Kecewa
Bentuk bahwa Allah peduli adalah dihadirkannya rasa kecewa.
———————
“Ayo nikah.”
Mata Nagine seketika membulat dengan sempurna. Gadis itu tidak salah dengar ‘kan tadi?
“Can you try again, please?” tanya Nagine meminta penjelasan. Otaknya belum bisa bekerja sekarang. Dia baru selesai berkendara, butuh refreshing setelahnya, bukan malah diberi pernyataan berat seperti ini.
“Let’s get married.” Arthar mengulanginya lagi dengan bahasa yang berbeda. Artinya sama. Nagine benar-benar tidak salah dengar.
“Ar. Bukannya ini terlalu buru-buru?” tanya Nagine panik sambil membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman mendengar penjelasan dari laki-laki di hadapannya.
“Enggak. Gue yakin ini nggak terlalu cepat. Secara finansial udah cukup, bahkan gue udah siap lahir dan batin,” kata Arthar. Nada bicara laki-laki itu begitu tenang seakan-akan tawarannya tadi adalah hal yang tidak ada harganya.
Tangan Nagine bergerak menggaruk dahinya, kemudian beralih menggaruk kepalanya yang tertutup oleh rambut. Dia benar-benar tidak bisa berpikir apa-apa sekarang. Bodoh Nagine!
“Tapi kenapa harus tiba-tiba kayak gini? Gue sama keluarga gue belum siapin apa-apa,” elak Nagine. Gadis itu menolak secara halus. “Katanya menjelang wisuda atau setelah wisuda. Ini masih jauh dari perkiraan. Mama gue aja nggak tau tentang ini semua. Dulu lo bilang finansial belum mapan.” Nagine memijit pelipisnya bingung.
“Kita nikah secara siri. Persiapannya nggak banyak. Akad dan sah. Just it.”
Dua kata awal yang diucapkan Arthar berhasil membuat Nagine melototkan matanya. Tubuhnya sedikit dimundurkan hingga punggung itu menempel pada kepala kursi. Kepalanya miring dengan tangan yang mengadah seolah-seolah mempertanyakan apa maksudnya.
“Are you crazy?” tanya Nagine. Ia tak habis pikir dengan permintaan konyol itu. “Walau gue masuk Islam baru-baru ini, tapi gue tau apa itu nikah siri. Nikah secara agama, ‘kan? Tapi buat apa, Ar? Biasanya yang seperti ini yang nggak mau memperlihatkan istrinya di negara. Apa yang bermasalah dari diri gue? Kenapa harus siri? Kalau kita belum punya banyak persiapan, ya kita siapin dari sekarang. Bukan malah ngajak siri.”
“Sah di agama memang, tapi gue mau seluruh orang ngakuin status gue istri lo,” imbuh Nagine penuh penekanan di setiap katanya.
Dadanya memburu. Ia berusaha untuk rileks. Tidak, Nagine tidak boleh emosi.
Setelah emosinya stabil, Nagine menatap Arthar dengan tatapan sungguh-sungguh.
“Apa alasan lo ngajak gue siri?” tanya Nagine.
“Tidak ada. Gue cuma mau mengikat lo di dalam ikatan yang sah. Bukan seperti ini. Gue mau lo dengan cara yang Allah nggak akan marah sama gue ataupun lo.”
“Cuma itu?” Arthar mengangguk. Nagine memicingkan matanya. Dia agak memajukan tubuhnya dan menatap Arthar lekat. Dia menemukan kebohongan di sana!
“Yakin cuma itu?” tanya Nagine memastikan, tapi sepertinya Arthar terlihat gelagapan. Laki-laki itu mulai tak nyaman ditatap Nagine seperti itu, bahkan sesekali membetulkan posisi duduknya yang Nagine rasa tak bermasalah.
Nagine menghela napas. “Up to you. Gue nggak mau nikah siri. Konsekuensinya banyak. Bisa ngejatuhin talak dan pisah kapan aja. Menurut gue, cara lo ngajak gue kayak gini sama kayak lo penasaran sama apa yang gue punya. Setelah lo tau semuanya dan lo puas. Lo tinggalin gue gitu aja.”
“Demi Allah gue——”
Nagine memutus. “Jangan bawa-bawa nama Allah, Ar.”
Arthar berdecak. Nampak bingung bagaimana cara meyakinkan Nagine.
“Gelagat lo yang kayak gini bikin gue ngerasa was-was tau nggak. Apa sebenernya yang ada di pikiran lo sampe mau ngajak gue nikah siri?” tanyanya lagi.
Ini terlalu tiba-tiba. Sangat jauh dari komitmen awal. Apakah Arthar mau meruntuhkan janjinya dengan cara konyol seperti ini? Ayolah, bahkan ceker ayam lebih baik dari ini.
“Na. Bukannya cinta itu butuh pembuktian? Begitu ‘kan yang diajarkan oleh al-Qur’an? Lalu, apa salahnya gue mau mencoba membuktikan cinta yang gue punya untuk lo?”
Nagine menganggap pikiran Arthar benar-benar dangkal. “Nggak ada yang salah, tapi gue maunya lo kasih bukti dengan menuliskan nama gue di buku nikah kita yang lambangnya garuda. Bukan sebatas kertas yang kapan pun bisa dirobek!”
“Again, gue nggak butuh penjelasan romantis. Gue butuhnya penjelasan logis alasan kenapa lo mau nikahin gue secara siri. Gue butuh penjelasan.” Arthar terdiam. Nagine justru khawatir sekarang. Apa yang terjadi dengan laki-laki itu sampai membuatnya bertindak nekat seperti ini?
“Ar.” Panggilan itu membuat si pemilik nama melirik ke arah Nagine. “What wrong? Please tell me. I’m here for you.” Nagine merendahkan suaranya, seperti berbisik. Nadanya terdengar sendu dan penuh kekhawatiran.
Mendengar itu Arthar menutup seluruh wajah dengan kedua tangannya. Berkali-kali terdengar helaan napas berat.
“Gue cuma mau ngikat lo ke dalam pernikahan, tapi kalo lo nggak mau. Nggak papa. Thanks for today,” kata Arthar, kemudian berdiri meninggalkan Nagine seorang diri.
Kepergian Arthar cukup membuat Nagine membeku hingga tak sampai mengejar laki-laki itu, atau bahkan berteriak memanggil namanya sekalipun. Entah rasanya seperti ada yang aneh. Kalimat terakhir yang menjadi penutup pertemuan mereka terus terngiang-ngiang di pikiran Nagine.
Pandangan gadis itu melirik ke bawah. Menatap Arthar yang sibuk memasangkan helm di bawah sana. Ia melihat laki-laki itu mendongak menatap dirinya dengan tatapan ... jujur, Nagine sulit menjelaskan tatapan apa itu. Seperti; marah, kesal, kecewa, atau mungkin sedih?
Tak mendapati reaksi apa pun dari Nagine, Arthar melajukan motornya tanpa basa-basi melambaikan tangan. Sepertinya laki-laki itu pulang dengan rasa kecewa.
Nagine menghela napas. Beralih menatap lurus mentari yang akan bersembunyi dan kembali esok pagi. “Gue harap kepergian lo tadi kayak senja, Ar. Akan kembali dan memberikan keindahan untuk pengagumnya.”
Sore itu Allah seakan menghukum Nagine. Sepertinya baik Arthar ataupun Nagine, tidak ditakdirkan bahagia untuk hari ini. Mereka tahu apa-apa yang menimpa mereka hari ini tidak lepas dari apa yang Allah takdirkan.
Sebelum benar-benar terlelap, Nagine sempat disadarkan oleh Habiba yang tiba-tiba datang di pikirannya dan berkata, kekecewaan adalah bentuk Allah peduli bahwa itu tak pantas untuk kamu miliki. Hanya saja, manusia sangat minim dalam menyadari.
———————
To be continued.
All rights reserved. Tag my wattpad account if you want to share anything about this stories.
Indonesia, 8 Agustus 2022 | Jangan lupa prioritaskan Al-Qur’an.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only 9 Years | lo.gi.na [END]
Fiksi Remaja[Teenfiction Islami 14+] "Na, lo sama dia itu beda Tuhan. Terus mempertahankan dia selama 9 tahun ini buat apa?" Gadis itu menatap lekat sahabatnya sambil tersenyum dan hampir melepas gelagak tawa yang ditahan. "Besok gue sekeluarga masuk Islam, cu...
![Only 9 Years | lo.gi.na [END]](https://img.wattpad.com/cover/314902336-64-k622806.jpg)