Gistara Prameswari mengira bahwa mencintai pria yang belum selesai dengan masa lalunya akan semudah seperti yang ia pikirkan. Namun, nyatanya tak sesimpel itu kala bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pernikahan mereka.
"Apa kamu nggak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kenandra tahu. Setelah ini ia akan dicerca. Mendapati sumpah serapah juga kalimat-kalimat ejekan sebab perlakuannya di masa lalu. Lalu, ketika sudah seperti ini apa yang bisa ia lakukan selain memohon juga meminta kepada sang pencipta? Merendahkan diri serendah-rendahnya lalu melangitkan harapan yang diam-diam tersemai di setiap hembus napas tiba.
Ia takut. Ia tak siap. Bahkan untuk sekedar membayangkannya saja ia tak mampu. Pada sajadah panjang yang terbentang. Kenandra meminta sebuah permohonan. Sebuah harapan yang kemudian ia langitkan. Entah sudah berapa lama ia hanya terdiam seperti ini. Memandang langit malam dari balik jendela kamar rawat milik Gistara. Sudah beberapa malam langit tampak begitu kelam. Tiada lintang yang bersinar. Tiada bulan yang berpendar. Semuanya seolah-olah sedang berduka. Lalu ia kembali merasakan gelisah. Dan akan selalu seperti ini.
“Tuhan... bolehkah aku meminta sekali lagi?”
Hembus napas panjang lantas terdengar. Kenandra memandang Gistara yang masih bertahan dalam tidur panjangnya. Sudah tiga hari mata itu tertutup rapat. Enggan terbuka seolah memang tak ingin.
"Ra..." Suara serak Kenandra terdengar menyakiti siapa pun yang mendengarnya. Sebab setiap kali ia ingin memanggil nama itu, ia seperti merasa ada sebuah beban besar yang menghimpit ruang-ruang dadanya. Rasanya sesak. Rasanya amat sakit.
"Aku punya sebuah cerita untuk kamu," katanya sembari tertawa. Tawa yang menguarkan duka.
"Kamu tahu? Ada suatu kejadian unik yang masih melekat kuat dalam ingatanku..." Kenandra mulai bercerita. Sedangkan ingatannya berkelana pada latar kejadian tujuh tahun yang lalu.
"Saat itu aku lagi makan siomay di taman kota. Aku lagi bolos kuliah kayaknya kalau nggak salah ingat. Soalnya habis berantem kecil-kecilan sama Papi..." Ia menjeda.
"Aku lagi makan siomay di taman kota bareng sama satu cewek pakai seragam SMP. Kita berdua aja pagi itu lagian jam sembilan pagi orang-orang banyak yang masih bekerja. Anak-anak sekolah masih pada belajar. Nah, si cewek SMP ini kayaknya bolos juga sih. Habis berantem kali ya karena waktu itu aku lihat rambutnya berantakan kayak habis dijambak gitu. Terus wajahnya juga kelihatan banget lagi nahan kesel," katanya lalu tertawa kecil. Sebab tampilan dan wajah anak SMP itu tampak begitu lucu di matanya.
"Pas lagi enak-enak makan eh datang Satpol PP mau nertibin lingkungan. Aku panik dong mana siomay-nya masih setengah porsi. Si anak SMP sama paniknya, dia malah baru makan beberapa suap."
"Keadaan chaos banget waktu itu, Ra. Para pedagang pada lari tunggang langgang sambil bawa dagangannya. Si abang-abang siomay juga udah lari duluan ninggalin kami bersama dua piring kacanya. Nah kalau aku sih sebenarnya aman-aman aja 'kan pakai baju bebas. Tapi waktu aku lihat si anak SMP ini wajahnya kayak mau nangis, aku jadi kasihan plus pengen ketawa ngakak pas lihat dia."
Kenandra tertawa lagi. "Tahu nggak apa yang bikin aku ketawa ngakak sebelum nolongin dia? Mukanya pas panik lucu banget. Masa jagoan habis berantem tapi takut satpol PP?" Kali ini Kenandra benar-benar tertawa. Bahkan ia sampai mengeluarkan air mata dari kedua bola matanya.