Love Language
Semua orang tidak bisa menduga akan jatuh cinta dengan cara seperti apa.
———————
“Lo jelas tau kalo bokap gue sangat menolak keras agama gue yang sekarang, bahkan saking ditolaknya gue sampe nggak dianggap anak lagi,” kata Nagine cukup miris pada Aya melalui sambungan telepon beberapa hari yang lalu. Kalimat yang ia menjadi alasan terakhirnya saat itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran.
Selain alasan belum siap menerima orang baru dan hatinya belum beranjak pada Arthar, Nagine mengkhawatirkan ini. Padahal baik dengan Husain ataupun Arthar ia tetap stuck karena belum menemukan jalan tengah untuk mendapat restu dari sang ayah. Otaknya baru memikirkan ini sekarang. Sepertinya dulu tidak akan sempat karena yang ada di pikirannya adalah menikah dengan laki-laki itu yang sekarang Allah tidak merestuinya.
Pagi tadi Nagine bangun dengan kebingungan. Ia yang baru saja salat istikharah tidak tahu ceritanya tiba-tiba terbangun di atas sajadah saat azan Subuh berkumandang. Artinya ia tertidur dan bangun-bangun dalam keadaan bingung. Apa arti mimpi itu? Apa jawaban dari istikharahnya beberapa jam yang lalu?
Masalahnya di mimpi itu tergambar jelas seorang laki-laki menjabat tangan pria yang tidak ia kenal, mengucapkan ijab qobul atas namanya, dan ... laki-laki itu adalah Husain.
Sepanjang beraktivitas pikirannya juga tidak jauh-jauh dari arti mimpi tadi. Pokoknya sore ini ia harus menemui ustazah Umayya—wanita mulia yang mengajarinya membaca Al-Qur’an—dia harus bertanya tentang mimpi itu.
Selesai dengan kegiatan mengajarnya, Nagine pamit pulang lebih dahulu untuk segera bertemu dengan ustazah Umayya. Motornya sudah bisa digunakan, kemarin malam baru diantar ke rumah setelah ditambal. Dia kemudian melajukan motornya ke sebuah pondok pesantren yang dekat dengan universitas Pratama.
Ia memarkirkan motornya di parkiran khusus tamu setelah berhenti di pos satpam untuk melaporkan dirinya hendak bertamu kepada salah satu guru pesantren yang tidak lain adalah ustazah Umayya. Kakinya kemudian dilangkahkan pada gazebo sebab ustazah Umayya akan menemuinya di sini. Beliau sendiri yang meminta sebab dia sedang tidak ada di kelas dan tamu dilarang untuk menemuinya ke ruang guru.
“Assalamualaikum, Gina.” Suara salam itu seketika membuat Nagine yang semula duduk langsung berdiri menyalimi tangan halus Umayya sambil menjawab salam. Wanita itu mengelus puncak kepala Nagine sambil tersenyum, kemudian mengajaknya kembali duduk di gazebo.
“Ada apa, hm? Pasti mau menceritakan laki-laki yang mempunyai nama seperti cucu Rasulullah itu ya?” tebak Umayya yang diangguki Nagine dengan kekehan tipis malu-malu. “Kenapa? Kamu menerimanya?”
“Belum tau, Umay. Di sepertiga malam tadi saya salat istikharah, sesuai dengan apa yang Umay sarankan. Setelah zikir ternyata saya ketiduran. Di situ saya bermimpi Pak Husain mengucapkan ijab qobul atas nama saya. Apa itu artinya ... Allah merestui kami?”
Ustazah Umayya yang memang diminta untuk dipanggil dengan panggilan Umay ini tersenyum, lalu mengelus tangan Nagine yang kini menggenggam tangannya. “Gina, Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah pernah berkata, ‘Tidak disyaratkan seorang yang melakukan istikharah dia bermimpi sesuatu yang menunjukkan pilihan yang lebih utama. Akan tetapi, kapan saja sesuatu dimudahkan setelah istikharah, hendaknya dia menyadari bahwa itu baik baginya jika dia berdoa kepada Allah dengan hati yang jujur dan ikhlas.’.”
“Jadi, jawaban dari istikharah tidak selalu datang dari mimpi. Petunjuk lain bisa datang melalui apa yang kamu rasakan. Untuk itu sesering mungkin kita harus mensucikan keadaan batin agar mampu menafsirkan dan menerima hidayah dari Allah. Sesungguhnya, Allah itu dekat.”
Mendengar jawaban yang itu membuat hati Nagine sedikit tenang. Dia menghela napasnya lega.
“Sebenarnya Pak Husain adalah laki-laki idaman. Dia baik, Umay. Di tempat Nagine mengajar saya guru-guru banyak yang memuji kebaikan beliau. Agamanya sangat baik. Nasabnya sepertinya juga baik. Saya lihat CV-nya kemarin ayahnya seorang Kyai dari pondok pesantren yang ada di Jawa Timur.”
“Jika disuruh menikah dengan laki-laki yang seperti itu, perempuan jomblo mana yang tidak mau? Saya saja mau, tapi masih ada yang meragukan hati saya.”
“Apa yang membuat kamu ragu dengan laki-laki itu, Gina?” tanya ustazah Umayya.
“Bukan dia yang meragukan, tapi saya yang ragu dengan diri saya sendiri, Umay. Saya takut tidak bisa mengimbanginya. Saya takut masa lalu saya masih ada dalam hati ini, dan yang paling penting saya takut ayah saya tidak merestui kami.”
“Bukannya saat ditelepon kemarin kamu bilang sama saya kalau Husain bersedia membantu kamu meminta restu kepada ayah kamu?” Nagine mengangguk membenarkan. “Lalu keraguan apalagi? Tentang masa lalu kamu itu?” sekali lagi Nagine mengangguk.
Ustazah Umayya kembali mengelus tangan Nagine. “Gina, tentang masa lalu, itu sudah biarkan ia berlalu. Fokus dengan masa depan kamu. Jangan biarkan bayang-bayang suami orang masih membekas di kepala. Move on. Dia sudah beristri. Kamu tidak bisa menormalkan perasaan kamu lagi. Lihat, sekarang sudah ada laki-laki yang tengah memerjuangkan kamu? Apa yang harus kamu ragukan di antara sudah ada pasti bahkan dia sudah berani melamar kamu?”
“Saya takut saya tidak bisa mencintainya. Saya tau jika cinta bisa datang saat kita terbiasa sama-sama, tapi bagaimana jika saya tidak terbiasa bersamanya? Apa bisa saya menjatuhkan hati pada laki-laki yang bahkan saya jarang berkomunikasi dengan dia?” tanyanya bingung.
“Hei, kita bahkan bisa menyukai seseorang sekalipun kita tidak pernah melihat wajahnya, bahkan dengan karakter dalam sebuah tulisan yang jelas kita tahu bahwa ia tidak pernah ada dalam dunia kita saja bisa membuat jatuh cinta. Karena kebanyakan kita memang jatuh cinta dengan apa yang kita bayangkan tentang mereka.”
“Lebih parah lagi ada loh orang yang jatuh cinta hanya gara-gara diacungi jempol sekaligus disenyumi. Seseorang itu punya perjalanan yang sangat banyak untuk bisa jatuh cinta. Semuanya beragam. Kita tidak bisa menduga kita akan jatuh cinta dengan cara yang seperti apa. Semua orang punya love languagenya masing-masing.”
“Kalian akan tinggal sama-sama. Akan banyak hal yang akan dilakukan bersama. Jadi, mustahil jika perasaan itu tidak hadir, bukan?” Nagine mengangguk, tapi masih ragu. “Jangan ragu, Gina. Allah akan membantu kamu meskipun jalannya sangat sulit. Jika kamu percaya Husain bisa membantu kamu dalam menggapai ridhanya Allah, terima dia.”
———————
To be continued.
Tolak atau terima?
Oh ya, selamat menempuh chapter setengah abad bestie. Lagi-lagi kemarin malam aku lupa publish. Bismillah besok nggak lupa argh.
All rights reserved. Tag my wattpad account if you want to share anything about this stories.
28 Agustus 2022 | Jangan lupa prioritaskan Al-Qur’an.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only 9 Years | lo.gi.na [END]
Novela Juvenil[Teenfiction Islami 14+] "Na, lo sama dia itu beda Tuhan. Terus mempertahankan dia selama 9 tahun ini buat apa?" Gadis itu menatap lekat sahabatnya sambil tersenyum dan hampir melepas gelagak tawa yang ditahan. "Besok gue sekeluarga masuk Islam, cu...
![Only 9 Years | lo.gi.na [END]](https://img.wattpad.com/cover/314902336-64-k622806.jpg)