Chapter 25 - Setengah Kebenaran

69.6K 5K 138
                                        

IH SENENG BANGET BANYAK KOMEN DI CHAPTER SEBELUMNYA! MAKASIH BANYAK YA! JADI SEMANGAT DEH <33

OH IYAH AKU ADA KABAR GEMBIRA!
Buat yang penasaran sama Cast Armor dan Chayyara, bisa liat di instagram @mostbae_ ya, aku bikin reels mereka di sana.

OH IYAH AKU ADA KABAR GEMBIRA! Buat yang penasaran sama Cast Armor dan Chayyara, bisa liat di instagram @mostbae_ ya, aku bikin reels mereka di sana

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jangan lupa follow akun aku, vote dan komentarnya, terimakasih banyak big luv!<333
.
.
.
.
.
***

Armor memperhatikan wajah manis Chayyara yang pucat pasi. Istrinya itu terlihat damai dalam tidurnya setelah semalaman menangis karena mimpi buruk yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar bagi Armor.

"Ar?" panggil seseorang di belakangnya. Armor menoleh, melihat ibunya tengah berdiri di ambang pintu.

"Kamu tidak akan berangkat kerja?" tanya Silva.

Armor menggeleng, "Tidak, Ma."

Silva mengangguk, berjalan menghampiri Chayyara yang terbaring di ranjang. Silva menempelkan punggung tangannya di kening Chayyara.

"Demamnya sudah mereda," ujar Silva yang diangguki Armor.

Semalam kemarin Chayyara langsung demam tinggi, Chayyara juga menggigil hebat membuat Armor khawatir luar biasa. Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasakan kekhawatiran sampai ia membangunkan seluruh keluarganya dan memaksa dokter pribadi papanya untuk datang di tengah malam. Bayangkan, tengah malam!

Chayyara langsung ditangani oleh Silva dan Kate, sedangkan Javier mencoba menenangkan Armor yang terlihat panik. Di tengah malam, Dokter Norma datang dengan wajah bantalnya. Meski terlihat kesal, tetapi Dokter Norma berusaha memakluminya. Ya. Selain Dokter Septi, Dokter Norma juga merupakan dokter kepercayaan keluarga Javier.

Setelah Chayyara berhasil ditangani dan diberi obat cair penurun demam. Armor terus memeluk Chayyara sepanjang malam, menenangkan Chayyara yang tetap menangis dalam tidurnya.

"Mama sudah menelepon Dokter Septi, dia sedang dalam perjalanan," ujar Silva menyadarkan Armor dari lamunannya. Armor mengangguk, tersenyum tipis kepada ibunya.

"Mama keluar dulu ya, kalau ada apa-apa langsung panggil saja Mama," ujar Silva memegang pundak putranya. Lagi-lagi Armor mengangguk. Pria itu tidak banyak bicara.

Armor merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya. Saat melihat nama yang meneleponnya, Armor mendengus malas, namun tak ayal pria itu tetap mengangkatnya.

"Hm?"

"Gue udah dapet informasi tentang Kay. Gue rasa ini ada hubungannya sama Delfon, ayahnya mantan lo itu."

Armor memejamkan matanya, pria itu memijat pangkal hidungnya. "Terus?"

"Gerry, papanya Kay emang ikut adil dalam penggelapan dana perusahaannya. Tapi menurut gue itu cuman pancingan dia buat cari tau dalang dari tikus-tikus di perusahaannya,"

ChayyaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang