Something Different
Differences are beautiful.
———————
Menurut Nagine, sesuatu yang dipilih dari hati itu artinya unik dan semua yang terlahir di Bumi itu spesial. Sama halnya dengan Arthar. Kehadiran laki-laki itu ke dalam hidupnya sejak 8 tahun lalu berhasil merubah semua prinsip yang ia bangun. Salah satunya memilih untuk tidak jatuh cinta saat itu.
Well, semua orang tahu jika seseorang yang menjatuhkan hatinya di usia under 15 tahun, itu namanya cinta monyet. Nagine juga menyetujui itu. Masalahnya, orang juga pernah beropini jika seseorang yang mengagumi lawan jenisnya lebih dari empat bulan, berarti ia mencintainya, dan kata temannya memendam perasaan selama lebih dari setahun itu tulus.
Rindu yang dua tahun ini Nagine bangun akhirnya bertemu pemiliknya tadi pagi. Setelah lima tahun Nagine menyimpan rasa seorang diri, setahun lagi mereka dekat, setahun berikutnya Arthar hilang, kini tepat ke-8 tahun perasaan itu ada Nagine bertemu kembali dengan cinta pertama setelah sang ayah.
Bahagia, meskipun sangat sulit untuk kembali seperti yang sudah-sudah, setidaknya hari ini gadis itu kembali melihat orang yang berhasil mengobrak-abrik hatinya dengan wajah yang jauh lebih dewasa. Nagine kembali dibuat jatuh cinta dengan pesona Arthar.
“Lama-lama rahang lo copot senyum terus kayak gitu,” kata Aya setelah menyeruput ice matcha latte yang baru saja ia beli di seberang. Bukannya tersindir untuk berhenti, Nagine justru semakin memperlihatkan senyumnya.
“Bego nih anak,” putusnya merasa jengah melihat Nagine yang tak kunjung sadar-sadar akan perbedaannya dengan Arthar.
“Dulu gue minta ke Tuhan supaya dikasih sahabat yang bisa jadi support system, dan Dia malah kirim lo; orang tanpa ekspresi, ketus, dan nggak bisa menghargai perasaan sahabatnya yang lagi gamon ini.”
Aya agak meletakkan ponselnya dengan kasar. Gadis itu menatap ke arah Nagine dengan intens. “Gin. Mau sampai kapan lo nggak menyadari kalau kalian berdua itu—,” tangan Nagine lebih dulu condong ke depan dan membuat perkataan Aya tersela.
“Sampek gue capek.”
Kepala Aya rasanya ingin pecah. Lelah menghadapi makhluk langka seperti sahabatnya ini.
“Selain lo berhenti belajar, lo harus belajar buat berhenti.”
Kali ini Nagine merosotkan bahunya. Gadis itu menghela napas. Lagi-lagi yang dibicarakan Aya fakta.
“Males,” singkat Nagine tak mau kalah. Selepas mengatakan itu, tanpa permisi Nagine menyeruput matcha latte milik Aya yang membuat gadis itu melototkan mata kesal.
Di sisi lain, dalam hati Aya tersenyum. Mungkin ia terlihat tidak peduli dengan sekitarnya, tapi tidak dengan Nagine. Gadis itu sudah berhasil membuat warna hidupnya kembali. Aya mana mungkin membiarkan Nagine sengsara begitu saja. Cuma, kadang-kadang sahabatnya itu suka menyebalkan. Buta karena cinta, lebih parahnya lagi suka lupa diri dan mengedapankan congkak.
“Oh ya. Minggu lo mau keluar sama gue, nggak?” tanya—lebih tepatnya tawar—gadis itu santai sambil berdiri membawa ice matcha latte milik Aya yang baru beberapa menit lalu ia klaim jadi miliknya. Mereka berjalan beriringan sekarang.
“Bosen gue liat muka lu.”
Mendengar jawaban tak senonoh itu membuat Nagine mendesis kesal. “Laknat lu.”
“Lagian nggak jalan sama lu nggak bikin gue kelaparan kali,” jawab Aya santai.
Nagine berdecih sambil menatap sahabatnya tidak suka, tapi kini berubah menjadi tatapan melas yang membuat Aya geli melihat tingkah memalukan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only 9 Years | lo.gi.na [END]
Fiksi Remaja[Teenfiction Islami 14+] "Na, lo sama dia itu beda Tuhan. Terus mempertahankan dia selama 9 tahun ini buat apa?" Gadis itu menatap lekat sahabatnya sambil tersenyum dan hampir melepas gelagak tawa yang ditahan. "Besok gue sekeluarga masuk Islam, cu...
![Only 9 Years | lo.gi.na [END]](https://img.wattpad.com/cover/314902336-64-k622806.jpg)