Coba didengarkan dulu lagu versi perempuannya. Biar lebih ngefeel ya frens.
Kau adalah Jantungku.
Menyuarakan perasaan bukanlah kesalahan.
———————
“Kamu ganteng, Mas,” kata Nagine tiba-tiba setelah selesai melepas mukena yang baru ia pakai untuk salat Subuh.
Menyembunyikan kesaltingannya, Husain memilih untuk mengerutkan dahi. Apa ini pujian pertamanya setelah kemarin mereka resmi menjadi sepasang suami istri? Lantas, ada apa gerangan?
Katanya, seorang pria akan sangat peduli dengan pujian yang datang dari seorang wanita yang ia cintai. Walaupun terkesan blak-blakan, tapi ternyata inilah yang membuat diri Nagine percaya bahwa rasa itu juga berhak disuarakan.
Gadis—ah lebih tepatnya wanita—itu memilih untuk menyuarakan perasaannya meskipun pada akhirnya akan dianggap sampah. Kegagalannya pada masa lalu sempat membawanya ragu akan menemukan kembali cinta yang tulus dan sungguh. Tidak gampang untuk membenahi kembali hati yang sudah patah, tapi ternyata dia bisa. Karena menyuarakan perasaan itu bukan kesalahan.
“Ini pujian pertama untuk saya?” tanya Husain menunjuk dirinya sendiri. Laki-laki itu membetulkan peci yang ia kenakan.
“Iya, untuk ‘suami saya’.”
Pria itu menahan tawanya. Dia hendak tergelak, tapi harus tetap profesional. Pokoknya Husain harus terlihat seperti laki-laki kutub! Harusnya dia yang menggombal, tapi kenapa ini jadi terbalik?
“Saya kadang lupa kalo cara kamu menyuarakan perasaan itu sangat brutal. Gimana kalau jantung saya tiba-tiba berhenti karena kamu buat terbang terus?”
Nagine terkekeh. “Kan udah berhenti, Mas. Berhenti di saya. Jantung Mas itu saya.”
Lagi-lagi menepuk jidat. Sepertinya Husain harus bisa banyak belajar lebih untuk bisa mengalahkan gombalan-gombalan istrinya ini.
Seperti tidak mau benar-benar dikalahkan, Nagine dibuat terkejut oleh perlakuan Husain yang tiba-tiba memegang tangan dan mengelusnya lembut.
“Ada banyak hal tentang diri kamu yang nggak banyak saya tau, dan saat ini saya mau mendengar apa yang harus saya tau,” kata Husain.
“Mas mau tau apa?”
“Segalanya tentang kamu, saya mau tau.”
“Termasuk masa lalu?”
“Sure, saya mau mendengarnya. Apa pun tanpa terkecuali.”
“Dulu saya suka banget sama satu hal.”
“Saya tebak dia laki-laki yang nggak seiman sama kamu saat itu, ‘kan?” katanya percaya diri.
“Nggaklah. Masa lalu saya nggak cuma tentang dia aja, Mas. Lagian udah masa lalu. Dia juga udah menikah, kayaknya udah punya anak juga.”
“Oke-oke. Satu hal itu apa?”
“Menulis. Saya suka banget nulis novel fiksi. Dari kecil kata Mama imajinasi saya luar biasa banget. Kalau pergi ke suatu tempat, kata beliau saya selalu bilang, ‘Di bukit ini aku bayangin banyak hal yang bakal aku lakukan. Menari dan bertemu pangeran dari kerajaan misalnya.’ Cukup konyol, ya ... kata-kata semacam khayalan sering kali terdengar dari mulut saya saat kecil.”
“Sampai saat SMP, saya mulai aktif membangkitkan hobi saya. Setiap kali sekolah saya mengeluarkan ajang literasi, saya selalu hadir dan punya ambisi besar untuk jadi juara. Walau akhirnya saya gagal. Di kegagalan yang ke sekian, pertanyaan saya tentang alasan mengapa saya gagal akhirnya terjawab saat saya menginjak usia 17 tahun.”
“Di situ, saya baru sadar bahwa ejaan suatu bacaan itu punya aturan. Seperti tidak menggunakan spasi sebelum koma. Setelah titik huruf kapital, dan beberapa tanda baca yang asing dan baru saya ketahui namanya seperti elipsis atau titik tiga.”
“Kesalahan saya terbenahi saat saya mengikuti komunitas menulis tanpa mengeluarkan biaya sepersen pun. Setiap hari diadakan seleksi karya untuk penerimaan kritik dan saran. Siapa pun yang mendirikan itu, saya berharap Allah selalu menjaganya.”
“Saya sempat join di aplikasi Freenov dan menulis novel di sana, tapi udah sekitar 4 tahun lebih saya belum pernah membukanya karena sibuk. Mungkin akan aktif kembali dalam beberapa bulan ke depan. Saya ingin mencari kesibukan di sela mengajar soalnya. Selain itu saya juga mau menghapus cerita-cerita yang sudah saya publikasi.”
“Kenapa dihapus?” tanya Husain bingung. Laki-laki itu membetulkan posisi duduknya dengan tangan yang masing memegang tangan istrinya.
“Sebelum masuk Islam, saya merasa dulu sangat taat pada agama sebelumnya. Sampai saat saya membuat cerita pun, tidak jauh dari ajaran-ajaran agama tersebut. Saya mau hapus karena saya sudah resmi masuk Islam dan memulai langkah baru.”
“Ma syaa Allah. Nggak takut pembacanya ilang?” tanya Husain. Itung-itung sedang menguji keimanan istri sendiri.
“Nggak. Buat apa takut? Pembaca saya nggak ribuan kayak orang lain, Mas. Paling nggak sampai 20. Itu aja bersyukur banget. Alhamdulillah ada yang baca dan memberi apresiasi.”
“Udah pernah nerbitin buku nggak?”
Nagine mengangguk. “Pernah. Self publishing sih. Sekarang bukunya ada di rumah. Pada sisa dua sampai lima biji kayaknya. Saya dulu nekat nerbitin buku padahal pembaca saya pada nggak mau beli. Akhirnya saya milih buat dibagi-bagiin ke remaja-remaja Gereja karena saat itu ‘kan saya masih nonis dan buku yang saya tulis itu cukup untuk 15 tahun ke atas. Ya, meskipun kelihatannya rugi, tapi saya nggak merasa dirugikan. Saya suka berbagi.”
“Saya punya perusahaan penerbitan.”
Spontan Nagine mendelikkan matanya. Dia baru sadar Hana pernah menceritakan ini.
“Really?” tanyanya dengan binar mata tak percaya. Nagine lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu. Ini salah satu cara menghargai orang lain.
Husain mengangguk.
“When?” tanya Nagine.
“Udah jalan tujuh tahun. Alhamdulillah.”
“Please ceritain awal mulanya dan bisa berdiri sampai sekarang.”
Sejenak Husain terkekeh, lalu menuruti permintaan istrinya. Dia mulai bercerita, bahwa laki-laki itu ingin sekali meningkatkan dunia literasi Indonesia dan membawa negeri ini lebih maju dengan banyaknya generasi muda bangsa di bidang literasi. Ia sangat ingin pemuda-pemudi yang memiliki karya sastra baik bisa memeluk karyanya sendiri. Padahal Husain termasuk orang awam di dunia tersebut.
Dia menyeleksi karyawan yang bekerja di sana melalui Yusril karena laki-laki itu adalah penulis, meskipun karya Yusril belum pernah diterbitkan, tapi ia memiliki pembaca yang cukup banyak di aplikasi Freenov. Lama kelamaan, literasi di diri Husain bertambah sejak adanya perusahaan yang ia rintis seorang diri itu. Ya ... Yusril memang membantunya sedikit-sedikit.
“Dulu saya bingung mau kasih nama perusahaan terbit saya apa. Saya nggak mau yang pasaran, tapi jaman gini susah. Akhirnya Yusril merekomendasikan nama Had untuk perusahaan pembuatan buku fisik itu. Penerbit Had, itu namanya.”
“Kata Yusril, Had itu singkatan dari Husain Ali Ad-Dhuha. Selain karena itu, dia juga bilang bahwa nama Had memiliki sifat atau karakter yang cenderung bisa melambangkan ataupun menghasilkan daya cipta. Yusril berharap saya benar-benar bisa menekuni itu. Dulu, saat saya mau menawarkan bukunya untuk terbit pertama kali, dia bilang, ‘Nggak usah. Saya emang nggak mau nerbitin buku. Saya mau karya saya bisa dibaca sepuasnya di Freenov. Nggak semua orang punya uang buat beli buku itu, Sen.’ Begitulah, padahal juga nggak semua orang punya uang buat beli HP.”
To be continued.
———————
Bagian paling ringan. Besok ketemu lagi ya frens. In syaa Allah.
All rights reserved. Tag my wattpad account if you want to share anything about this stories.
Indonesia, 2 Oktober 2022 | Jangan lupa prioritaskan Al-Qur’an.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only 9 Years | lo.gi.na [END]
Teen Fiction[Teenfiction Islami 14+] "Na, lo sama dia itu beda Tuhan. Terus mempertahankan dia selama 9 tahun ini buat apa?" Gadis itu menatap lekat sahabatnya sambil tersenyum dan hampir melepas gelagak tawa yang ditahan. "Besok gue sekeluarga masuk Islam, cu...
![Only 9 Years | lo.gi.na [END]](https://img.wattpad.com/cover/314902336-64-k622806.jpg)