Ini part terpanjang yang pernah aku tulis, semoga kalian suka yaaa <3
.
.
.
Jangan lupa vote dan commentnya, terimakasih! <3
.
.
.
***
Chayyara mengerjapkan matanya, waktu sudah menunjukan pukul lima pagi. Chayyara mengubah posisi tidurnya, saat dirinya berbalik, ia langsung dihadapkan dengan wajah Armor. Dengan jarak yang tersisa beberapa centi, Chayyara menahan nafasnya.
Sedangkan Armor terbangun saat merasa seperti ada seseorang yang memperhatikannya, dan benar saja, saat ia membuka mata, terlihatlah wajah istri kecilnya itu, mata bulat milik Chayyara semakin melebar saat Armor justru menarik Chayyara ke dalam pelukannya.
"Mual?" tanya Armor dengan suara seraknya.
Chayyara menggelengkan kepalanya pelan, Chayyara berusaha mengontrol detak jantungnya yang berdegup kencang, hal itu membuatnya merasa gugup.
Armor melepaskan pelukannya, menaikan sebelah alisnya, tidak biasanya. Hal itu juga disadari Chayyara, ia juga merasa heran mengapa dirinya tidak merasa mual.
"Tapi Kay memang tidak mual, Kak."
Armor mengangguk lantas menarik lagi Chayyara ke dalam pelukannya."Apa perutmu terasa sakit?" tanya pria itu.
Chayyara mengerutkan dahinya, "Sakit? Perut Kay sedang tidak sakit, Kak."
Armor memegang perut Chayyara membuat Chayyara langsung merasakan sengatan di sana.
"Perutmu semakin membesar," Armor berujar.
Chayyara membulatkan matanya, ingatannya terlempar kembali pada kejadian semalam. Wajah Chayyara langsung memerah. Astaga! Chayyara malu sekali!
Setelah makan malam bersama, Chayyara kembali ke kamarnya terlebih dahulu. Chayyara juga berniat untuk mengganti pakaiannya, karena ia malas mengganti pakaian di walk-in closet, alhasil Chayyara memutuskan untuk menggantinya di kamar saja. Lagipula Chayyara juga yakin bahwa Armor tidak akan masuk ke kamar di jam segini, karena biasanya pria itu akan masuk kamar di waktu tengah malam.
Chayyara membuka dress ibu hamilnya, ia pun mencari pajamas untuk dipakainya tidur lalu menyimpannya di atas ranjang. Chayyara berdiri di depan cermin, memperhatikan bentuk tubuhnya yang kecil dengan perutnya yang sudah membesar.
Chayyara tersenyum geli melihat dirinya sendiri yang terlihat lucu di depan cermin. Meski jujur saja, perutnya itu berat dan sering membuatnya kesulitan bernafas, tetapi Chayyara mulai menikmati masa kehamilannya.
"Perutmu semakin membesar." Tiba-tiba suara seseorang mengejutkan Chayyara. Ia membulatkan matanya saat melihat Armor tengah bersandar di pintu kamar mereka.
"Kak Armor sejak kapan di situ?!" teriak Chayyara panik yang langsung mengambil pajamasnya di ranjang, lantas berlari menuju walk-in closet, meninggalkan Armor yang terus memperhatikan Chayyara hingga istri kecilnya itu menghilang dibalik pintu.
Pria itu tertawa kecil lalu menjilat bibir bawahnya saat mengingat apa yang baru saja ia lihat beberapa menit yang lalu.
Chayyara menggelengkan kepalanya seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Armor. Sedangkan pria itu berusaha menahan tawanya.
"Lain kali kunci pintunya," ujar Armor memperingati istri kecilnya itu yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Chayyara.
Semalam Armor hanya ingin memastikan Chayyara sudah tertidur atau belum, tetapi Armor cukup terkejut saat disuguhi pemandangan dimana istri kecilnya itu tengah membuka dress hamil yang dikenakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chayyara
CintaChayyara, gadis itu harus kehilangan masa remajanya ketika takdir menggariskan Chayyara yang harus menikah dengan pria dingin, kekasih dari kakaknya itu yang sudah menghamilinya. Penasaran dengan kisah selanjutnya? BISA BELI EBOOKNYA LANGSUNG YA, TE...
