Gistara Prameswari mengira bahwa mencintai pria yang belum selesai dengan masa lalunya akan semudah seperti yang ia pikirkan. Namun, nyatanya tak sesimpel itu kala bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pernikahan mereka.
"Apa kamu nggak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi selepas hujan reda seharusnya suasana masih terasa sejuk. Dengan aroma lembab dari tanah yang masih meninggalkan bekas, juga pada dedaunan serunai yang masih basah. Dan seharusnya amarah itu tidak ada bila saja Gistara tak membuat satu saja kesalahan kepada mendiang Aruna.
Kepada hamparan seruni yang masih bermekaran, Kenandra menahan amarah kala netranya menangkap tumpukan serunai kering yang telah tercabut dengan akar-akarnya. Lalu membiarkannya mengering begitu saja seolah-olah ia tak memiliki arti apa-apa baginya.
Mang Diman yang menjadi pelaku utama pencabutan seruni atas keinginan nona muda pun hanya menundukkan kepalanya takut. Tak berani mendongak meski ia tahu bahwa Kenandra masih sibuk mengecek taman bunga milik mendiang kekasihnya. Yang sayangnya telah rusak oleh tingkah kekanakan dari istrinya sendiri.
“Saya sudah pernah mengatakannya, jangan berani-beraninya kalian merusak taman ini apalagi sampai mencabut sampai sebanyak itu. Apa kalian lupa?” hardiknya menatap Mang Diman kemudian berlanjut kepada dua asisten rumah tangganya yang sama ketakutannya seperti Mang Diman.
“Maafkan saya, Pak,” cicit Mang Diman dengan getar-getar suara yang terdengar jelas.
“Mas—ini semua salah aku!” Suara lantang itu berasal dari bibir Gistara. Dengan segenap keberanian yang tersisa ia mengakuinya. Meski selanjutnya hal yang ia hadapi adalah sorot terluka juga kekecewaan yang berpendar dari sepasang netra gelap milik Kenandra.
“A-aku yang meminta Mang Diman untuk mencabut beberapa tangkai bunga serunai. K-karena a-aku nggak suka sama bunga serunai itu,” lanjutnya dengan gegap suara yang tampak kentara.
Jawaban itu mendadak melukainya. Mengapa? Apa yang salah dari bunga seruni ini hingga Gistara tega mencabutnya lalu membiarkannya mengering begitu saja. Mengapa ia membenci pada tanaman yang bahkan keberadaannya tak pernah mengusik langkahnya sama sekali. “Kenapa? Apa yang salah dari bunga serunai ini, Gistara?” tanyanya lirih. Ia kecewa juga terluka atas apa yang telah dilakukan istrinya kepada satu-satunya peninggalan mendiang Aruna yang masih tersisa.
Kamu tahu, bagaimana rasanya saat kamu menyaksikan sorot penuh kekecewaan dari seseorang yang kamu cintai dan itu karena kamu? Ya... rasanya sesak. Teramat sesak. Dan ia tahu ia bersalah, ia menyesal. Demi Tuhan, Gistara menyesal.
Seharusnya ia bisa menahan keinginannya untuk menanam bunga kesukaannya meskipun dia ingin 'kan? Juga seharusnya ia bisa menahan diri dari rasa iri kepada seseorang yang bahkan keberadaannya telah tiada di dunia ini 'kan?
Apalagi taman itu adalah satu-satunya kenangan dari mendiang Aruna yang masih dapat suaminya temui kala sang pemilik hati telah pergi dan selamanya tidak akan kembali lagi ke sini. Hanya itu yang tersisa, dan mungkin itu juga yang menjadi alasan Kenandra untuk tetap hidup setelah kepergian separuh jiwanya tiga tahun yang lalu. Bunga seruni ini...adalah nyawa Kenandra, suaminya.
Terkutuklah Gistara... Apa yang kamu pikirkan saat itu? Lihatlah, gara-gara keegoisan kamu lelaki itu terluka. Suami kamu kecewa dan itu gara-gara kamu. “Maaf, Mas Kenandra. A-ku salah. Kamu bisa hukum aku sekarang,” ujarnya dengan suara parau yang syarat akan perasaan bersalah.