Dasya berdiri di depan jendela dengan salah satu tangan yang menempel di jendela. Kepalanya sedikit terangkat, ia melihat langit yang di taburi dengan bintang.
"Kali ini..aku pengen egois."
Setetes air mata meluncur dengan cepat di pipi Dasya. Tak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sabtu pagi, Dasya sudah berada di dapur, ia membantu Tasha untuk membuat sarapan. Rupanya tadi malam, teman-teman Disya juga menginap.
"Abis itu kamu potong buah, ya? Mama mau ke pasar soalnya." ucap Tasha sambil mengusap kepala Dasya penuh sayang.
"TANTEEEE" Teriak Shana.
Dasya memegang pelipisnya sejenak, sepertinya gadis berwajah imut itu tidak punya akhlak sekali. Masih pagi ia sudah teriak-teriak.
Tasha menanggapi Shana dengan tertawa kecil. Hanya Shana yang sangat ceria di antara teman-teman anaknya.
"Kenapa, Na?" Tanya Tasha setelah mengakhiri tawanya.
Shana menunjuk dirinya sendiri."Biar aku aja yang ke pasar bareng Dasya."
"Emang kamu bisa nawar?" Ragu Tasha.
Shana melotot dengan mulut terbuka. " Aku jagonya, Tan."
Dasya tersenyum ketika melihat Tasha menyetujui ucapan Shana. Gadis itu langsung mencatat apa saja bahan yang ingin di beli dengan handphone di tangannya.
"Udah nyatetnya?" tanya Dasya yang kini sedang mencuci buah apel.