Chapter 28 - Deep Talk

69.2K 4.8K 145
                                        

Aku ga tau ini bakal bikin kalian baper atau ngga dan aku ga tau juga ini masih nyambung atau ngga, tapi semoga kalian suka sih hiks, makasih banyak yaaaaa buat yang selalu setia nunggu cerita aku ini, suka terharu aku tuh bacain komenan kalian hiks
.
.
.
.
Jangan lupa follow akun aku, vote dan komentar yang banyak!!!!!!!! Karena komentar kalian tuh sangat mempengaruhi mood nulis aku! Semakin banyak semakin semangat, gitu gatau kenapa aku juga hihihi
.
.
.
.

***

"Buat jadwal pertemuan dengan direktur keuangan," ujar Armor kepada Fredy.

Fredy mengangguk, "Baik Pak." Fredy yang tadinya akan pergi meninggalkan ruang kerja Armor kembali berbalik.

"Ar," panggil Fredy tanpa memakai bahasa formalnya. Sedangkan Armor mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya 'Ada apa?'

"Nomor yang kemarin lo kirim dapet dari mana?" tanya Fredy hati-hati.

Armor mengerutkan keningnya, "Kenapa?" justru balik bertanya.

"Nomor yang lo kasih ke gue itu masuk daftar hitam. Salah satu nomor yang gak bisa dihubungin kecuali pemilik nomor itu yang telepon duluan ke nomor kita."

Armor mengangguk, "Gue dapet dari daftar panggilan Chayyara."

Fredy membulatkan matanya, "Serius?"

Armor hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah melihat galeri dan riwayat pesan Chayyara, jari Armor tidak sengaja menggeser ke bagian kanan layar, menampilkan daftar riwayat panggilan.

Awalnya Armor tidak merasa curiga, karena hanya ada nama Halmeoni, Mama, Oma dan Hendrick di sana, tetapi saat Armor menggulir layar itu ke bawah, Armor menemukan nomor asing yang tidak diberi nama oleh Chayyara, hampir sepuluh kali nomor itu membuat panggilan masuk dengan durasi waktu yang cukup lama.

Armor mengambil ponselnya dan menyalin nomor itu ke dalam kontaknya lantas mengirimkannya kepada Fredy.

"Gue udah minta orang-orang khusus buat nyelidikin siapa pemilik nomor itu," ujar Fredy.

Armor mengangguk, ia memutar kursi kebesarannya, mengusap dagunya seraya memperhatikan pemandangan kota dari dalam jendela kantornya.

***

Chayyara tengah asyik membut roti awan dengan berbagai macam warna. Para koki yang memang dipekerjakan khusus oleh Armor tidak bisa menolak, saat istri dari tuannya itu memaksa untuk membuat rotinya sendiri.

Mereka menatap kagum Chayyara, tidak percaya dengan nyonya kecilnya itu yang ternyata sangat lihai dalam memasak.

Chayyara hanya mengizinkan mereka untuk mengambil bahan-bahan dan peralatan yang ia butuhkan, selebihnya hanya Chayyara yang boleh mengerjakannya. Kode merah mulai diberitahukan kepada seluruh penjaga keamanan mansion Armor, mereka ikut berkumpul di dapur, memperhatikan Chayyara yang tengah memasak, mata mereka tidak lepas dari setiap pergerakan Chayyara karena mereka sangat takut lengah, dan membuat nyonya kecilnya itu terluka.

Bisa-bisa mereka yang menjadi taruhannya karena tidak bisa menjaga istri kecil tuannya itu dengan baik.

"Ada apa ini?" Suara dingin seseorang membuat orang yang berada di sana menoleh serempak. Yoshua yang merupakan kepala keamanan bergerak maju menghampiri tuannya.

"Maaf, Tuan. Kami hanya sedang menjaga Nyonya karena Nyonya memaksa untuk tetap membuat kuenya sendiri. Nyonya melarang kami semua untuk membantunya."

Armor melihat ke arah Chayyara yang melebarkan senyumnya kepada Armor. Rambut istrinya itu terlihat berantakan, begitupun dengan wajahnya yang penuh dengan coretan tepung.

ChayyaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang