CHAPTER 30 : Sidang Kedua

171K 7.5K 431
                                        

Ini part-nya panjangggg bangettt...

Jadi pelan-pelan aja bacanya sambil spam-spam komentar marah-marah kalian itu ✊😚

Jadi pelan-pelan aja bacanya sambil spam-spam komentar marah-marah kalian itu ✊😚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Ra...”

“Gistara...”

Suara derap langkah kaki yang memburu terdengar menggema memenuhi ruang-ruang rapat. Hari masih terlalu pagi, matahari belum juga tampak. Angin-angin yang berdesir terasa lebih dingin daripada biasanya.

Langkahnya lantas terhenti, dipandanginya sudut-sudut rumah ini untuk sejenak. Semuanya masih tetap sama. Tak ada yang berubah, bahkan semua interiornya masih sama seperti yang ada di dalam ingatannya. Namun, tetap saja ingatan tentang malam itu akan selalu ada di dalam alam bawah sadarnya.

Ia takut ditinggal. Ia takut sendirian.

“Ken, pagi banget ke sini.” Suara papinya terdengar memecah lamunan. Pria berusia lima puluh enam tahun itu datang sembari membawa sebuah hand sprayer. Sepertinya habis memandikan para burung-burung kesayangan di samping rumah. Lalu sekali lagi Kenandra menyadari, hobi papinya masih tetap sama seperti dulu.

“Pi,” ujarnya lalu mengambil alih tangan papinya untuk mengucap salam.

Semalam selepas membereskan urusan tentang Dinantra, ia segera bergegas menuju pantai asuhan. Ingin menemui istrinya lalu memohon maaf sebab ia pernah menaruh prasangka kepadanya. Namun, jawaban dari Bu Anisah membuat jantungnya berdebar kencang.

Semalam ia berpikir, apa yang akan dilakukan oleh papinya setelah beliau mengetahui permasalahan rumah tangga mereka. Akankah beliau kecewa?

“Pi, kami—“

“Ayo ikut Papi. Ada yang mau Papi bicarakan sama kamu,” katanya. Lantas laki-laki paruh baya itu berlalu. Kemudian Kenandra menyusul tak lama setelahnya.

°°°

Aroma kopi santan menguar pekat melalui udara pagi. Asap-asap putih yang menggumpal di atasnya menjadi sekat yang memisahkan kedua pria berbeda usia itu. Sembari menunggu pagi sedikit menghangat, mereka memilih duduk di bawah gazebo kayu jati yang terletak pada ujung halaman.

“Gimana kabarmu, Ken?”

Pertanyaan barusan terasa seperti mengandung banyak hal. Seperti kerinduan yang diam-diam tersimpan lama dalam kenangan. Cara Adnan Mahesa memandang putranya adalah sesuatu yang tampak begitu meneduhkan. Tatapan seorang ayah yang penuh rasa bersalah, penyesalan, juga harapan bila saja waktu dapat kembali ke masa lalu.

“Baik, Pi. Papi bagaimana kabarnya?”

Adnan tersenyum, senyum yang begitu hangat. “Papi baik. Sejak pensiun Papi jadi sering berolahraga jadi badan terasa lebih sehat,” katanya.

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang