Chapter 26 - Pengganggu

67.1K 5K 160
                                        

Tolong jangan hujat aku ya please! Rasanya aku mau nyerah karena gemeter nulisnya, degdegan juga sumpah! tapi semoga kalian suka yaaaa hiks maaf kalau aneh:(
.
.
.
.
.
Jangan lupa follow, vote dan komentarnya yaa makasih banyak loh yang udah spam komentar bikin aku semangat big luv! <333
.
.
.
.
.

***

"Gue tau lo deket banget sama Abang gue, dari sahabatan sampe pacaran dan sekarang udah jadi mantan," ujar pria itu secara gamblang.

"To the point, Hen. Aku tidak punya banyak waktu." Perempuan bertubuh molek itu terus menatap layar ponselnya, merasa khawatir karena managernya hanya memberikan waktu lima belas menit untuknya.

"Berhenti ngasih pengaruh ke Abang gue, Kak," ujar Hendrick dengan nada serius.

Perempuan yang sedari tadi fokus menatap ponselnya, kini mengalihkan perhatiannya kepada pria di hadapannya.

"Maksudmu?"

"Jangan kira kalau gue gak tau tentang rencana lo," ujar Hendrick dengan nada rendahnya.

"Lo juga sama lagi nyari tau tentang Kay, kan?" Hendrick mengangkat sebelah alisnya. "Begitu pun gue."

"Kamu tidak tahu apa-apa tentang Kay, Hen," ujar Feranda menggelengkan kepalanya seraya tersenyum meremehkan.

"Siapa bilang? Gue tau, Kakak ipar yang umurnya lebih muda dari gue itu perempuan baik-baik, gue yakin itu."

Kini Feranda yang mengangkat sebelah alisnya, menganggukan kepalanya, "Aku pun berpikiran hal yang sama, tapi tidak ada yang tahu fakta sebenarnya kan?" Feranda tersenyum lembut.

"Lo curiga sama adik sepupu lo sendiri?"

Feranda mengangkat bahunya, "Aku memang menyayanginya, tapi tidak ada alasan untuk aku tidak mencurigainya. Aku bisa mencurigainya kapan saja jika menurutku banyak sesuatu mengganjal tentangnya."

"Lo gak sayang Kay, Kak," sela Hendrick menggelengkan kepalanya.

"Mungkin iya lo sayang sama Kay, tapi perasaannya ketutup sama kenyataan kalau adik sepupu lo itu nikah sama pacar lo, mantan pacar maksudnya." Hendrick tersenyum miring, menekankan kata mantan di akhir kalimatnya.

Feranda terdiam sejenak, menghela nafas, lalu menatap Hendrick dengan wajah lelahnya. "Apa kamu juga berniat menyalahkanku juga? Seperti apa yang keluargamu lakukan padaku?"

Hendrick mengangkat bahunya, "Tergantung."

"Mau kamu apa, Hen?" Feranda menghembuskan nafas kasarnya.

"Jauhin Kay, jauhin Abang gue." Hendrick menatap serius perempuan di hadapannya.

"Hen!" peringat Feranda. "Kamu harus tahu dulu tentang Kay! Dia-"

"Kay menjadikan Armor sebagai alat untuk balas dendam padamu juga ayahmu, begitu kan?"

Feranda terdiam.

"Gue tau Kak, tau banget malah. Tapi informasi yang lo dapet itu belum sepenuhnya, dan bisa jadi udah di manipulasi sama orang."

"Apa maksudmu?" tanya Feranda tak mengerti. Feranda jelas tahu informasi itu dari orang kepercayaannya, tidak mungkin ada orang lain yang sengaja memanipulasinya.

Hendrick tersenyum miring.

***

Tok

Tok

Tok

"Masuk," ujar Armor pada seseorang yang mengetuk pintu ruangan kerjanya.

ChayyaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang