Setelah obrolan mereka semalam, Chayyara jadi tahu dunia perkuliahan. Armor mengizinkannya untuk kuliah. Suaminya itu juga sengaja menanyakan hal apa saja yang diminatinya selain memasak dan membaca.
Chayyara sempat kebingungan, seperti remaja yang baru lulus SMA yang tidak tahu arah tujuannya akan kemana. Chayyara meminta waktu kepada Armor untuk mempertimbangkan jurusan yang akan dirinya pilih karena Chayyara tidak mau salah jurusan dan menyesal di akhir tahun, seperti pengalaman orang-orang di sosial media yang bercerita bahwa penyesalan datang di akhir karena lebih memilih jurusan yang tidak selaras dengan minat dan bakarnya hanya karena agar bisa masuk kampus impian.
Begitu banyak hal yang Chayyara tanyakan kepada Armor dan syukurnya suaminya itu sangat sabar dalam menjawab segala pertanyaan-pertanyaannya.
Chayyara juga terlihat antusias mendengar penjelasan Armor. Terlihat sekali jika suaminya itu pintar dan berwawasan luas. Ah, semoga Valerio memiliki kepintaran yang sama seperti papanya. Aura orang pintar dan berwawasan luas memang berbeda.
Tak sampai disitu, Armor juga menjelaskan perbedaan kuliah di luar negeri dengan di dalam negeri, hal itu juga yang akan Chayyara pertimbangkan, apakah dia akan melanjutkan pendidikan tingginya di Indonesia atau di negara lain.
"Kak?" tanya Chayyara yang kini menyandarkan kepalanya di dada Armor setelah menyelesaikan aktivitas mereka.
"Hm?" jawab Armor singkat.
"Kakak pintar sekali," ujar Chayyara dengan nada sedih.
Armor terdiam untuk sesaat,"Kenapa nadanya sedih?" tanya Armor yang sadar akan perubahan suara istrinya itu.
"Kay tidak sepintar Kak Armor..."
"Terus?"
"Kan...kan...itu Kak, laki-laki jaman sekarang itu maunya sama perempuan yang setara. Qender equality," ungkap Chayyara. "Kay kan tidak setara dengan Kak Armor."
"Siapa bilang?" Armor memasang wajah dinginnya.
Chayyara mengerjapkan matanya, "Kay, Kay tadi bilang barusan."
"Lihat aku," perintah Armor.
Jantung Chayyara berdegup lebih kencang. Sepertinya Chayyara salah berbicara, seharusnya Chayyara tidak mengatakan itu tadi.
Sebenarnya Chayyara masih menyesuaikan diri, mungkin karena sedari dulu Chayyara sudah terbiasa dengan sikap tidak percaya dirinya, sehingga terkadang Chayyara masih merasa rendah jika berdampingan dengan Armor. Seperti tidak pantas.
Mungkin hal itu terjadi karena Chayyara banyak mendapatkan informasi dari media sosial. Dari mulai angka perceraian di negeri ini yang mulai tinggi, kabar perselingkuhan dimana-dimana, juga perempuan-perempuan yang mulai menyuarakan hak mereka, salah satunya kesetaraan gender.
Tetapi kali ini kasusnya berbeda, Chayyara seharusnya lebih berhati-hati saat berbicara dengan Armor, sebab suaminya itu tidak suka jika dirinya selalu merendahkan diri. Chayyara sudah berusaha, tetapi terkadang tanpa disadarinya, rasa cemas membuatnya tidak percaya diri dan secara tidak langsung membuatnya terlihat merendahkan diri, karena kata-kata tadi sudah terlanjur diucapkan, apa boleh buat, mau tak mau Chayyara harus menghadapi nasihat Armor untuk yang kesekian kalinya.
"Lihat aku, Chayyara."
Chayyara mendongakkan kepalanya, menatap mata biru Armor yang kini tengah menatap dalam ke matanya.
"Itu pembahasan yang perlu kamu kaji lebih dalam. Meski begitu, aku tidak bisa mengatakan diriku seorang feminist, dan bisajadi kamu akan menganggap aku laki-laki patriarki."
Chayyara menelan ludahnya lamat-lamat setelah mendengar suaminya itu berbicara tentang topik yang kini memang sedang panas di sosial media.
"Sedari dulu aku memilih fokus dengan dunia bisnis, menyusun strategi terbaik untuk melanjutkan perusahaan bisnis keluargaku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chayyara
RomansaChayyara, gadis itu harus kehilangan masa remajanya ketika takdir menggariskan Chayyara yang harus menikah dengan pria dingin, kekasih dari kakaknya itu yang sudah menghamilinya. Penasaran dengan kisah selanjutnya? BISA BELI EBOOKNYA LANGSUNG YA, TE...
