CHAPTER 29 : Menolak Bertemu

157K 7.4K 299
                                        

Dalam hidupnya, Gistara tidak pernah berpikir akan mendapatkan plot twist yang seperti ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dalam hidupnya, Gistara tidak pernah berpikir akan mendapatkan plot twist yang seperti ini. Setahunya, ia dan kakaknya dibesarkan di panti asuhan. Sebuah tempat yang tidak terlalu luas namun juga tidak terlalu sempit. Tempat yang cukup namun penuh kehangatan sebab suara canda dan tawa sering terdengar.

Lalu, ketika lulus SMA dia memutuskan keluar dari panti karena ia ingin menghidupi diri sendiri. Pontang-panting mencari pekerjaan asal uang itu halal. Entah menjadi seorang kasir di salah satu toko retail, SPG produk kecantikan, atau pun waiters rumah makan siap saji.

Semuanya pernah dilakukan sebab ijazah yang ia miliki hanya lah lulusan SMA biasa. Untuk menambah pundi-pundi penghasilan ia memanfaatkan bakatnya di bidang menulis novel. Tidak besar tapi cukup untuk menambah bayar kontrakan. Karena ia sadar namanya belum sebesar penulis-penulis novel yang namanya sering berseliweran di Gramedia atau toko buku online.

Kemudian, suatu hari sebuah pinangan datang kepadanya. Seorang laki-laki yang pernah dan masih dicintainya dalam diam datang menawarkan sebuah pernikahan untuknya. Sebuah pernikahan yang ia tahu hanya sebagai pelengkap sebab sejak awal Kenandra tak pernah menjanjikan kata cinta untuk dirinya.

Kepergian sang mantan kekasih yang kala itu heboh diberitakan oleh media-media televisi membuat Gistara sadar betapa lelaki itu masih mencintai wanita dari masa lalunya. Tiga belas tahun adalah waktu yang teramat panjang dan juga lama. Waktu di mana banyak hal dapat terjadi. Lalu, ketika mereka memutuskan untuk mengikat hubungan keduanya dalam ikatan yang sah, sang kekasih malah pergi menghadap sang pencipta. Meninggalkan luka yang selamanya akan terasa pedih sebab kisah mereka terpaksa diakhiri.

Di sini, Kenandra tidak sepenuhnya bersalah. Gistara mengakui itu.

Sebelum mereka memutuskan untuk melanjutkan pernikahan, Kenandra pernah bertanya kepadanya berkali-kali untuk memastikan satu hal.

“Saya tidak bisa menjanjikan sebuah perasaan untuk kamu, tapi saya bisa menjamin bahwa tidak akan ada perselingkuhan dalam pernikahan kita. Apa kamu sudah yakin untuk menerima saya?”

Kala itu, Kenandra bertanya. Di pinggiran danau yang airnya bermandikan cahaya senja. Tampak indah... Dan seperti itu lah bayangan Gistara ketika ia memantapkan hati untuk menerima pinangan Kenandra. Tidak apa tidak dicintai asal ia bisa bersama dengan lelaki yang ia puja secara diam-diam.

“Iya. Aku udah memikirkan semuanya,” jawabnya tanpa ragu. Entah benar-benar yakin atau hanya euforia saja.

“Saya akan memberikan waktu satu minggu agar kamu bisa memikirkan semuanya secara matang. Karena ketika kamu sudah menjawab iya, maka kamu harus siap dengan semua konsekuensinya.”

Namun sekali lagi, setelah satu minggu berlalu hatinya masih mengatakan hal yang sama. Ia yakin dan tidak akan terluka meski Kenandra tak akan membalas perasaan darinya.

Enam bulan berlalu, dan ia sendiri yang kemudian mengingkari.

Dia menyerah.

Dia pergi.

DESIDERIUM (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang