Sudah hampir dua bulan Chayyara tinggal bersama Armor di rumah ini, rutinitasnya yang bangun pagi untuk mengeluarkan isi perutnya sudah membuatnya terbiasa.
Di tambah lagi Armor sudah mempekerjakan asisten rumah tangga, sehingga tugas Chayyara hanya sekolah dan memasak untuk suaminya, tentu saja perlu dibantu oleh Bibi Sani karena Armor akan marah jika melihat Chayyara bekerja sendiri.
Padahal Chayyara tidak masalah dengan pekerjaan rumah, ia juga merasa fisiknya tidak selemah seperti di awal-awal ia mengalami morning sickness.
"Nyonya... sudah minum obatnya?" tanya Bi Sani ramah.
"Sudah, Bi Sani." Chayyara melihat Bibi Sani tengah menyimpan kantong-kantong belanjaan itu di meja dapur. "Bibi beli bahan-bahan yang Kay minta kan?" tanya Chayyara.
Bibi Sani mengangguk, "Iya atuh Nyonya... ini saya sampe nanya ke mas-mas supermarketnya karena saya tidak tahu cara bacanya."
Chayyara tertawa pelan. "Maaf ya, Bi Sani. Kay kira Bi Sani tahu. Kalau begitu nanti belanjanya bareng Kay saja ya biar Bibi tidak kebingungan," ujar Chayyara tersenyum manis.
Bibi Sani pun membalasnya dengan anggukan kepala seraya menampilkan senyum hangatnya.
"Oh iya Bi Sani, gorengan yang Kay pesan dibeli juga kan?" tanya Chayyara dengan antusias.
Bi Sani mengangguk, "Iya pasti saya beli atuh Nyonya... mana bisa saya lupa kalau urusannya ibu hamil yang lagi ngidam."
Chayyara terkekeh mendengar penuturan Bibi Sani, ia pun menerima bungkusan gorengan yang disodorkan Bi Sani kepadanya. Perempuan itu tersenyum bahagia saat melihat bakwan, tahu isian, cireng, risoles dan pisang goreng yang menggugah selera makannya.
Meski sebenarnya ia bisa membuatnya sendiri, tetapi entah mengapa Chayyara malah ingin membeli gorengan di abang-abang yang berjualan di depan komplek perumahan.
Setelah urusan memasak selesai, Chayyara berniat untuk memberitahu Armor, namun mereka bertemu di ruang tengah. Kebetulan sekali. Chayyara tersenyum, kali ini ia mulai terbiasa dengan sikap Armor yang dingin.
"Hari ini Kay memasak Rustico, Mama bilang Kakak menyukai menu Italian food," ujar Chayyara lembut.
Armor mengangguk, lantas berjalan mendahului Chayyara, belum sampai dapur, Armor sudah mencium bau makanan khas Italia favoritnya itu.
Rustico merupakan camilan gurih tradisional dengan beragam isian yang dilapisi puff pastry. Makanan ini umumnya berbentuk bulat, Chayyara membuatnya dengan isian berupa saus béchamel, tomat, dan keju mozzarella. Namun, ada pula yang menggunakan bayam atau ricotta.
Armor duduk dikursi yang biasa ia tempati, pria itu menoleh ke arah Chayyara yang tengah memakan makanan yang asing bagi dirinya.
"Makan apa?" tanya Armor dengan ekspresi dinginnya.
Chayyara menoleh, lantas menelan dulu makanannya. "Oh ini, kata Bi Sani ini namanya gorengan," ujar Chayyara tersenyum manis.
"Gorengan?"
Chayyara mengangguk cepat, "Kakak belum pernah coba?"
Armor menggeleng, "Saya saja baru dengar."
Chayyara mengangguk setuju, dirinya juga baru tahu mengenai gorengan. Saat mencari tahu di internet, ternyata gorengan itu makanan yang tidak sehat. Pantas saja Chayyara tidak tahu karena mamanya dulu selalu memastikan Chayyara makan makanan yang sehat dan bergizi.
"Harganya kok murah banget ya? Padahal rasanya enak, apa abang-abangnya tidak rugi?" gumam Chayyara pada dirinya sendiri tapi masih bisa terdengar oleh Armor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chayyara
RomantiekChayyara, gadis itu harus kehilangan masa remajanya ketika takdir menggariskan Chayyara yang harus menikah dengan pria dingin, kekasih dari kakaknya itu yang sudah menghamilinya. Penasaran dengan kisah selanjutnya? BISA BELI EBOOKNYA LANGSUNG YA, TE...
