Yusril.
Tidak ada rasa yang dapat reda dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya karena ia bukan proklamasi.
———————
“Terima kasih sudah mendoakannya. Mungkin sudah waktunya kamu harus mengetahui kenyataan bahwa hamba Allah itu bernama Yusril. Dia ... sudah meninggal hampir tiga tahun.”
“Mas tau dari mana?” tanya Nagine. Dia berusaha untuk tidak percaya, tapi raut wajah Husain bukan lagi bercanda.
“Yusril teman saya. Tidak, lebih tepatnya sahabat saya. Dia teman seperjuangan saya waktu ambil S2 di IPB. Dia pernah bilang kalau waktu itu dia menyukai seorang perempuan. Katanya perempuan itu cantik, matanya sedikit sipit, kulitnya putih bersih, dan rambut yang sebahu.” Mendengar itu Nagine meraba kepalanya yang tertutup hijab. Pikirannya sudah aneh-aneh sekarang.
“Waktu saya tanya siapa perempuan itu, dan kok bisa dia suka sama perempuan yang nggak menutup aurat, jawabannya sederhana. Dia tidak bisa memprediksi dirinya sendiri akan jatuh cinta dengan siapa dan dengan cara yang seperti apa. Ya, dia anggap dia sedang jatuh cinta saat itu. Saya nasihati dia untuk mencari tahu siapa perempuan yang dikagumi, dan benar aja. Dia cari tau semua tentang crushnya, dan orang itu ....”
“Saya.” Tanpa aba Nagine mengambil alih penjelasan Husain untuk dirinya sendiri.
Terdengar laki-laki itu menghela napas berat. Hendak berkata lagi, Nagine berkata lagi.
“... dan karena orang itu sudah meninggal, Bapak yang menggantikannya untuk menikahi saya karena dia mewasiatkan itu?” tebaknya yang terdengar agak klise.
Husain meraup wajahnya kasar. Ia dapat melihat emosi di wajah Nagine. Astaghfirullah, mereka baru resmi menikah beberapa jam yang lalu dan ... konflik rumah tangga sudah terjadi?
“Tidak. Perempuan itu memang kamu, tapi bukan seperti itu ceritanya. Izinkan saya untuk menjelaskan lebih lanjut. Kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin. Di luar masih ada orang tua kita yang marwahnya perlu dijaga, Nagine.”
“Ya, apa?”
“Dia saat itu mencari tahu tentang kamu, ada dua fakta yang mengejutkan saya. Pertama, dia bilang kamu masih SMA. Saya kira kamu salah satu mahasiswi di sana. Ternyata siswi yang sedang melakukan kunjungan kampus.”
“Lalu, apa yang kedua?”
“Kedua, kamu seorang nasrani.” Husain mengatur napasnya sejenak. Berusaha untuk tidak membiarkan air matanya jatuh saat perjalanan yang menurutnya agak memuakkan itu. “Saya larang dia untuk melanjutkan perasaannya, tapi sekali lagi dia membuat saya mati kutu karena jawabannya yang membekukan. Dia bilang, tidak ada rasa yang dapat reda dengan cara yang singkat, ini bukan proklamasi dengan tempo waktu yang sesingkat-singkatnya, Sen. Hahaha, agak lawak memang bocah satu itu.”
“Akhirnya saya memutuskan untuk membiarkan dia dengan perasaannya. Asal dia tau saja kalau perbedaan dari kalian tidak bisa dipaksaan. Saat itu juga, dia kekeh untuk, ‘Nggak, Sen! Dia bisa masuk Islam. Gue nggak mau move on!’ ya, pikirannya emang agak dangkal. Saya bilang kalau kita nggak bisa mengkombinasikan agama kalau urusannya sudah seperti ini. Keyakinan seseorang itu dari hatinya sendiri, bukan orang lain.”
“Dari situ saya kira kisahnya sudah berhenti karena Yusril tidak pernah membicarakan apa pun lagi tentang kamu. Ternyata, tiga tahun lalu dia menghubungi saya. Dia bilang dia ada di rumah sakit. Dia mengalami kecelakaan saat perjalanan ke Bandung. Di sana Yusril bilang dia kemarin mengirimkan sesuatu untuk kamu, katanya mukena. Waktu ngasih benda itu, dia ngerasa bodoh karena kamu bukan bagian dari kami, tapi dia tetap kekeh buat ngasih nggak tau arahan dari mana. Dia ngasih tau saya bentuk mukenanya kayak gimana, makanya saat saya melihat mukena itu, saya ingat sama perjuangan dia.”
