Armor memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya di rumah. Selain karena masih mengkhawatirkan kondisi Chayyara, Armor juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Chayyara.
Setelah aktivitas mereka tadi pagi dilanjut dengan Chayyara yang berterus terang tentang perasaannya. Di sini lah Armor sekarang, memperhatikan istrinya yang tengah berpikir sembari mengerjakan soal-soal latihan di atas meja lipat. Tak hanya itu, tempat tidur mereka pun dipenuhi dengan buku dan kertas-kertas coretan.
Armor sudah memintanya beristirahat, tetapi Chayyara benar-benar keras kepala. Chayyara tetap ingin belajar dan selalu mengingatkan sekaligus mengancam Armor untuk tidak pernah menggunakan kekuasaan atau pun uangnya agar Chayyara bisa masuk Hexagon.
Jika diingat-ingat, Chayyara jarang sekali bersikap keras kepala kepadanya. Istrinya itu cenderung menurut dalam segala hal. Mudah terbawa perasaan dan lebih banyak diam dibandingkan mengungkapkan apa yang tengah dirasakannya. Tetapi lihatlah sekarang, Chayyara mulai menunjukan sikapnya yang lain, yang Armor sadari adalah Chayyara mulai merasa terbiasa dan tidak merasa takut atau terancam saat bersikap apa adanya di hadapan Armor.
Saat dahulu, kemana sikap-sikap istrinya itu berada? Chayyara pasti menyembunyikannya karena rasa takutnya terhadap Armor.
Sehingga membuat Armor berpikir bahwa selama ini Chayyara lah yang lebih menerima dirinya, berusaha memahami dirinya, selalu memastikan segala kebutuhannya.
Meski usia Chayyara lebih muda dari dirinya, tetapi dalam proses berpikir, Armor akui istrinya itu sudah cukup dewasa. Setiap permasalahan yang terjadi di antara mereka, Chayyara yang lebih sering meminta maaf, dan hal itu yang membuat Armor sadar bahwa kesalahan itu terjadi tidak selalu karena Chayyara, tetapi lebih sering dikarenakan Armor sendiri yang tidak menyadarinya.
"Sudah selesai hm?" tanya Armor menghampiri Chayyara yang tengah membereskan kertas-kertas coretan.
Chayyara mengangguk seraya tersenyum manis,"Kay lanjutkan lagi belajarnya nanti malam."
Armor tersenyum lantas mencium puncak kepala Chayyara. Terdengar suara ketukan pintu. Armor berjalan ke arah pintu dan membukanya. Mengambil nampan yang disodorkan pelayan."
"Ini spicy chicken pesanan Tuan."
Armor mengangguk, "Terima kasih."
"Kak Armor ada apa?" tanya Chayyara.
Armor tersenyum sambil menyodorkan nampan yang terdapat piring berisi spicy chicken. Makanan favorit Chayyara!
Melihat suaminya membawakan makanan favoritnya, Chayyara tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Untuk Kay?"
"Hm."
Saat Chayyara bersiap mengambil nampan dari tangan suaminya, tiba-tiba Armor menjauhkannya membuat senyuman di wajah Chayyara menghilang.
"Cium dulu," perintah Armor sambil menunjuk bibirnya.
Chayyara menggembungkan pipinya. Sudah menjadi kebiasaan Armor jika membelikan sesuatu pasti Chayyara harus memberikan imbalan lain. Chayyara berdiri di atas tempat tidur, menangkup pipi Armor lalu mencium bibir suaminya itu cukup lama, bahkan diakhir ciumannya, Chayyara sengaja menggigit bibir Armor membuat pemiliknya mengaduh.
Chayyara tersenyum, tanpa berdosa, perempuan itu langsung mengambil nampan yang di pegang Armor, menyimpannya di meja belajar lipatnya, lalu Chayyara memindahkan meja lipat itu ke lantai.
"Terima kasih banyak suami Kay!" ujar Chayyara tersenyum lebar.
"Malam ini kamu tidak akan tidur, Sayang..."
"Iya. Kay kan harus belajar lagi," jawab Chayyara yang mulai menggigit spicy chickennya itu.
"Sepertinya sesi belajarmu juga harus ditunda," ujar Armor, ikut duduk di lantai, berhadapan dengan Chayyara yang mulai sibuk melahap makanan favoritnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chayyara
RomansaChayyara, gadis itu harus kehilangan masa remajanya ketika takdir menggariskan Chayyara yang harus menikah dengan pria dingin, kekasih dari kakaknya itu yang sudah menghamilinya. Penasaran dengan kisah selanjutnya? BISA BELI EBOOKNYA LANGSUNG YA, TE...
