Chapter 93 - Luka Terpendam

6.4K 340 16
                                        


Armor tetaplah Armor. Seberapa keras istrinya itu memilih untuk tidur dengan putra mereka. Chayyara tetap akan berakhir dipindahkan oleh Armor ke kamar mereka.

Armor memperhatikan wajah Chayyara yang sembab sehabis menangis. Armor sudah menduga bahwa Chayyara pasti akan menangis selama di kamar Valerio sampai terlelap tertidur.

Armor menidurkan Chayyara di ranjang mereka, mengusap pelan pipi istrinya itu. Memperhatikan wajah damai istrinya yang masih memperlihatkan kesedihan di sana.

Ini pertengkaran pertama mereka setelah Chayyara melahirkan. Biasanya Armor selalu bisa menahan dan mengendalikan emosinya. Tetapi mengetahui Chayyara demam dan terbaring lemah saat pulang dari kantor membuat darah Armor mendidih.

Pria itu dihinggapi rasa takut yang luar biasa. Ingatan saat Chayyara terbaring di ranjang rumah sakit menghantuinya. Armor masih ingat jelas bagaimana peristiwa demi peristiwa terjadi, dan Armor tidak bisa melupakan perasaan yang pernah di alaminya pada saat itu. Hal sekecil apapun yang terjadi pada Chayyara akan memberikan efek besar pada dirinya.

Armor mencium punggung tangan Chayyara, lantas mengecup kening, kedua pipi, dan terakhir bibir Chayyara. Armor menyugarkan rambutnya, setelah mandi dan menjernihkan isi pikirannya dengan air. Armor memutuskan untuk memindahkan Chayyara. Tidak peduli istrinya itu masih marah padanya, Armor tidak bisa tidur jika tidak ada Chayyara di sisinya.

Armor langsung merebahkan dirinya di samping Chayyara, memeluk wanitanya yang sudah menguasai seluruh hati dan pikirannya.

***

Chayyara terbangun dengan keadaan mata yang sulit di buka. Ah, pasti matanya membengkak. Chayyara sudah hafal betul jika dirinya habis menangis semalaman, keesokan paginya mata Chayyara akan bengkak.

Chayyara merasakan lengan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Dari wanginya Chayyara tahu bahwa seseorang itu adalah Armor. Suaminya itu pasti memindahkan dirinya di saat dia sudah terlelap tidur semalam.

Semalaman Chayyara memikirkan hal apa saja yang sudah dikatakannya kepada Armor. Chayyara tiba-tiba dihinggapi rasa bersalah. Chayyara menyadari rasa khawatir suaminya itu pasti dikarenakan rasa takut Armor setelah Chayyara selesai melahirkan.

Tetapi Chayyara juga tidak setuju jika Armor harus terus-menerus mengutamakan dirinya. Jelas itu mengingatkannya pada saat Armor lebih memilih mengorbankan Valeno, saudara kembar Valerio, hanya demi menyelamatkan dirinya.

Mungkin masih ada luka yang sulit Chayyara sembuhkan. Selama ini Chayyara hanya menguburkan perasaan tidak terima itu dengan dibanjiri fakta bahwa Armor tidak ingin kehilangannya. Armor mencintainya. Tetapi kenyataan, itu tidak menyembuhkan lukanya sebagai seorang ibu yang telah kehilangan anaknya.

Chayyara membalikkan tubuhnya, memperhatikan wajah suaminya itu yang terlihat damai dalam tidurnya. Chayyara mengangkat tangannya berniat mengusap pipi Armor.

Mata suaminya itu terbuka, menunjukan netra birunya yang selalu berhasil menenggelamkan Chayyara. Armor menatap Chayyra begitu pun sebaliknya. Keduanya saling tatap. Tidak ada satu pun yang berbicara. Tangan Armor menarik Chayyara semakin dekat hingga tubuh mereka benar-benar menempel. Sedangkan tangan Chayyara masih asyik mengusap pelan pipi Armor.

"Masih marah?" Armor bertanya dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.

Chayyara diam, tidak mengangguk mau pun menggeleng. Namun matanya masih setia menatap Armor.

"Kay pikir... kita berdua perlu terapi, Kak."

"Terapi?"

Chayyara mengangguk.

ChayyaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang