Chapter 16

307 23 1
                                        

Bukan Senda Gurau
———————

Penuturan yang Nagine sampaikan barusan terdengar sangat mustahil. Berkali-kali Aya menyadarkan dirinya bahwa kali ini ia tak bermimpi apa pun mengenai sahabatnya. Dia memang benar-benar Nagine. Seorang gadis yang tiba-tiba saja ingin menjadi muallaf tanpa ia ketahui apa penyebabnya.

Selama menjadi sahabat Nagine, ia tak pernah mendengar pertanyaan yang gadis itu ajukan mengenai Islam. Dirinya juga tak mempermasalahkan apa pun tentang itu mengingat ia juga cukup tahu bahwa Nagine bukan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kakek dari sang mama dulu seorang pastor, sedangkan ayahnya sendiri seorang pendeta. Akan sangat tidak mungkin apabila selama hidup bersama kedua pria itu Nagine tak dihidupkan pendidikan agamanya.

Berita ini cukup mengejutkan. Seperti tidak bisa diterima oleh akal warasnya. Dalam hati ia masih bertanya-tanya apakah jiwa Nagine tidak tertukar?

Aya memang paham bahwa di dunia tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Semua bisa saja terjadi, tapi mengenai Nagine kali ini itu sangat tiba-tiba, atau justru dirinya yang tidak tahu apa-apa tentang ini?

“Gin, gue masih nggak ngerti.”

Ia berkata terus terang. Kepalanya benar-benar pening memikirkan semua ini. Niat hati datang menginap untuk memastikan bahwa Nagine baik-baik saja, justru dirinya sendiri yang saat ini tidak baik-baik saja.

Masih tetap sama seperti keadaan beberapa menit lalu, Nagine masih memasang senyumannya. Netra itu juga masih menatap Aya dengan lekat.

“Gue serius.”

Dua kata yang keluar dari mulut Nagine begitu sederhana masih belum masuk di pikiran Aya. Namun, ada sorot keseriusan di matanya yang setitik pun Aya tak pernah menemukan senda gurau. Itu berarti ... Nagine benar-benar serius?

“Se–sekeluarga?” Aya masih bertanya. Masalah kedua, masuk Islam sekeluarga juga sangat tidak mungkin dilakukan oleh keluarga Nagine yang agamanya begitu kental.

Of course sekeluarga.” Jawaban mantap dari Nagine saja masih kesulitan dipercayai. Sekeluarga. Sekeluarga. Sekeluarga. Kali ini Aya masih memikirkan ini semua. Apa alasan sehingga membuat Nagine dan seluruh keluarganya berpindah keyakinan? Padahal itu bukan perihal yang gampang.

“Gin, sekeluarga?” Aya bertanya lagi, dan tentu saja Nagine mengangguk lagi. “Siapa aja?” ia mengimbuhkan pertanyaan. Rasanya ingin terharu, ingin kagum, tapi rasa tak percaya ini lebih dulu menguasai.

My Mom and I.”

Apa katanya tadi? Ibunya dan dirinya sendiri? Itu ... sekeluarga? Tidak, pasti gadis itu belum menyebutkan keseluruhannya.

“Terus siapa lagi?”

“Cuma itu. Cuma Mama sama gue. Sekeluarga, ‘kan?” haduh, bahkan makna sekeluarga bisa disalahartikan jika konsepnya seperti ini, Gin.

“Ya, nggak salah, tapi lebih baik kalau ngomongnya nggak usah sekeluarga. Itu bikin orang kaget bukan main.”

Nagine hanya terkekeh saja. Ia tiba-tiba menarik laci di nakas samping ranjang, kemudian mengeluarkan satu kertas putih yang seperti sudah diprint-out dan berisi sebuah data.

“Kartu keluarga?” Aya mengerutkan dahi bingung. “Ngapain lo?”

“Di KK ini cuma ada dua nama. Sevina dan Nagine. Itu artinya kami cuma punya dua anggota. Satu keluarga dua anggota. Sekeluarga, ‘kan?”

Sejenak Aya menghembuskan napas, lalu mengangguk dan berkata. “Salah, tapi nggak salah.” Sontak Nagine tertawa agak keras. Aya menyunggingkan senyum tipis meskipun rasanya tidak percaya. Dia ingin menangis, tapi gengsi lebih dulu datang dan membuat air mata itu tertahan.

“Gin, lo beneran besok mau masuk Islam sama mama lo?” Nagine mengangguk, “tapi kenapa?” imbuh Aya masih tak mengerti.

Only because of Allah.”

Jangan salah, bahkan empat kata yang baru saja terlontar belum bisa membuat Aya menyembunyikan rasa tak menyangkanya.

“Sesuatu apa yang buat lo tiba-tiba kayak gitu?”

Nampak Nagine menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mulai bercerita dari di mana ia dan mamanya membaca kutipan di HP itu, lalu tiba-tiba penjelasan Arthar yang menghipnotisnya, tapi ia berusaha untuk tidak kalut. Namun, lagi-lagi pertahanan gadis itu untuk tidak memeluk Islam runtuh saat ada sebuah kiriman mukena yang tidak tahu datang dari siapa dan membuat tubuhnya hangat dalam helaian kain putih nan cantik itu.

Ia serasa dipeluk oleh sesuatu yang meneduhkan. Terlebih tidur saat memakainya benar-benar membuatnya pulas. Sampai tiba di penjelasan Habiba yang membuat gadis itu memantapkan pilihan untuk masuk Islam.

“Kalo Mama gue nggak tau. Besok gue akan tanyakan sebelum kita bener-bener masuk Islam,” kata Nagine. Ia kemudian mendongak menatap Aya yang saat ini, “LOH AY? NGAPAIN LO NANGIS?!” pekik Nagine begitu ia menciduk Aya yang kini sudah basah oleh air mata.

Aya buru-buru memalingkan wajahnya sambil mengusap air mata itu. Duh ketauan kalo gue nangis, bisa besar kepala nih Nagine!

“Udah nggak papa nggak usah terharu,” katanya sambil berusaha mengelap air mata Aya, tapi pemilik air mata itu tak mengizinkan Nagine menyentuhnya sama sekali.

Lihatlah, mendengar berita sedadakan ini siapa yang tak menyentuh terlebih ini semua perihal kepercayaan yang akan dianut. Menjadi muallaf tidaklah mudah. Kita akan diminta menahan melakukan kebebasan yang sebelumnya pernah kita lakukan. Kebiasaan menatap lawan jenis dengan berlama-lama misalnya.

Setelah Bulan berganti posisi dengan Matahari, bersama dengan mata kepalanya sendiri Aya menyaksikan Nagine masuk ke dalam kamar sang mama setelah jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia sekarang sudah berada di kamar Sevina bersama dengan Nagine yang bergerak pelan membangunkan wanita itu yang terlihat tertidur pulas.

Merasa tubuhnya digoncang lembut, perlahan sedikit demi sedikit netra itu membuka. Penglihatan Sevina masih belum jelas. Kepalanya juga masih terasa begitu pusing. Pasti efek kebanyakan alkohol kemarin.

“Selamat pagi, Ma,” sapa Nagine membelai lembut rambut mamanya sambil tersenyum. Gadis itu kemudian bergerak mematikan blower ruangan dan membuka tirai yang ada di bawahnya. Sinar Matahari masuk saat itu. Tubuh Sevina terasa dihangatkan kembali. Ia justru menikmatinya daripada buru-buru menggerutu karena panas.

Aya masih diam memperhatikan Nagine yang kini sudah bergerak mendekati mamanya kembali. Gadis itu perlahan membuka selimut yang menutupi tubuh Sevina.

“Udah enakan?” tanyanya membantu sang mama duduk. Masih belum kuat sepenuhnya, wanita itu mengangguk mengiyakan.

“Hari ini kita syahadat yakan, Gin?”

Pertanyaan yang baru terlontar itu membuat Nagine dan Aya saling pandang. Di dalam diri Aya, ia merasa tengah terlibat perasaan antara senang dan bingung. Keduanya seolah-olah melekat. Ia kira Nagine hanya main-main kemarin, tapi hari ini di depan mata dan telinganya sendiri ia melihat sekaligus mendengar Sevina mempertanyakan perihal yang Nagine ceritakan kemarin.

Sejenak Nagine memandang Aya sambil tersenyum—seakan memberikan makna bahwa gadis itu tak berbohong kemarin—lalu mengangguk menatap mamanya lagi. Nagine benar-benar tidak bohong.

———————
To be continued.

Mengsedih chapter 13-15 salah tulis tanggal :)

All rights reserved. Tag my wattpad account if you want to share anything about this stories.


Indonesia, 23 Juli 2022 | Jangan lupa prioritaskan Al-Qur’an.

Only 9 Years | lo.gi.na [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang