Bukan Takdir
Aku tahu Allah mendengarkan doaku, tapi aku juga tahu bahwa Allah tidak berkehendak untuk mengabulkannya.
———————
Di balik kalimat-kalimat pedas yang terlontar kemarin, sebenarnya Nagine sedang menyembunyikan kesesakannya. Jika tidak dipendam sendirian, ia pasti akan lemah dan terlena untuk terjebak dalam lubang kesakitan. Melepaskan Arthar memanglah sulit, setidaknya itu lebih baik daripada terus bersamanya tapi diiringi rasa sakit.
Menurut Nagine, sebagian laki-laki memang tercipta paling egois. Dia bisa kapan saja memeluk raga perempuan lain, padahal hatinya tidak di sana. Dia juga bisa saja membalas pesan masuk semua perempuan dan meresponnya sama, tapi mengakunya tidak pernah.
Kaidah cinta dalam Al-Qur’an memang perlu dibuktikan dengan akad, tapi tidak dalam konteks memperistri dua perempuan dalam satu waktu. Terlebih salah satu di antaranya tidak diberitahu. Apa yang bisa disebut selain selingkuh?
“What’s wrong? Kelihatannya sejak pagi lo murung,” tanya Aya duduk di sebelah Nagine sambil memberikan sebotol air.
“Everyhing is alright,” jawabnya singkat sambil menerima air mineral dalam kemasan botol itu.
“You’re wrong. Soalnya perempuan tuh kalau bilang nggak papa, pasti ada apa-apanya. Gue tau karna gue perempuan,” kata Aya. Gadis itu berusaha untuk membuat Nagine terbuka. Jarang-jarang perempuan yang disebut ukhti-ukhti dingin ini memberikannya petuah yang menenangkan.
Sesuai hakikat, air mata Nagine luruh sekarang. Dia menitihkan bulir bening itu secara tiba-tiba, bahkan Aya sampai bingung bagaimana memberikannya respon positive untuk menguatkan Nagine. Dia blank.
Aya memegang bahu Nagine. Menepuknya pelan sambil menyuruh gadis itu untuk lekas diam. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menunggu Nagine selesai menangis. Setelah merasa tenang, baru Aya bertanya ada apa, tapi jawaban Nagine justru mengeluarkan sebuah undangan yang membuatnya mengerutkan dahi bingung.
“Undangan siapa?” gumamnya, lalu mengambil undangan pernikahan yang terletak miring di meja.
Arthar dan Adityara.
Undangan itu merosot setelah tanpa sadar Aya mengendorkan pegangannya. Dia terkejut setengah kayang. Harusnya ia tak perlu kaget karena Arthar pernah memublikasinya di instagram, tapi Nagine? Bagaimana dengan perasaan perempuan itu?
“Gin, lo yang tabah, ya,” katanya. Sungguh, ia sangat bingung bagaimana caranya menenangkan Nagine. Pantas saja hari ini sahabatnya tampak murung.
“Sekarang gue harus gimana, Ay? Beneran gue ditinggal nikah?” Nagine merengek dan Aya yang semakin bingung harus berbuat selain menyuruh Nagine untuk bersabar. “Perjuangan gue selama ini sia-sia? Apa salah kalo gue nggak menolak ajakannya untuk nikah saat itu?”
Kali ini, Aya mengerutkan dahi. Dia bingung dengan pertanyaan yang barusan Nagine lontarkan. Dia merasa asing, tidak tahu apa-apa. “Ajakan menikah? Siapa?” tanyanya.
“Ay, sorry kalo selama ini gue sering bohongin lo. Mungkin ini balasan setimpal atas kebohongan yang gue lakuin,” kata Nagine. Tiba-tiba saja berkata seperti itu. Apa tidak membuat Aya bingung?
“Bohong apa? Lo kenapa? Kalo cerita jangan setengah-setengah!” akhirnya kekesalan yang ditunggu datang.
“Selama empat bulan terakhir, gue deket sama Arthar——”
“KOK LO NGGAK BILANG?!?! LO NGARANG???”
“Please, listen to me dulu. Gue nggak tau gimana, semuanya tiba-tiba terjadi, Ay.” Nagine masih bercerita dengan air mata yang mengalir deras. Di setiap ada kata yang membuat gadis itu kesakitan, pasti matanya reflek mengeluarkan cairan bening. Tidak ada penyembuhan kedua setelah Allah selain menangis untuk membuat lega, pikirnya.
“Awalnya, dia chat minta dibantuin tugas. Dia bilang mau memuat konsep tentang Islam di mata mualaf, katanya biar lebih real dia pengen gue buat jadi narasumber. Gue bersedialah, Ay. Kapan lagi coba kesempatan untuk bisa deket sama Arthar selain jalur belajar? Nggak ada, ‘kan? Makanya gue mau. Kita sempet video call, akhirnya dilanjutin buat ketemuan aja supaya lebih leluasa.”
Aya terkejut mendengar itu. Ia tak menyangka Nagine menyembunyikan hal sebesar ini. Padahal ia tahu percis Nagine adalah tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan kesaltingannya dengan rapi.
“Di hari kita ketemuan. Ternyata kita malah saling confess, tapi Arthar nggak mau pacaran, katanya dosa. Jadi, dia bilang komitmen aja.”
“Apa yang membedakan pacaran dengan komitmen, Gin?” sela Aya dengan pertanyaan yang Nagine tak bisa menjawabnya. “Cuma status. Selebihnya sama. Kalian saling bertukar kabar, ‘kan? Baik chat maupun enggak saling bikin meleyot, ‘kan?” Nagine menganggukinya. “Itu sama kayak zina. Yang bikin beda cuma status.”
Apa tidak terkejut Nagine? Ia baru saja membaca surah Al-Isra ayat 32 tadi pagi. Tidak, gadis itu masih menyangkal.
“Tapi kita punya tujuan untuk menikah dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Solat misalnya.”
“Jelas sama, Gin. Namanya zina dan itu dosa. Semua orang yang pacaran pasti pingin berjodoh sama pasangannya, ‘kan? Lalu komitmen? Sama, Gin! Yang jadi pembeda cuma status. Dalam Islam nggak ada pacaran syari. Adanya ta’aruf. Saling mengenal, tapi melewati perantara. Jadi, nggak timbul khalwat.”
Aya mengusap wajahnya kasar. Dia masih tidak menyangka sebenarnya. “Sekarang solat taubat. Istighfar banyak-banyak, minta ampun sama Allah,” katanya lalu membantu Nagine mengeluarkan mukena dari dalam tote bag yang selalu sahabatnya bawa. Ia kemudian menuntun Nagine ke Masjid kampus.
Dalam keheningan kala itu. Nagine mendirikan salat dalam air mata yang terus berlinang. Gadis itu sampai terbata-bata karena saking sesegukannya. Nagine berusaha menuntaskan salatnya, hingga sampai di sujud terakhir dalam salat, gadis itu seperti telah berhasil menemui sosok yang dia cari.
Hatinya berdesir. Gadis itu merasa Allah tengah ada di hadapannya memeluk. Mengelus bahunya dan berkata Aku tidak akan memberikan ujian jika bukan untuk pelajaran. Nagine semakin menangis menjadi-jadi saat itu, bahkan Aya yang ikut melaksanakan salat saja bisa mendengar dengan jelas rintihan Nagine.
Aya buru-buru mengakhiri salatnya. Dia kemudian memandang Nagine yang masih setia bersujud sambil berdoa banyak hal. Salah satunya diberi keikhlasan untuk melepas orang yang selama ini dia kagumi.
Setelah merasa tenang, gadis itu bangkit dari sujud dan melakukan tahiyat akhir hingga salam. Selepas salam, dia melirik ke arah Aya yang tersenyum ke arahnya kemudian berlari mengambil rengkuhan gadis itu.
“Sakit Ay,” katanya lirih. “Sakit banget ditinggal nikah sama orang yang udah janji nggak akan jauh dari kita.”
“Sabar. Allah akan kasih pahala tanpa batas untuk kita yang bersabar,” ucap Aya menyemangati Nagine. “Serpihan debu dunia nggak pantes ditangisin. Nggak usah cengeng!” imbuhnya galak.
Gadis itu mengangguk diam-diam. “Gue tau Allah mendengarkan doa gue, tapi gue juga tau kalau Allah nggak berkehendak buat mengabulkannya.”
Seketika Aya ikut meneteskan air mata lagi mendengar hal itu. Antara senang, sedih, dan terharu Nagine bisa berkata demikian untuk merelakan seseorang yang ternyata bukan takdirnya. Padahal gadis itu termasuk orang yang baru memeluk agama yang ia anut sejak kecil, Islam. Sungguh Maha Hebat Allah bisa melunakkan hati kecil milik Nagine. Salah satu kuasa-Nya.
———————
To be continued.
Ditinggal nikah :(
Menurutmu, bagaimana karakter Arthar?
All rights reserved. Tag my wattpad account if you want to share anything about this stories.
Indonesia, 11 Agustus 2022 | Jangan lupa prioritaskan Al-Qur’an.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only 9 Years | lo.gi.na [END]
Novela Juvenil[Teenfiction Islami 14+] "Na, lo sama dia itu beda Tuhan. Terus mempertahankan dia selama 9 tahun ini buat apa?" Gadis itu menatap lekat sahabatnya sambil tersenyum dan hampir melepas gelagak tawa yang ditahan. "Besok gue sekeluarga masuk Islam, cu...
![Only 9 Years | lo.gi.na [END]](https://img.wattpad.com/cover/314902336-64-k622806.jpg)