Chapter 6 - Kecerobohan

80.2K 5.4K 99
                                        

Setelah menemani kakaknya menangis, Chayyara meminta Feranda untuk membersihkan diri dan ikut sarapan bersamanya dan Armor. Kebetulan posisi dapur rumah yang ditinggalinya berada di samping kolam berenang, jadi jika Chayyara ingin ke dapur, perempuan itu harus melewati kolam berenang terlebih dahulu.

Saat Chayyara tengah berjalan menuju dapur, tiba-tiba Chayyara merasakan lantainya licin hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan, membuat Chayyara langsung jatuh ke kolam.

Feranda yang baru saja selesai berganti pakaian, langsung berlari ke arah kolam bersamaan dengan Armor yang terkejut saat mendengar suara riak air kolam.

"Chayyara! Chayyara! Tidak bisa berenang, Armor! Tolong Kay! Ya Tuhan!" teriak Feranda panik, membuat Armor langsung terjun ke kolam yang ke dalamannya hampir dua setengah meter.

Terlihat pria itu mengangkat tubuh Chayyara dan menaikan tubuh istri kecilnya itu di pinggiran kolam. Armor langsung melakukan resusitasi jantung paru. Sesekali memeriksa apa nafas Chayyara sudah kembali atau belum.

Saat pertolongan pertama yang dilakukan Armor tidak berhasil, tanpa berpikir panjang, pria itu langsung memposisikan mulutnya di mulut Chayyara. Memberikan nafas buatan kepada Chayyara yang masih belum bernafas juga.

Feranda yang melihat itu langsung merasakan pisau menancap di dadanya. Mata Feranda berkaca-kaca saat melihat pemandangan di depannya, ia langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain, berusaha menahan dirinya agar tidak menangis.

Terdengar suara batuk, hal itu membuat Armor menghela nafas lega saat berhasil membuat Chayyara bernafas kembali. Feranda pun langsung menoleh dengan perasaan yang sama leganya, meski di sisi lain ia berusaha menutupi kesedihannya.

Chayyara dibantu oleh Feranda ke kamar untuk berganti pakaian, begitu pun dengan Armor. Setelah insiden di kolam berenang, suasana menjadi canggung, terlebih Chayyara yang sedari tadi memilih diam dengan pikiran yang masih bertanya-tanya tentang siapa yang menyelamatkannya?

Armor tidak mengatakan apa pun, suaminya itu langsung berangkat ke kantor, begitu pun dengan kakaknya yang memiliki jadwal pemotretan di sore hari, membuat Feranda harus mempersiapkan diri dan mau tak mau berpamitan pulang kepada Chayyara.

***

Armor memijat pangkal hidungnya ketika anak perusahaan yang baru Armor rintis harus mengalami kerugian yang cukup besar, ternyata banyak yang bermain curang di belakangnya.

Seseorang mengetuk pintu ruangannya, Armor langsung mengizinkannya masuk, mengetahui itu adalah Fredy, sahabatnya yang sekaligus menjabat sebagai sekretaris pribadinya.

"Saya sudah menyiapkan pengacara, mereka akan dihukum sesuai undang-undang yang berlaku," ujar Fredy yang diangguki Armor.

"Apa masih ada masalah lain?" tanya Fredy.

"Gue hampir tidur sama Feranda."

Fredy melotot tajam ke arah Armor, "Lo gila?!" sentak Fredy. Hilang sudah sikap sopan santunnya jika topik pembicaraan mereka mengarah kepada masalah pribadi.

"Gue—"

"Belum bisa lupain?" potong Fredy, pria itu menggelengkan kepalanya, lantas menghela nafas berat. "Lo harus berusaha, Man! Inget! Lo bakal jadi bapak dari anak yang dikandung Chayyara. Jangan macem-macem. Konon katanya, kalau bapaknya main di belakang istrinya yang lagi bunting, anaknya bakal cacat."

Tak

"Sakit bego!" umpat Fredy saat Armor melemparinya dengan sebuah pulpen.

"Keluar lo sekarang!" sentak Armor kesal. Armor mengusap wajahnya. Apa yang diucapkan sahabatnya itu tiba-tiba membuat dirinya tidak habis pikir, bagaimana bisa ada mitos semacam itu?! Meski Armor tidak mempercayainya, tetap saja ia merasa kesal sekaligus waspada, bagaimana pun juga Armor menginginkan anaknya lahir dengan keadaan sehat dan normal.

ChayyaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang