaminya itu.

***

Setelah mereka bersiap-siap, mereka pun berangkat menuju rumah sakit besar di kota Jakarta. Memenuhi jadwal pertemuan dengan Dokter Septi yang akan kembali memeriksa kondisi kandungan Chayyara.

ChayyaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang