Gistara Prameswari mengira bahwa mencintai pria yang belum selesai dengan masa lalunya akan semudah seperti yang ia pikirkan. Namun, nyatanya tak sesimpel itu kala bayang-bayang masa lalu selalu datang menghantui pernikahan mereka.
"Apa kamu nggak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit-langit Jakarta tampak terang dengan semburat sinar yang berpendar mengelilingi seluruh penjuru kota. Angin siang rupanya berdesir lebih tenang, namun tetap saja ia masih mampu menerbangkan daun-daun angsana mengikuti terpaan. Bunga-bunganya tampak bermekaran, menambah kesan indah dengan warna kuning dan merah muda menyebar memenuhi ranting-ranting pohon. Sebagian juga ada yang gugur, berjatuhan pada tepian di sepanjang jalan yang berada di dekat kafe.
Gistara Prameswari, gadis pencinta kopi dan juga senja. Biasanya ia akan berada di sini ketika senja datang, sembari menatap guguran angsana dan segelas kopi dingin dari rooftop kafe yang berada di lantai dua. Tidak ada yang ia lakukan, ia hanya membaca buku-buku yang dibelinya di toko buku seberang jalan.
Jangan berharap lebih kepada Gistara bahwa ia akan membaca buku-buku yang berbobot seperti buku-buku yang mengandung nilai-nilai kehidupan, karena nyatanya ia menyukai karya fiksi dari beberapa pengarang yang menjadi favoritnya. Seperti anak muda pada umumnya, ia menjadikan fiksi itu sebagai bahan haluan kala kisah cintanya tak semulus cerita novel.
Sudah lima belas menit ia berada di sini. Menunggu kedatangan Hanina sembari menyeruput kopi dingin yang sayangnya sudah menyisakan jejak-jejak hitam pada mug putih itu.
Gistara mengangkat telapak tangannya ke udara. Sembari memanggil seorang pelayan, ia hendak meminta satu gelas kopi lagi, namun suara pria yang terdengar familier datang dari samping kanan tubuhnya.
“Jangan kebanyakan minum kopi. Tidak bagus untuk lambung,” katanya.
Gistara mengalihkan tatapannya kemudian. Menelisik raut wajah dari seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari tempatnya. Netranya menyipit, seolah-olah tengah berusaha untuk mengingat-ingat apakah mereka saling kenal satu sama lain atau tidak.
“Kita pernah bertemu,” katanya lagi. Dengan senyum manis yang tersemat pada sisi-sisi wajahnya.
“Praha. Di sana kita saling berkenalan.”
Ah!
“Ingat?”
Anggukan kentara dari Gistara menyambut pertanyaan yang terlontar terakhir kali.
Gistara tersenyum. Manis sekali. Yang kemudian mampu menebarkan kilau cahaya pada sepasang matanya yang berwarna cokelat.
Gadis yang indah. Bahkan binar mata miliknya terlihat menyala dengan Kilauan cahaya yang terlihat begitu menyesatkan.
“Narendra?”
“Betul. Panggil Naren saja, karena Narendra terlalu panjang.”
Kemudian tawa mereka menguar bersama-sama. Suara-suara itu menyatu di udara, menyebar indah hingga kembali terdengar kepada indera pendengaran milik Narendra.
“Gistara... Boleh aku memanggil kamu seperti itu?”
Tawa Gistara sudah mereda. Menyisakan senyuman yang melengkung indah pada garis-garis wajahnya. “Boleh.”