“Dan di hari itu juga, Yusril menghembuskan napas terakhirnya di depan mata saya sendiri dengan kalimat terakhir yang meminta saya untuk menjaga kamu. Ya, hanya menjaga kamu. Bukan menikahi kamu. Masalahnya di pikiran saya saat itu tidak ada bentuk perlindungan paling baik dengan orang yang bukan mahram kecuali menikahinya. Makanya saya menikahi kamu, tapi sebelum itu saya sempat meneruskan jejaknya dalam mengagumi kamu, Gina. Ya, dengan cara memberikan hadiah atas nama hamba Allah.”
“Lalu, apa yang bisa Mas jaminkan untuk saya agar mempertahankan pernikahan ini?”
Ini baru awal dan Nagine harus dipaksa mengeluarkan kalimat sejenis ini?
“Na, saya menikahi kamu bukan karena wasiat itu. Jangan berpikir ke sana. Wasiat Yusril hanya menyuruh saya menjaga kamu. Perkara menikahi kamu, itu keinginan saya sejak saat kamu memutuskan untuk masuk Islam. Orang yang membimbing kamu syahadat adalah sepupu dari Abi saya. Sejak saat di mana kamu menirukan gerakan solat itu, saya sudah menjatuhkan hati ke kamu. Benar kata Yusril, kita memang tidak bisa memprediksi di mana kita akan melabuhkan sebuah hati.”
“Saya menikahi kamu karena Allah, bukan manusia. Tolong percaya itu,” kata Husain meyakinkannya. Nagine menatap Husain lirih, tidak ada kebohongan di sana. Mata itu terlihat tegas penuh keyakinan.
“Saya menikahi kamu karena saya mengagumi kamu sama seperti kamu mengagumi Islam,” imbuh Husain. “Ini hari pernikahan kita. Seharusnya kita berbahagia, ‘kan? Tinggal beberapa jam lagi kita akan resepsi.”
Tepat setelah mengatakan itu, Husain baru menyadari sebagian make up yang tadinya melekat di wajah cantik istrinya kini agak berantakan karena air mata itu mengalir drastis.
“Jangan nangis. Saya nggak suka,” kata Husain mengusap air mata Nagine dengan jempol. Gadis itu seketika berkacak pinggang.
“Ih! Mas wudunya batal!”
Reflek Husain memohon ampun kepada Allah. Ia tergelak tawa. Mulut manyun Nagine sambil tangan bersila dada itu membuatnya gemas sendiri.
“Maaf, Ning. Kulo ndak sengaja tadi. Kulo supe,” ucapnya merasa bersalah meskipun sedikit tertawa. Menertawakan lupanya.
“Ngomong apa sih, Mas?! Saya nggak ngerti bahasa Jawa, sampean ini kalo ngomong pakai Indonesia aja.”
“Maaf-maaf. Saya lupa lagi. Kalau di ndalem memang udah kebiasaan ngomong jawa, Ning. Suka reflek orangnya.”
“Kulo sama supe tuh apa?”
“Kulo itu aku, kalau supe itu lupa, Ning.”
Bersamaan itu pintu terketuk. Husain bangkit, beranjak dari tempat duduknya dan membukakan pintu itu.
“Eh ada Gus Husein, toh? Afwan, Gus. Saya nggak tau sampean ada di sini,” ucap Lastri. Pemudi itu hendak beranjak, tapi Husain tahan karena urusannya di sini sudah selesai.
Dia menemukan pandangan dengan Nagine lalu tersenyum tipis. Tak lama wajah tenang itu berubah menyebalkan seperti sedang menertawakan Nagine yang harus memulai make upnya lagi.
“Tinggal pasang mahkota aja ya, Ning,” ucap Lastri sepeninggalan Husain.
“Maaf, ya Mbak. Ini harus mulai lagi. Tadi Mas Husain sengaja banget nyentuh saya.”
Nampak sekali Lastri menghela napas berat. Make up yang ia pakai memang waterproof, tapi belum tentu air yang masuk akan menyerap ke kulit. Jadi, untuk antisipasi, pengantin harus menjaga wudunya agar tetap bisa salat. Kalau sudah seperti ini, ia harus apa?
“Ndak papa, Ning. Kita touch up lagi.”
“Saya mau yang natural aja. Cuma pakai mois, foundie, em ..., intinya yang dasar-dasar aja. Nggak papa cepet ilang juga. Nanti juga pakai cadar.”
———————
To be continued.
All rights reserved. Tag my wattpad account if you want to share anything about this stories.
Indonesia, 25 September 2022 | Jangan lupa prioritaskan Al-Qur’an.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only 9 Years | lo.gi.na [END]
Teen Fiction[Teenfiction Islami 14+] "Na, lo sama dia itu beda Tuhan. Terus mempertahankan dia selama 9 tahun ini buat apa?" Gadis itu menatap lekat sahabatnya sambil tersenyum dan hampir melepas gelagak tawa yang ditahan. "Besok gue sekeluarga masuk Islam, cu...
![Only 9 Years | lo.gi.na [END]](https://img.wattpad.com/cover/314902336-64-k622806.jpg)