Dasya menutup pintunya dengan kasar. Ia bersandar pada pintu. Menjatuhkan dirinya secara perlahan. Isakan tangis mulai mengisi kamarnya.
Tangannya yang terlipat, memeluk lututnya kuat-kuat. "Aku benci diriku sendiri!"
"Terlalu cengeng!"
"Terlalu lemah!"
Dasya menarik rambutnya. Berusaha menghapus kejadian pagi hari yang sungguh buruk. Ia menggelengkan kepalanya dengan kencang. Tak perduli jika dirinya akan semakin pusing. Yang ia mau saat ini, hanya menghilangkan ingatan buruk mengenai keluarganya.
"Mama, mama pasti sedih melihatku dari sana." ucap Dasya.
"Ma," Sambil terisak Dasya berusaha melanjutkan ucapannya.
"Ja-jangan khawa-tir aku-aku oke."
"Mama udah berjuang buat aku."
"Se-sekarang biar-biar aku yang berjuang untuk mama."seraya menyandarkan kepalanya pada pintu.
Gadis dengan penampilan buruk itu menatap jendela kamarnya yang memperlihatkan awan cerah. "Aku akan berjuang untuk mama."
Gadis itu menutup matanya sejenak. Mencoba mengontrol emosinya yang berlebihan. Tapi, ketika dirinya mencoba mengambil alih ketenangan. Nyatanya memori yang tidak ia inginkan muncul.
Bersamaan dengan suara yang begitu nyata, seakan-akan ada Sandi dan Tasha yang berbicara tepat di kupingnya.
"Anak pembawa sial."
"Bukan anak kandung mama."
Dasya langsung membuka matanya. Ia menggelengkan kepalanya. Mencoba mengambil kesadaran dirinya. Ia mencoba cara lain untuk menenangkan dirinya.
Dasya memilih untuk menyegarkan diri. Air yang dingin akan membuat kepalanya merasa tenang. Namun, sebelum menyegarkan diri, Dasya mencari obat luka dan hansaplast untuk menutupi lukanya.
Gadis itu berusaha tidak memandangi kaca. Mengetahui kondisinya sangat buruk dalam cermin akan membuatnya merasa kasihan pada dirinya kembali.
Ia hanya menerka-nerka dimana luka dan darah yang mengalir di samping dahinya.
Tenang, seperti dugaannya. Air memang sangat bagus untuk membuat dirinya tenang. Alunan musik yang ia setel dengan durasi dua puluh lima menit itu berhenti. Tandanya, sudah cukup Dasya mencari ketenangan.
Kini saatnya ia berganti pakaian dan pergi mengikuti audisi. Dahinya berkerut kala pintu kamar mandinya tidak bisa di buka. Ia kembali memutar kuncinya. Namun, tetap saja, itu tidak berhasil.
Dasya mencabut kunci yang menyatu dengan pintu. Ia menutup satu matanya seraya membungkukkan diri sedikit. Ada kunci yang menggantung di lubang pintu. Yang artinya pintu juga dikunci dari luar.
"Ma? " teriak Dasya.
"Mama, di kamar aku?" tanya Dasya sambil memperhatikan pintu dihadapannya.
Dasya mencoba mengeraskan suaranya. "MA!"
"MA, AKU KE KUNCI DI DALAM!" teriaknya meminta bantuan jika benar Tasha berada di kamarnya.
"MA?" Kali ini Dasya menambah usahanya dengan menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"MA!" Lagi dan lagi Dasya berusaha memukul pintu kamar mandi hingga tangannya memerah.
Suaranya sampai serak. Ia menjadi haus karena terus saja berteriak. Jika saja handphonenya ia bawa ke dalam kamar mandi, pasti ia akan mudah untuk meminta mamanya untuk membuka pintu kamar mandi. Tetapi, kenyataannya Dasya meninggalkan handphonenya di nakas, yang berada dekat dengan kamar mandi.
Bagaimana ini, pikirnya. Ia tidak tahu sudah berapa menit ia di dalam kamar mandi. Ia harus bisa keluar demi melanjutkan audisinya. Ia harus bisa keluar demi cita-citanya.
Tiba-tiba pikirannya mengingat Disya. Gadis itu, gadis itu pasti yang mengunci dirinya.
"DISYA!"
