Raja membawa Luna ke sebuah apartemen. Ketika dia membukakan pintu, Luna dan Darel yang sejak tadi terus bergenggaman tangan masuk ke dalam. "Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara." Ujar Raja ketika Luna mengamati seisi apartemen itu.
Luna menganggukkan kepalanya pelan, dia masih saja mengamati sekitarnya hingga tatapannya berhenti di wajah Raja.
Sejak tadi, sejak Luna masuk ke mobil Raja, bahkan sejak Raja terkejut bukan main saat tahu Luna membawa kabur bocah laki-laki yang ada bersamanya, Luna sama sekali tidak terlalu menghiraukan mantan suaminya itu.
Yang ada di kepalanya hanya lah pergi sejauh mungkin dari Erick agar Erick tidak bisa menemukannya.
Akan tetapi, setelah Luna berada di sana dan memandang Raja, baru lah yang merasa tertegun.
Ini bukan kali pertama mereka bertemu sejak perceraian itu.
Beberapa waktu lalu, mereka sempat bertemu di hari pemakaman keluarganya. Tapi saat itu Luna tidak memiliki tenaga bahkan keinginan untuk bicara dan bertatap muka dengan siapa pun. Dan sekarang... Raja ada di hadapannya, membantunya kabur dan menyiapkan tempat tinggal untuk Luna.
Luna mengerjap kaku, mengulum bibirnya ragu. "Terima kasih."
"Aku nggak butuh ucapan terima kasih, aku cuma butuh penjelasan kamu." Raja mengangguk ke arah sofa. "Bisa kita bicarakan sekarang?"
Luna tak mengatakan apa pun, matanya hanya terus memandangi Raja dengan lekat. Lelaki itu tidak banyak berubah. Cara bicaranya, tatapannya, sikap dan gerak-geriknya, semua itu masih sama. Raja masih selalu memasang wajah muramnya yang tak bersahabat. Tatapan datarnya yang terkesan dingin, serta gestur tubuhnya yang santai dan tampak malas-malasan.
Yang berbeda adalah... apa yang Luna rasakan saat ini padanya.
"Gimana bisa kamu bawa kabur anak kecil ini." gumam Raja sedang matanya mengamati Darel dengan kernyitan aneh. Pasalnya, sebagai anak kecil yang tahu kalau dia sedang dibawa kabur oleh orang lain, Darel sama sekali tidak terlihat ketakutan.
"Tante," Darel menggoyangkan tautan jemari mereka, wajahnya menengadah memandang Luna. Dan ketika Luna menatapnya, Darel menanyakan sesuatu. "Orang ini ya, yang Tante bilang mirip sama aku? Yang suka nasi goreng pakai telur ceplok dan kecapnya yang banyak? Yang bikin Tante nangis setiap ka—" ketika Luna menutup mulut darel dengan telapak tangannya dan terlihat panik, Darel memasang wajah serta tatapan malasnya.
Luna mengerjap kaku, sesekali melirik Raja dengan lirikan gelisah. Dan Luna menemukan wajah terkejut Raja saat ini, membuat Luna merasa tak nyaman. "Darel," ujar Luna. "Tante mau bicara sebentar dengan Om Raja, kamu istirahat di kamar dulu, ya?"
Darel menepis telapak tangan Luna dari mulutnya. "Aku di sini aja."
"Tapi Tante sama Om Raja mau bicara."
"Aku nggak boleh dengar?"
Luna menggelengkan kepalanya pelan hingga Darel memutar bola matanya malas.
"Kenapa setiap kali orang dewasa bicara, anak kecil nggak boleh dengar." Gumamnya dengan rutukan kesal. Kemudian dia melirik Raja. "Kamarnya di mana?"
Raja kembali mengernyit. Tidak sopan sekali bocah menyebalkan ini, pikirnya. Dia bahkan tidak menggunakan panggilan Om ketika bertanya.
"Darel..." tegur Luna lembut. "Kalau bicara dengan orang dewasa itu harus sopan, sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Luna
Narrativa generalePasca perceraiannya, Luna memilih untuk menjauh dari segala hal yang berhubungan dengan mantan suaminya. Termasuk juga sahabat-sahabatnya. Luna hanya ingin melupakan, tidak lagi menoleh ke belakang sekalipun dia tahu jika dia tidak akan sembuh denga...
