CHAPTER 8 : Memancing Prahara

137K 7.2K 166
                                        

Langit pada sore ini terlihat lebih cerah, tidak seredup pagi tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langit pada sore ini terlihat lebih cerah, tidak seredup pagi tadi. Matahari mendadak tampak kala jam telah berputar melewati angka dua belas siang. Menyebarkan banyak cahaya yang seketika mencipta satu warna yang terlihat begitu menenangkan.

Langit biru pada dasarnya memang terlihat sangat indah. Gradasi yang dihasilkan seolah mampu menghadirkan keinginan hanya untuk menggenggamnya barang sejenak. Namun, semua hanya sia-sia kala kita bergerak untuk mendekatinya. Karena apa yang ada di sana hanya lah susunan gas dan udara yang membiaskan lebih banyak cahaya biru daripada cahaya merah matahari.

"Kamu itu seperti langit, indah namun tak bisa di genggam."

Begitulah perumpamaan Kenandra dengan langit yang dapat Gistara temukan.

Memiliki Kenandra merupakan hal terindah yang tidak pernah ia ingkari.

Dulu, ia pernah meminta kepada Tuhan agar lelaki itu adalah orang yang ia saksikan saat dirinya terbangun dari tidurnya. Menjadikan Kenandra sebagai pendamping dan penuntun di antara gelap dan mencekam dunia miliknya.

Mungkin juga dirinya lupa, mengapa ia tak meminta kepada Tuhan untuk memiliki hati Kenandra di dalam hidupnya. Beribu kali pun dirinya mencoba untuk meraih Kenandra, beribu kali pula suaminya menampik uluran darinya dan Kenandra tak akan pernah menyambut perasaan itu.

Sempat ku berpikir masih bermimpi
24/7 tanpa henti.

Matahari dan bulan saksinya
Ada rasa yang tak mau hilang
Aku takut sepi tapi yang lain tak berarti.

Katanya mimpiku 'kan terwujud
Mereka lupa tentang mimpi buruk
Tentang kata maaf, sayang aku harus pergi.

Sudah kuucap semua pinta
Sebelum ku memejamkan mata
Tapi selalu saja kamu tetap harus pergi.

Gistara bersenandung pelan, dengan suara sumbang ia melantunkan sebuah lagu berjudul rumpang milik Nadine Amizah. Beberapa bait lirik lagu ini entah mengapa tercipta seolah-olah sedang mengisahkan tentang dirinya. Mengenai kehilangan yang mendalam hingga rasanya teramat menyakitkan.

Seiring dengan bait-bait lagu itu selesai disenandungkan, aktivitasnya yang sedang menanam bunga anyelir dan lily putih juga hampir berakhir. Gistara berdiri, membersihkan telapak tangannya yang tampak kotor terkena pupuk dan juga tanah-tanah basah. Netranya memandang penuh rasa puas. Memindai satu-persatu bunga anyelir dan lily putih yang berdampingan dengan bunga seruni warna-warni milik Aruna.

Lalu, garis lengkung yang terlihat indah itu mulai tampak menghiasi wajah cantiknya. Berseri-seri tanpa tahu bahwa akan ada kesedihan yang mengintainya dalam beberapa waktu ke depan.

"Mbak, ini bunga seruni yang dibabat mau di taruh di mana?" Mang Diman-tukang kebun yang ditugaskan oleh Kenandra untuk menjaga kebun dan taman bunga di rumah ini bertanya dengan perasaan was-was.

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang