"Aku Dasya yang asli!" ucapnya.
"Izinkan aku bernyanyi." Lirih Dasya.
Beberapa juri menatap satu sama lain. Mereka sedang mempertimbangkan. Namun, petikan gitar terdengar. Raka berjalan menghampiri Dasya. Pemuda itu memberikan mic kepada Dasya dengan senyuman.
"Mulai aja."
Dasya menyanyikan lagu dessert. Namun, suara yang ia keluarkan tidak nyaman di dengar. Suara serak Dasya membuat dirinya kesusahan dalam bernyanyi.
Raka melihat Dasya yang menjadi gugup. Gadis itu sudah mengetahui ini akan berakhir.
"CUKUP!" Teriak salah satu juri.
"Penampilan kamu hari ini sangat buruk. Saya tidak tahu, dimana diantara kalian yang bernama Dasya. Yang jelas penampilan kalian sama-sama buruk. Dan satu hal lagi, jika kamu memang Dasya. Kenapa kamu telat? Kamu gak serius ikut audisi ini?" tanya juri itu bertubi-tubi.
Dasya tak memiliki keberanian untuk menjawab. Air matanya mulai terjatuh. Raka menggenggam tangan Dasya. Disya melihat itu. Betapa Raka berusaha menguatkan Dasya. Ia benci melihat adegan itu.
"Maaf, Dasya. Seharusnya kamu lebih menjaga kesehatan. Kamu tahukan, jika menyanyi juga butuh tubuh yang sehat serta suara yang baik agar terlihat semangat dalam menyampaikan setiap lirik." Komen juri dengan sanggul elegan di kepalanya.
"Dasya, hari ini saya salut sama kamu. Kamu tetap datang, kamu tetap berusaha melakukan yang terbaik. Tapi, maaf saya tidak bisa membantu kamu. Saya harus profesional." Setelah mengatakan itu, juri yang memakai jaket denim itu langsung menyalakan lampu merah.
Dasya menganggukkan kepalanya. Berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Ia memalingkan wajahnya ke samping. Berusaha kuat.
Dengan suara gemetar, ia membuka suara. "Kepada dewan juri, aku berterimakasih atas komentarnya."
Dasya berusaha menarik napas dengan hidung yang berair. "Kedepannya aku akan berusaha lebih baik lagi."
Dasya membungkukkan badannya. Rambutnya menjuntai ke bawah. Sungguh, wajahnya tidak dapat menyembunyikan kesedihannya.
Ia malu untuk mengangkat kepalanya lagi. Tiba-tiba beberapa kontestan memasuki panggung. Memeluk Dasya dan mengelus punggung Dasya. Memberi kekuatan pada Dasya agar tetap tegar. Namun, perlakuan seperti itu membuat tangisnya semakin deras.
Ia kini merasa dikasihani. Miris sekali. Otaknya langsung mengingat Sandi. Sandi akan memakinya. Ia gagal membuktikan bahwa ia bisa bersinar. Ia gagal membuktikan pada papanya jika ia bisa.
"Aku gagal"
"Gagal."
"Gagal."
Pikirannya pun kini seperti memakinya. Banyak sekali kata gagal hingga ia lupa. Jika dirinya masih berada diatas panggung.
Juri bersanggul itu maju. Ia menenangkan Dasya dengan mengelus bahu Dasya.
"Kamu hebat, Nak!"
"Kamu sudah bertahan sejauh ini! Itu buktinya kamu hebat!"
"Saya bangga sama kamu!"
"Ingat, Nak! Ini bukan kegagalan. Ini sebuah proses!" Juri itu terbawa suasana. Mulutnya berusaha kuat menahan isak. Juri itu pun berkaca-kaca.
"Tapi, Papa aku-" Dasya menghentikan ucapannya.
Bagaimana cara Dasya menjelaskannya. Jika Papanya tidak menyukai kegagalan ini. Papanya akan kembali menyalahkannya. Ia paham, jika ini bukan kesalahannya. Tapi, Sandi tidak akan mengerti jika ini sebuah proses. Sandi tidak akan mendengarkannya, dan akan memakinya. Dasya bersinar bukan hanya untuk cita-citanya, tetapi untuk mendapatkan kasih sayang dari Sandi juga. Namun, kini harapannya pupus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Luceat
Teen FictionDasya berdiri di depan jendela dengan salah satu tangan yang menempel di jendela. Kepalanya sedikit terangkat, ia melihat langit yang di taburi dengan bintang. "Kali ini..aku pengen egois." Setetes air mata meluncur dengan cepat di pipi Dasya. Tak...