"DISYAAA! Kamu, kan yang ngunci aku?" tanya Dasya.
Namun, hanya ada keheningan setelah Dasya berteriak. Tidak ada orang lain di kamarnya.
Hingga terlintas dipikirannya untuk mendobrak pintu kamar mandi. Meski tidak mungkin. Tangannya sudah pegal karena menggedor-gedor pintu, kini lengan dan bahunya harus bergerak membantunya.
"Aku harus berdiri diatas kakiku sendiri!" ucapnya dengan penuh tekad.
Dasya berusaha membuat pintu itu terbuka. Meski pintu itu terlihat begitu kokoh. Dasya tetap yakin jika ia bisa membukanya.
"Dasya!" Hingga suara Tasha menghampiri gendang telinganya. Ia tersenyum puas.
"Maaa, aku di dalam, aku ke kunci. Tolong aku, Ma!!" Teriakan penuh semangat itu terdengar jelas di pendengaran Tasha.
Tasha dengan tergesa-gesa berlari ke arah kamar mandi. Ia membuka pintu kamar mandi itu dengan cepat.
"Makasih, Ma!" Dasya memeluk Tasha dengan erat sebelum akhirnya ia bergegas mencari dress yang akan ia gunakan untuk mengikuti audisi.
Ia harus bisa masuk ke babak final dan mendapatkan juara agar dapat membahagiakan Sandi, Tasha, dan Mama kandungnya.
"Ma, aku mau ganti baju. Bisa Mama-"
Dasya menghentikan ucapannya. Tasha langsung mengerti dirinya.
"Semangat!" Ucap Tasha dengan tangan yang mengepal ke atas.
Dasya menganggukkan kepalanya. Ia juga memberikan senyum terbaiknya pada Tasha. Dasya sudah tidak memikirkan jam berapa sekarang. Yang ia pikirkan sekarang, ia harus dandan dari rumah karna mungkin, ia tidak sempat didandani di sana.
Dasya memoles dirinya dengan sangat tipis. Setelah itu meraih tas kecil miliknya, berjalan mendekati rak sepatu. Lalu meraih handphonenya. Ia harus memesan ojol dari sekarang.
Gadis itu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia harap masih ada waktu. Untungnya ojol yang ia pesan sudah datang setelah Dasya keluar dari gerbang. Ia menaruh handphonenya di tas hitam yang ia bawa.
Di sepanjang jalan ia meminta pada Tuhan agar diberi kemudahan. Ia juga mencoba mengingat lirik lagu yang akan ia nyanyikan nanti. Handphonenya terus bergetar didalam tasnya. Namun, Dasya tetap fokus pada lirik lagunya.
Setelah tiba di tempat audisi. Ia berlari kecil. Ia membuka handphonenya, panggilan tak terjawab dari Shana membuatnya heran. Dasya menelpon Shana balik khawatir terjadi sesuatu pada Shana.
"Loh, Dasya?" Kaget salah satu kotestan.
"Kenapa?" tanya Dasya ketika melihat teman kontestannya itu bingung.
"Kamu bukannya ada di atas panggung?" tanya kontestan itu bingung.
"Apa?" Dasya langsung mematikan panggilan yang Shana belum angkat.
Dasya berdeham, karena suaranya yang serak.
"Di atas panggung?" tanya Dasya ulang.
"Iya. Emang juri udah selesai komentar?" tanyanya.
Dasya yang masih memegang handphone itu segera berlari ke atas panggung. Dasya melihat duplikat dirinya yang sedang berdiri di tengah-tengah panggung didampingi MC.
Ia segera berlari menghampiri Disya. "Aku Dasya yang asli." ucapnya.
Seketika penonton dan juri terkejut melihat kehadiran Dasya. Tak percaya jika mereka melihat dua Dasya sedang berdiri di atas panggung.
🥀
Makasih banyak buat kalian yang masih setia nunggu cerita ini.
Aku bersyukur punya kalian.
Jangan lupa vote and komen ya..
Supaya aku rajin up.
Makasih untuk semuanya❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Luceat
Подростковая литератураDasya berdiri di depan jendela dengan salah satu tangan yang menempel di jendela. Kepalanya sedikit terangkat, ia melihat langit yang di taburi dengan bintang. "Kali ini..aku pengen egois." Setetes air mata meluncur dengan cepat di pipi Dasya. Tak...
